Home / OPINI / Ketika Bumi Kaili diguncang Gempa dan Tsunami

Ketika Bumi Kaili diguncang Gempa dan Tsunami

KORANMAKASSARNEWS.COM — TANAH Kaili berguncang hebat. Penghujung September yang seharusnya membahagiakan sontak berubah menjadi kemurungan nan pekat. Gempa 7,7 SR yang disusul tsunami memporak-porandakan tanah kelahiranku, Jumat (28/9) tepat saat menyambut penyelenggaraan event tahunan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018 yang bertujuan mengungkap kembali kearifan budaya masa lalu yang sudah ratusan tahun tenggelam, dimunculkan kembali dibalut dengan kemasan atraksi seni pertunjukan yang mengangkat
kembali nilai-nilai kebudayaan yang arif dan luhur. Manusia berencana, tapi Tuhan berkehendak lain.
Pantai Talise yang begitu indah, tempat bermain dimasa kecil kini dirampas oleh alam secara paksa hingga
kenangan masa kecil saat berkumpul keluarga hilang bersama duka masyarakat Palu.
Ada apa dengan bumi Tadulako?

Selama ini kita seperti menutup mata, telinga dan hati. Tak bisa melihat jernih kenyataan yang terhampar
nyata di depan mata. Tak ada pemerataan, kenyamanan hanya milik segelintir orang, masyarakat hanya
menjadi komoditi untuk menjadi slogan politik bagi mereka yang ingin duduk di kursi kuasa.
Masyarakat Kaili yang mendiami sebagian besar Provinsi Sulawesi Tengah , khususnya wilayah Kabupaten
Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Palu seharusnya sudah lebih cerdas memilih panutan yang bisa
mengayomi agar kehidupan lebih maju memantau situasi dan kondisi perjalanan.

Hingga akhirnya teman-teman pun mengabarkan bahwa penjarahan dengan kekerasan terjadi diperbatasan antara Sulawesi Barat dan Tengah.

Semua mata menyaksikan bagaimana kita tak mampu diuji dengan kesempitan seperti musibah yang terjadi
di Palu, Sigi, Donggala dan sekitarnya. Masyarakat seperti kehilangan arah, pemerintah pun tak bisa
memberikan respon dan tindakan yang cepat, cerdas dan cekatan. Kelaparan, rasa ketakutan dan penjarahan
dengan kekerasan atas nama “bertahan hidup” terjadi di mana-mana. Ironisnya, bahkan relawan seperti aku
pun juga menjadi korban penjarahan dengan hunusan pedang.

Penjarahan di depan mata mulai dari awal terjadinya gempa dan tsunami hingga saat ini. Masyarakat luar
yang menonton TV terperanah melihat masyarakat di daerah bencana begitu anarkis. Sebagian pedagang
menggunakan momen ini untuk melipatgandakan harga agar mencari keuntungan yang besar disituasi yang
serba sulit. Masyarakat Sulawesi Tengah, mari kita berfikir dengan jernih. Kita semua adalah saudara. Kota
ini takkan maju tanpa peran investor dan pengusaha. Mari kita berikan ruang rasa aman agar mereka tetap
percaya bahwa bumi Kaili bukan milik segelintir orang. Tapi milik kita semua, tanpa harus membedakan
suku apalagi agama.

Trauma fisik dan psikis masyarakat yang menyaksikan orang dicintai hilang didepan mata. Harta yang dicari
sepanjang hidup, hilang dalam sekejap. Hilang arah , tak ada lagi harapan sebagai pegangan hidup. Tenaga
medis harus meluangkan waktu yang cukup lama ketika memeriksa pasien. Selain waktu yang dibutuhkan
untuk melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik, kami harus meluangkan sedikit waktu untuk
mendengarkan keluh kesah dan rintihan hati mereka. Sebagai tenaga medis disamping memberikan
pengobatan fisik kami juga harus memberi support secara psikis pada mereka.

Dalam situasi seperti ini kami bisa menyaksikan bahwa tangisan tak membedakan jenis kelamin, bahkan jeritan yang disertai air mata. Kami mendengarkan segala mimpi buruk yang terjadi dalam hidup mereka saat itu. Kami selalu mendengarkan duka mereka, karena itu bagian dari pengobatan. Kami harus bisa membantu secara
maksimal dalam kondisi keterbatasan fasiltas kesehatan yang ada pada saat itu. Bahkan tim medis di Sigi
harus minum cairan infus untuk bisa bertahan hidup.

Di posko kesehatan TNI AU yang berada di Jl. Dewi Sartika saya bertemu dengan seorang pensiunan yang
dulunya,satu instansi denganku, sontak saja memelukku dengan tangisan pilu pecah. Beliau mengantarkan
istrinya yang mengalami patah lengan kiri dan sudah 4 hari belum ditangani, dia juga menceritkan kisah
pilu kehilangan cucu dan semua harta benda yang dia miliki. Anak dari salah satu perawat yang membantu
kami di posko pun sampai pada saat ini tetap menjerit dan lari bersembunyi sambil menutup kedua mata
dan telinganya setiap gempa susulan terjadi. Selama 5 hari menjadi tim relawan medis, pasien datang tidak
hanya membawa luka fisik tetapi mereka juga membawa luka bathin mereka. Duka mereka adalah duka kita
juga.

Mereka tak butuh bantuan untuk dapat menggantikan harta benda dan sanak saudara yang hilang. Mereka
hanya ingin di dengarkan. Jadi pemerintah daerah jangan terlalu lama berada di balik singgasana dengan
alasan rapat dan lain-lain tanpa ada bukti yang nyata, kemudian tampil untuk berbicara di media
massa/media sosial. Stop berjualan program tanpa bukti nyata. Masyarakat Sulawesi Tengah sudah cerdas
saat ini. Jangan gunakan derita mereka untuk pencitraan.

Memilih pemimpin tak cukup hanya “terkenal” tapi latar belakang pendidikan sangat berpengaruh agar
pemimpin bisa berfikir logis, terstruktur dan paham skala prioritas. Musibah yang kita alami membuktikan
bahwa semua lini rapuh. Kita tidak kompak, tidak siap dalam segala aspek. Masyarakat yang butuh
dukungan dan penjelasan dibiarkan berhari-hari dalam ketidakpastian.

Masyarakat Sulteng, saatnya kita menyatukan hati. Mari memperlakukan siapa pun seperti saudara kita
sendiri. Jika itu diyakini dalam hati dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata, tidak ada lagi kekerasan
di bumi Kaili yang kita cintai. Jangan membiarkan rasa tamak menguasai diri hingga sanggup melakukan
penjarahan dan kekerasan. Jangan menjadikan situasi dan kondisi ini sebagai alasan untuk boleh melakukan
kejahatan.

Kepada pemerintah pusat dan daerah, cobalah duduk bersama masyarakat mencari solusi, bukan hanya
pencitraan di media massa/media sosial. Mungkin saat ini nyaman berada dibalik singgasana dengan
fasilitas negara. Tetapi Ingat, rakyat sudah cerdas mereka sudah bisa membedakan siapa yang mampu
bekerja dan siapa yang hanya beretorika semata. Para pemimpin, jangan tinggalkan rakyat dan segala
tanggungjawabmu.

Konsistensi adalah sikap ksatria seorang pejabat. Bagaimana mungkin bisa berubah-ubah memberikan
pernyataan, yang pada awalnya membolehkan mengambil bahan pangan di swalayan/minimarket lalu
berubah lagi mengatakan tidak ada pernyataan pemerintaah mengenai hal itu. Bagaimana bisa? Siapakah
yang mengada-ada ? rakyat atau pemerintah ?. Pemerintah jangan bersikap seolah-olah lupa jejak digital
media massa masih merekam semuanya. Pengusaha butuh jaminan, mereka menjerit dalam ketidakpastian.
Lagi-lagi ketidakadilan ditunjukkan di depan mata. Bagaimana mungkin swalayan milik mantan pejabat
bisa dijaga oleh aparat, sedangkan milik pengusaha lokal dibiarkan habis dijarah? Apakah ada bedanya
perlakuan hukum dan pelayanan publik terhadap status sosial?.

Masyarakat Kaili, Bugis, Makassar, Jawa, apapun suku dan agamamu mari kita bersama berpegangan
tangan, kita uraikan semua masalah hingga kita bisa menyelesaikan semua masalah yang sudah terlalu lama
itu bersama.

Bumi Kaili, 5 Oktober 2018, Budiansyah

Check Also

Asrul Ajak Bersolidaritas dan Kutuk Pembubaran Diskusi dan Demonstrasi Tolak Annual Meeting IMF-Word Bank

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Sejak 8-14 oktober 2018 terjadi agenda pertemuan tahunan IMF dan Word Bank …

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.