Home / OPINI / Gerakan Sejuta SMS Untuk Selfie

Gerakan Sejuta SMS Untuk Selfie

Catatan : Sipil Institute Jakarta

KORANMAKASSARNEWS.COM — Ketika menjalani rutinitas padat di ibu kota, tiba-tiba di whatshapp teman pengelola salah satu media online di Jakarta, katanya ada anak daerahnya dari Soppeng lolos audisi acara LIDA (Liga Dangdut) Indosiar. Seketika saya terkejut dan gembira membaca WA teman itu. Terkejut karena sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta belum pernah ada anak kampungku berhasil menyeruak menembus kompetisi ke ibu kota yang sangat kompetitif. Gembira karena ini kesempatan kota kelahiranku Soppeng bisa di kenal publik nusantara. Jangan hanya daerah Sengkang dikenal penghasil sarung sutra walaupun pada dasarnya benang sutranya dari daerah Soppeng, jangan banya daerah Sidrap tercatat datanya sebagai penghasil beras di Sulawesi Selatan, padahal berasnya banyak didatangkan dari daerah Soppeng.

Sampai di rumah seribu kata tanya menyelimuti pikiran tentang siapa sosok Selfi, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Karena itu ketika ada kesempatan melakukan perjalanan intelektual dan jurnalistik ke Soppeng, sekalian memanfaatkan waktu mencari informasi tentang sosok Selfi.

Petualangan jurnalistik saya di kampung khususnya di Cabenge dan Macanre menemukan banyak data menarik, mengharukan, dan samgat inspiratif tentang sosok seorang anak gadis remaja belia bernama Selfi. Menarik dan mengharukan, karena dibalik perjuangannya untuk mengharumkan dan mempromosikan daerah kelahirannya Soppeng, tetnyata tidak memiliki modal apa-apa selain kemampuan Selfi berdamai dengan ketidakberdayaan ekonomi orang tuanya. Tidak memiliki meja belajar untuk mendesain masa depannya, hampir tidak ada fasilitas layak di rumahnya bagi seorang anak gadis remaja yang punya mimpi besar membahagiakan orang tuanya, dan mengharumkan nama daerahnya. Selfi tidak pernah mengeluh orang tuanya sebagai tukang bemor (becak motor) yang kandatipun sudah bekerja keras seharian baru cukup untuk makan besok harinya. Justru ia terus memupuk dan membakar semangatnya untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan-Nya.

Dikatakan sangat inspiratif, karena Selfi adalah guru kehidupan yang wajib di contoh oleh anak-anak seusianya untuk tetap bermimpi dan berjuang ditengah ketidakberdayaan ekonomi orang tuanya. Dalam mencari dukungan Selfi hanya ditemani beberapa orang yang bersimpatik dengannya berkunjung dari penganting ke penganting menyumbangkan lagu meminta dukungan sms sebagai modal awal bertarung memenangkan kompetisi Liga Dangdut di Indosiar.

Baca Juga : Tina Harumkan Nama Batu-Batu Kabupaten Soppeng di Liga Dangdut Indonesia

Saya jadi teringat obrolan seorang teman yang bekerja sebagai Kabag Humas di salah satu daerah di Indonesia, katanya dalam beriklan mempromosikan potensi daerah di TV swasta nasional harus mengeluarkan dana sampai milliaran rupiah. Itu berarti ini kesempatan emas Pemerintah Daerah mempromosikan Soppeng keseluruh wilayah nusantara melalui TV swasta nasional secara gratis. Karena itu, Humas Pemerintah Daerah Soppeng harus memaksimalkan mendesain Selfi sebagai media promosi paling ampuh memperkenalkan daerah Soppeng secara nasional, regional, bahkan internasional, karena acara Liga Dangdut Indosiar ini mempunyai puluhan juta penggemar yang bisa diakses oleh negara-negara tetangga Asean.

Masih ada waktu yang tersisa, ayo Pemerintah Daerah Soppeng dan seluruh elemen masyarakat, mari kita lakukan gerakan moral “sejuta sms untuk Selfi”. Karena secara manajemen promosi, nilai promosi Selfi bisa mencapai milliaran rupiah dengan perhitungan Pemda Soppeng beriklan di TV swasta yang sekali tayang bisa ratusan juta. Lalu adilkah kita ketika hanya menghimbau masyarakat memberi dukungan sms yang nilainya mungkin 50.000. Sementara tanpa kita sadari Selfi si anak tukang bemor itu sudah memberi kontribusi nilai iklan milliaran rupiah ke daerah kelahirannya.

Sekali lagi masih ada waktu tersisa, ayo Pemerintah Daerah Soppeng berinvestasilah dengan mengkoordinir masyarakat melakukan gerakan moral “sejuta sms untuk Selfi”, karena promosi gratis daerah ini belum tentu dapat kesempatan lagi sepuluh tahun ke depan. Saatnya membuktikan pernyataan historis Imankawani kalau “tau acca tau Soppengnge” yang berimplikasi orang Soppeng dilahirkan menjadi pemenang. (*)

Check Also

CETAKLAH SAWAH DI KEPALAMU

Im Memoriam : Prof. Dr. Andi Mustari Pide, SH (Oleh : Ruslan Ismail Mage) MAKASSAR, …

Loading...