Home / OPINI / Asrul Ajak Bersolidaritas dan Kutuk Pembubaran Diskusi dan Demonstrasi Tolak Annual Meeting IMF-Word Bank
Muhammad Asrul, Sekjend EN-LMND

Asrul Ajak Bersolidaritas dan Kutuk Pembubaran Diskusi dan Demonstrasi Tolak Annual Meeting IMF-Word Bank

Muhammad Asrul, Sekjend EN-LMND

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Sejak 8-14 oktober 2018 terjadi agenda pertemuan tahunan IMF dan Word Bank di Bali. Pertemuan ini mendapat penolakan dari berbagai kelompok organisasi gerakan dengan membangun berbagai narasi lewat diskusi dan aksi demonstrasi sebagai antithesis dari pertemuan itu. Diskusi dan aksi demonstrasi ini mendapat pembubaran dari aparat kepolisian sebagai aparatur negara.

Demikian pernyataan sikap yang diungkapkan Sekretaris Jenderal Eksesutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN-LMND), Muh. Asrul, Jum’at (12/10/2018), menyikapi pebubaran aksi demontrasi dan diskusi tolak Annual Meeting IMF-Word Bank.

Menurutnya, pembubaran terhadap diskusi dan gerakan protes adalah sebuah pembungkaman atas demokrasi. Kebebasan menyampaikan pendapat diruang publik sudah menjadi hak bagi seluruh rakyat Indonesia yang diatur dalam UUD 1945. Apa yang menjadi cita-cita dan semangat reformasi dalam mewujudkan kebebasan berpendapat dan berserikat hari ini selalu direpresif oleh aparat kepolisian yang sejatinya sebagai pengayom dan pelindung rakyat bukan kembali anti terhadap protes-protes tersebut.

baca juga : Ketika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Telah Melenceng, LMND : Ganti Haluan Ekonomi

“Protes yang dilakukan oleh beberapa gerakan demokratik ini memiliki tujuan untuk kepentingan bangsa dan negara,” tegasnya.

Asrul menilai, IMF dan Word Bank sebagai lembaga PBB sejak dibentuk July 1944 di Bretton Amerika Serikat dengan tujuan membentuk kerangka pembangunan ekonomi yang lebih stabil di dunia serta mengentaskan kemiskinan. Hari ini di tengah-tengah krisis kapital dunia dan sejak bediri lembaga Bretton ini telah gagal memenuhi tujuannya. Bukannya membangun kestabilan dan kesetaran ekonomi global tetapi malah menyebabkan ketimpangan ekonomi global dan kemiskinan terhadap negara-negara berkembang.

Pembangunan ekonomi ala IMF dan Word Bank dengan mengedepankan liberalisasi ekonomi memaksa dan bahkan mendikte kepentingan ekonomi nasional bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Krisis ekonomi capital di belahan negara eropa dan Amerika memaksa lembaga ekonomi Bretton ini mencari alternatif ekonominya dengan menjadikan negara-negara berkembang sebagai penyedia bahan baku, tenaga kerja dan pasar komoditas bagi negara-negara kapitalis.

“IMF dan Word Bank telah gagal dalam memenuhi tujuannya dan hanya menciptakan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan dan eksploitasi,” tegasnya.

IMF dan Word Bank, lanjut asrul, bertolak belakang dengan semangat konstitusi dan dasar negara dalam penerapan liberalisasi ekonomi lewat liberalisasi investasi, perdagangan dan tenaga kerja. Proses liberalisasi ini menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian dalam budaya serta membuat kita selalu didikte oleh kepentingan negara-nagara imperialisme. Untuk itu tidak ada alasan bagi kekuatan-kekuatan demokratik untuk menerima pertemuan tahunan IMF dan Word Bank di Bali.

Terkait dengan itu LMND mendesak aparat kepolisian dan pemerintah agar tidak membungkam aktivitas gerakan dan menangkap para aktivis gerakan tetapi membukakan ruang seluas-luasnya dalam membangun narasi-narasi demi kepentingan bangsa dan negara.

“Aksi menentang dan menolak IMF dan Word Bank di Bali dalam semangat persatuan nasional anti imperialisme harus tetap diluaskan dan digalakan bagi seluruh kekuatan demokratik,” tandasnya.

(junaid ramadhan)

Check Also

Liberalisasi di Sektor pendidikan adalah Bagian dari Liberalisasi Ekonomi, LMND : Kembali ke Pasal 33 UUD 1945

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Sesuai dengan amanah UUD 1945, bahwa Pendidikan adalah hak segala bangsa: mencerdaskan …

Loading...