Home / NEWS / Keberhasilan NA di Bantaeng Hanya Pencitraan Semu

Keberhasilan NA di Bantaeng Hanya Pencitraan Semu

MAKASSAR,  KORANMAKASSARNEWS.COM – Kabupaten Bantaeng, seperti halnya daerah lain di Sulawesi Selatan, dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Perubahan itu tentu saja dinamis, ada yang perlahan, drastis bahkan siknifikan bagi kemajuan daerah itu. Namun bagi daerah otonom seperti Bantaeng, apalagi selama dipimpin ‘Prof Andalan’ Nurdin Abdullah sebagai bupati, perobahan itu tidaklah seperti yang dibayangkan selama ini. Bantaeng sejauh ini dipandang telah mengalami kemajuan pesat. Informasi ini terpublikasi hingga kesannya booming di berbagai media, cetak maupun elektronik, utamanya di media sosial (medsos).

Penasaran dan ingin tahu seperti apa sesungguhnya kemajuan yang ada, pada Jumat malam lalu (23/2) awak media ini kemudian tur jurnalistik melintasi bagian selatan Sulsel dengan melewati tiga kabupaten yakni Gowa, Takalar, Jeneponto, hingga tiba di Kabupaten Bantaeng. Kesan pertama yang muncul gambaran ibukota Bantaeng yang tampak rindang dengan pepohonan terutama di sepanjang jalan poros dan jalan dalam kota utamanya di pusat kota. Di jantung kota Bantaeng terdapat Pantai Seruni. Di sekitar pantai ini berdiri megah RSUD Prof Dr HM Anwar Makkatutu. Rumah sakit ini berlantai delapan. Juga tampak taman kota, lapangan serta pelataran kuliner.

Pemandangan sedap terlihat di malam hari karena kawasan sekitar Pantai Seruni menjadi taman hiburan rakyat dengan lampu hias yang bertengger di pohon. Suasananya ramai terutama setiap malam minggu tiba. Namun tidak jauh dari pelataran kuliner, masih di sekitar pesisir pantai, juga tampak pemukiman warga dengan usaha rumput laut mereka. Kondisi di lokasi ini masih tampak kumuh. Pemda Bantaeng semestinya membenahi ini karena jaraknya hanya sekitar 300 meter dari pusat keramaian taman hiburan rakyat kawasan Pantai Seruni. Sedang di bagian lain di dalam kota biasa saja.

Baca Juga : Bantah Klaim Tim NA, Begini Klarifikasi Sombayya Raja Ri Gowa

Tidak ada yang istimewa, bahkan bangunan gedung yang ada hampir tidak ada yang menonjol. Umumnya masih seperti biasa, sama halnya daerah lain yang belum sepenuhnya berkembang. Tidak tampak pusat pertokoan yang harusnya menjadi pusat sirkulasi perekomian untuk aktivitas ekonomi masyarakat disamping pasar.

Begitu pula pembangunan di sektor infrastruktur jalan. Masih ditemukan jalan di desa yang tidak tersentuh. Padahal desa tersebut sebenarnya tidak begitu jauh dari ibukota Bantaeng. Seperti di dusun Arakeke, Desa Mamampang. “Sudah 10 tahun pak jalan di dusun ini tidak diperbaiki, selalu dijanji. Kalau tidak dikerja ini jalan, kami dari masyarakat nanti akan tanami pisang,” ujar seorang warga yang ditemui di Arakeke, senin (26/2/18). Warga ini mengatakan, siapapun yang memperbaiki jalan tersebut maka warga dusun Arakeke akan mendukungnya sebagai cabup atau cagub. Demikian pula beberapa desa yang lain, mengalami kondisi yang hampir sama.

Yang ironis, di sektor investasi khususnya penanaman modal asing (PMA). Investasi pembangunan pabrik Smelter oleh PT Titan Mineral Utama (TMU) dan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia (HNAI) misalnya, sesuai catatan media ini, seharusnya sudah memulai produksi 2016 namun sampai sekarang belum beroperasi. Kru media ini mendatangi lokasi pembangunan pabrik Smelter di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA) di Botta Toa, Kecamatan Pajjukukang. Tiba di lokasi tampak petugas keamanan di Pos Penjagaan, terdiri dari polisi dan satpam. Petugas pos tidak membolehkan masuk.

Baca Juga : Keluarga Besar Sombaya Ri Gowa Bantah Klaim Dukung NA

“Hari senin baru boleh masuk karena seizin dengan pimpinan. Senin baru pimpinan masuk,” tutur seorang dari polisi seraya mengatakan belum ada kegiatan. Dari luar memang tampak tidak ada aktivitas. Namun warga sekitar yang ditemui mengatakan, pabrik smelter dimaksud belum beroperasi hingga sekarang. Kendala lain sesuai info warga masih menyisakan soal lahan yang belum diselesaikan.

PMA lain adalah pengolahan bahan baku ikan merah lewat proses surimi oleh PT Global Siput, perusahaan investasi asal Jepang. Perusahaan ini sudah tidak beroperasi sejak 2013. Namun perusahaan ini sudah sempat ekspor produknya ratusan ton ke Jepang sebelum gulung tikar. “Perusahaan ini sudah tidak beroperasi sejak 2013. Terkendala bahan bakunya. Alatnya yang digunakan juga sudah di bawah ke kantor di Makassar,” ketus seorang karyawan maintainance PT. GS yang memang tinggal seorang di gudang GS di Bantaeng, jumat lalu (23/2/18).

Perkebunan Strawberry yang selama ini dikembangkan di Kabupaten Bantaeng juga sudah tidak berproduksi dalam beberapa tahun ini. Sedang Kampung Jepang dengan sebutan ‘Bantaeng Ken’ tidak terkonsentrasi  sebagai kampung dalam satu lokasi. Berbeda dengan kampung Inggris di Kediri, memang terkonsentrasi. Tidak ada Kampung Jepang yang sebenarnya, hanya proses belajar-mengajar bahasa Jepang dengan mengambil tempat di kawasan Pantai Seruni. Identik dengan Benteng Fort Roterdam di Makassar dimana juga halamannya kerap digunakan untuk ajang latihan bercakap Inggris.

Menyoal agrowisata, rilnya tanaman buah yang dikembangkan tinggal strawberry dari sebelumnya juga ada buah apel  serta yang lain. Kini, untuk tanaman buah stroberi saja sudah lama tidak menghasilkan. Dan beberapa hal lain lagi yang kontraproduktif dengan informasi yang ada mengenai Bantaeng di bawah kepemimpinan Nurdin Abdullah. (TimLiput)

Check Also

Kebakaran Lagi, Lima Rumah Dilalap Api di Tallo

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com—Kebakaran terjadi lagi, kembali wilayah kelurahan Ujung Pandang Baru, Kecamatan Tallo kota Makassar dilalap …

Loading...