Home / SEJARAH / 6 Juli 1940 : Bandar Udara Kemayoran Diresmikan Pemerintah Hindia Belanda

6 Juli 1940 : Bandar Udara Kemayoran Diresmikan Pemerintah Hindia Belanda

KORANMAKASSARNEWS.COM — Bandar Udara Kemayoran dieja Bandar Oedara Kemajoran merupakan bandar udara pertama di Indonesia yang dibuka untuk penerbangan internasional. Landasan bandar udara ini dibangun pada tahun 1934 dan secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940. Namun sebenarnya mulai tanggal 6 Juli 1940 tercatat bandar udara ini sudah mulai beroperasi dimulai dengan pesawat pertama yang mendarat jenis DC-3 Dakota milik perusahaan penerbangan Hindia Belanda, KNILM (Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij) yang diterbangkan dari Lapangan Terbang Tjililitan. Tercatat pesawat ini beroperasi di Kemayoran sampai akhir beroperasi.

Bandar udara yang dahulu terkenal dengan nama Kemajoran ini perlahan mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983 dan resmi berhenti beroperasi pada tanggal 31 Maret 1985 dengan dimulainya pemindahan aktivitas penerbangan ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta yang baru saja diresmikan.

Bandar udara ini memiliki dua landasan pacu yang bersilangan, yakni landasan pacu utara-selatan (17-35) dengan ukuran 2.475 x 45 meter dan landasan pacu barat-timur (08-26) dengan ukuran 1.850 x 30 meter.

Era Pemerintahan Belanda

Jauh sebelum didirikan bandar udara, daerah Kemayoran merupakan sebuah tanah yang dimiliki oleh Komandan VOC, Isaac de l’Ostal de Saint-Martin (1629–1696). Sekitar akhir abad ke-17, Issac memiliki tanah di Pulau Jawa yang meliputi daerah Kemayoran, Ancol, Krukut, dan Cinere. Nama “Mayoran” pertama muncul pada tahun 1816 di dalam iklan Java Government Gazette sebagai “tanah yang terletak di dekat Weltevreden, Batavia”. Setelah itu, daerah tersebut dikenal dengan sebutan “Kemayoran”. Hingga awal abad ke-20, daerah Kemayoran masih berupa rawa, areal persawahan, serta pemukiman penduduk. Kemudian pada tahun 1934, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah Bandar udara di daerah tersebut dan diresmikan pada tanggal 8 Juli 1940. Menjadikan Kemayoran sebagai Bandar Udara Internasional pertama di Indonesia. Pengelolaan Bandar udara ini oleh pemerintah Hindia Belanda dipercayakan kepada Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij sampai masa pendudukan Jepang.

Dua hari sebelum peresmiannya (6 Juli, 1940), pesawat pertama yang mendarat adalah DC-3 milik KNILM yang diterbangkan dari Lapangan Terbang Tjililitan. Pesawat sejenis, yakni DC-3 berregistrasi PK-AJW juga yang pertama bertolak dari Kemayoran menuju Australia, sehari kemudian.

Pada hari peresmiannya, KNILM menggelar beberapa pesawat miliknya, antara lain :

Douglas DC-2 Uiver
Douglas DC-3 Dakota
Fokker F.VIIb 3m
Grumman G-21 Goose
de Havilland DH-89 Dragon Rapide
Lockheed L-14 Super Electra.
Baru sekitar dua bulan kemudian KNILM mendatangkan pesawat baru, seperti :

Douglas DC-5
Sikorsky S-43 Baby Clipper.
Pameran Kedirgantaraan pertama juga diselenggarakan di Kemayoran, yaitu bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada tanggal 31 Agustus 1940. Selain pesawat milik KNILM, sejumlah pesawat-pesawat pribadi yang bernaung dalam Aeroclub di Batavia ikut meramaikannya. Pesawat-pesawat tersebut antara lain:

Buckmeister Bu-131 Jungmann
de Haviland DH-82 Tigermoth
Piper J-3 Cub
Walraven 2 yang pernah melakukan penerbangan Batavia – Amsterdam pada tanggal 27 September, 1935.
Pada masa itu, terjadi perang di Asia Pasifik yang mulai berkecamuk. Kemayoran digunakan untuk penerbangan pesawat-pesawat militer, walaupun aktivitas penerbangan komersial tetap berjalan. Pesawat-pesawat militer yang sempat singgah antara lain :

Martin B-10
Martin B-12
Koolhoven F.K.51
Brewster F2A Buffalo
Lockheed L-18 Lodestar
Curtiss P-36 Hawk
Fokker C.X
Boeing B-17 Flying Fortress.
Ketika perang semakin sengit, Kemayoran tak luput dari serangan pesawat-pesawat penyerang milik Angkatan Udara Kekaisaran Jepang. Pada tanggal 9 Februari 1942, dua DC-5, dua Brewster dan sebuah F.VII terkena serangan Jepang, memaksa KNILM mengungsikan pesawatnya ke Australia dan pada akhirnya Kemayoran berhasil diduduki oleh Angkatan Udara Kekaisaran Jepang.

Era Jepang

Pada bulan Maret 1942, Bandar udara ini mulai diambil alih oleh Kekaisaran Jepang. Pesawat-pesawat buatan Jepang yang pernah singgah di Kemayoran antara lain :

Mitsubishi A6M Zero
Showa/Nakajima L2D
Nakajima Ki-43 Hayabusa
Tachikawa Ki-9
Tachikawa Ki-36

Era Perang Kemerdekaan Indonesia

Setelah peristiwa Hiroshima dan Nagasaki yang memaksa Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, Bandar udara ini langsung diambil alih oleh Sekutu dan Nederlandsch Indië Civil Administratie karena pada saat itu pemerintah Indonesia berkedudukan di Yogyakarta. Kemudian Kemayoran mulai dihuni oleh pesawat-pesawat milik Sekutu seperti :

Supermarine Spitfire
North American B-25 Mitchell
North American P-51 Mustang.
Selain itu juga berdatangan pesawat-pesawat penumpang, di antaranya :

Douglas DC-4
C-54 Skymaster
Douglas DC-6
Boeing 377 Stratocruiser
Lockheed Constelation
Pada tanggal 1 Agustus 1947, Bandar Udara Internasional Kemayoran menjadi saksi lahirnya maskapai penerbangan KLM Interinsulair Bedrijf yang kemudian dinasionalisasikan menjadi maskapai penerbangan nasional pertama di Indonesia, yaitu Garuda Indonesian Airways.

Era Pemerintahan Indonesia

Pada tahun 1950-an setelah selesai perang kemerdekaan, pengelolaan penerbangan sipil dan pelabuhan udara langsung dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Baru pada tahun 1958 dikelola oleh Djawatan Penerbangan Sipil, yang sekarang lebih dikenal sebagai Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Antara tahun 1960 pengelolaan Kemayoran diserahkan kepada BUMN yang diberi nama Perusahaan Negara Angkasa Pura Kemayoran. Untuk ini, pemerintah menanam modal awal sebesar Rp 15 Juta Rupiah pada masa itu. Selanjutnya pemerintah menambah modal dengan mengalihkan bangunan terminal, bangunan penunjang lain, runway, taxiway, apron, hanggar dan peralatan operasional. Sampai akhir beroperasi pada tahun 1985 pengelolaan dilakukan oleh Perum Angkasa Pura I setelah berganti nama sesuai perkembangan.

Bandar Udara Internasional Kemayoran mengalami masa fase-fase bersejarah Indonesia dari masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga kemerdekaan Indonesia (Orde Lama, dan Orde Baru), terutama sekali di dunia penerbangan. Dari pesawat-pesawat sipil hingga pesawat militer mulai awal perkembangannya dengan bermesin piston, propeler hingga turbojet mendarat di sini. Misalkan tercatat pesawat jenis Fokker dari mulai Fokker F-VIIb-3 dengan mesin torak, Fokker Friendship dengan mesin turbo hingga Fokker F-28 yang bermesin jet mendarat di sini. Kemudian pesawat jenis DC-3 Dakota yang tercatat mendarat dan terbang dari sejak awal dan akhir dioperasikannya bandar udara ini. Serta hadirnya pesawat berbadan lebar generasi awal seperti Boeing 747 seri 200, DC-10 dan Airbus A-300.

Selain itu, beberapa peristiwa kelam juga mewarnai pengoperasian bandar udara ini. Antara lain pesawat Beechcraft yang kecelakaan ketika mendarat, kemudian Convair-340 yang mendarat tanpa roda, pesawat DC-3 Dakota yang terbakar dan pesawat DC-9 yang mengalami patah badan ketika mendarat di landasan. Kemudian pesawat Fokker F-27 yang ketika tinggal landas menukik dan membelok kebawah hingga hancur terbakar dalam penerbangan latihan. Tercatat pula pesawat yang tidak pernah kembali setelah lepas landas dari Kemayoran.

Kemayoran menjadi sibuk di era 1970-an, sehingga pemerintah untuk sementara waktu memindahkan penerbangan internasional ke Bandar Udara Halim Perdanakusuma pada tanggal 10 Januari 1974. Namun penerbangan domestik seluruhnya masih bertahan di Kemayoran. Kesibukan Kemayoran pada saat itu hanya ditandingi oleh Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Balikpapan, yang saat itu ramai dalam kegiatan pertambangan, perminyakan dan perkayuan.

menjelang pertengahan tahun 1970-an, Kemayoran dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat cepat, yang mengancam lalu lintas internasional. Hal itu yang kemudian pemerintah berencana untuk memindahkan aktivitas Bandar Udara ini ke Bandar Udara yang baru. Dengan bantuan USAID, dipilihlah Cengkareng sebagai lokasi Bandar Udara yang baru.

Sesuai dengan diresmikannya Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Bandar Udara Internasional Kemayoran perlahan mulai ditutup dan hingga akhirnya resmi berhenti beroperasi pada tanggal 31 Maret 1985 tepatnya pukul 00:00 WIB. Pada saat itu seluruh penumpang yang sudah boarding di Kemayoran langsung dibawa oleh bus menuju Soekarno-Hatta karena seluruh penerbangan dari Kemayoran sudah dipindahkan ke bandar udara tersebut. (sumber : wikipedia)

Check Also

14 November 1945 : Pemerintah Keluarkan Maklumat Tentang Peralihan Sistem Pemerintahan

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.COM — Setelah Pemerintah Indonesia mengalami tentangan dari Kelompok Oposisi di KNI-P karena kurang …

Loading...