Home / OPINI / FOR KIRI : Apa Kabar Gerakan Mahasiswa Hari Ini

FOR KIRI : Apa Kabar Gerakan Mahasiswa Hari Ini

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com — Dalam setiap momentum penting di Indonesia, gerakan mahasiswa selalu benyumpangkan gagasan serta pikirannya. Tidak hanya sumbangan pikiran, mahasiswa juga ikut dalam proses perjuangan menuntaskan agenda-agenda kebangsaan yang dicita-citakan.

Tugas sejarah mahasiswa menuntut Mahasiswa untuk terus melakukan pergerakan. Melalui panggung-pangung yang diciptakan oleh mereka (Mahasiswa) sendiri. Di tahun 1928, sumpah pemuda menjadi satu tahapan sejarah yang memunculkan kebersatuan gerakan pemuda. Tentunya pemuda yang dimaksud adalah kalangan terpelajar yang dididik didalam proses pendidikan formal.

Demikian diungkapkan koordinator Forum Kajian Kritis (For Kiri) Syukrillah Sulaiman kepada koranmakassarnews.com, Kamis (25/10/2018).

baca juga :LMND Desak Ganti Haluan Ekonomi dan Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah dan Demokratis

Menurut Syukrillah, perjuangan yang sendiri-sendiri dan bersemangatkan sentimen kedaerahan di tahun-tahun sebelumnya mampu dipersatukan dengan ikrar sumpah pemuda. Kata kuncinya saat itu ialah bersatunya gagasan dan tujuan masing-masing jong  dalam kerangka memerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, lanjut Syukriilah, gerakan mahasiswa yang pada dasarnya memiliki ideologi dan pandangan politik yang berbeda-beda, dalam banyak hal terdikotomi dalam sekat sekat ideologis.

“Kelompok kiri menyatakan sikap anti imperialisme dan kelompok kanan meneriakan keantiannya terhadap ideologi komunisme. Pergulatan tersebut nyatanya membuat gerakan mahasiswa saat itu dimanfaatkan oleh situasi pergolakan politik partai dan elit politik hingga pada akhirnya berujung pada peristiwa 65,” katanya.

Syukrillah menilai, setelah Sukarno digantikan oleh Suharto dengan legitimasi  Supersemar, gerakan mahasiswa pun menikmati keuntungan dari keberhasilannya. Jalannya rezim suharto dengan paham pembangunanisme ala Suharto ini mewajibkan tidak eksisnya demokrasi. Terutama bagi gerakan mahasiswa yang kritis.

Namun dalam perjalanannya rezim tangan besi Suharto memberikan kesadaran akan mengubah kondisi kebangsaan saat itu. Apalagi ketika krisis ekonomi, gerakan pembebasan yang kemudian menyeruak kepermukaan. Munculah gagasan cabut dwi fungsi ABRI dan turunkan suharto melalui koran, selebaran, dan kampanye luas. Akhirnya Suharto pun turun tahta. Jatuhnya Orba bukan tanpa usaha, pengorbanan gerakan mahasiswa yang bersatupadu dengan people power (gerakan rakyat) menghadirkan fakta bahwa banyak pejuang demokrasi yang dihilangkan dan dibunuh oleh Orba.

“Hal yang dapat dipetik dari keberhasilan gerakan mahasiswa Indonesia sebelumnya adalah persatuan dan kesamaan pandangan tentang masalah yang dihadapi. Kesamaan tujuan dan pandangan ini seringkali dimulai dari diskusi-diskusi dan kampanye luas hingga rapat-rapat akbar dengan sesama kelompok mahasiswa juga rakyat,” jelasnya.

Syukrillah membeberkan beberapa kesimpulan tentang apa yang membedakan gerakan mahasiswa hari ini dengan di masa lalu.  Misalnya kondisi rejim yang otoritarian dan kesadaraan organik (istiliah gramsci) yang tumbuh dalam kesadaran intelektual organik (Mahasiswa) melalui diskusi-diskusi dan injeksi ideologi pembebasan.

Kemudian, perbedaan lainnya adalah  tentang metode gerakan yang dilakukan sebelum reformasi dan sebelum kemerdekaan Indonesia. Misalnya metode dalam penyebarluasan gagasan dan pandangan politiknya.

“Diera saat ini, hemat kami, gerakan mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan segmentasi audiens atau sasaran penyebarluasan gagasan perubahan. Apalagi di tengah kondisi hari ini ada perubahan signifikan dalam kondisi global yaitu revolusi teknologi informasi atau sering disebut dengan revolusi industri 4.0 yang menginjeksi kesadaran individual masyarakat Indonesia,” terangnya.

“Kondisi ini mengharuskan gerakan mahasiswa untuk lebih adaptif dalam menghadapinya,” tambahnya.

“Kalau di era sebelumnya penyebaran gagasan dan pandangan politik juga masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat dilakukan dengan cara konvensional seperti penyebaran selembaran dan kampanye luas, maka gerakan hari ini juga pastinya memiliki perbedaan dalam proses penyadaran terhadap rakyat atas situasi yang dihadapi,” tutupnya.

Atas perubahan yang sedang terjadi saat ini, maka For Kiri kemudian mengadakan kajian dialog lintas organisasi eksternal kampus dengan tujuan untuk menyatukan persepsi tentang kondisi rakyat Indonesia hari ini, bagaiamana metode kampanyenya, dan apa yang menjadi sebab turunnya eskalasi dan intensitas kritik terhadap kelumpuhan gerakan mahasiswa hari ini.

(junaid ramadhan)

 

Check Also

Liberalisasi di Sektor pendidikan adalah Bagian dari Liberalisasi Ekonomi, LMND : Kembali ke Pasal 33 UUD 1945

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Sesuai dengan amanah UUD 1945, bahwa Pendidikan adalah hak segala bangsa: mencerdaskan …

Loading...