Home / OPINI / Ketua Eksekutif Kota LMND Makassar Mengutuk Tindakan Represif Aparat Kepolisian
Muhammad Arifin Ode, Ketua Eksekutif Kota LMND Makassar

Ketua Eksekutif Kota LMND Makassar Mengutuk Tindakan Represif Aparat Kepolisian

Muhammad Arifin Ode, Ketua Eksekutif Kota LMND Makassar

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com — Tindakan aparat Kepolisian terhadap Aliansi BAKAR (Barisan Aktivis Keamanan Rakyat-LMND,GRD,PPM Sulsel, IMM Maktim,GMNI) dalam memperingati sumpah pemuda ke 90 tahun merupakan tindakan dehumanisasi. Jika alasannya hanya membakar ban, pantaskah dipukuli, diinjak, disiksa sampai mengalami bengkak, memar bahkan robek mengeluarkan darah?

Demikian diungkapkan Muhammad Arifin Ode, Ketua Eksekutif Kota LMND Makassar, menyikapi tindakan represif aparat Kepolisian saat menangani aksi aliansi BAKAR di Fly Over Jl. A.P. Pettarani Makassar, Senin (29/10/2018).

Aktivis yang akrab dipanggil Ary ini mengungkapkan bahwa, kejadian-kejadian brutal seperti ini bukan pertama kalinya dalam mengawal jalannya aksi demostrasi, tetapi sudah menjadi kebiasaan aparat Kepolisian.

baca juga : Peringati 90 Tahun Sumpah Pemuda LMND Gelar Aksi Serentak di 30 Kabupaten Kota Se-Indonesia

“Tentu hal ini tidak bisa dianggap sepele, apalagi marwah institusi yang dipikul sebagai pengayom, pelindung, pelayan masyarakat bisa tercederai. Selain melakukan tindakan represif, Kepolisian seakan tidak mempunyai varian lain dalam menangani massa aksi. Mindsheat seperti ini perlu diubah agar marwah intitusi mereka terjaga,” katanya.

 

“Perlu dikatahui bahwa 2 orang anggota LMND Makassar, Indra dan Syahrul, sampai saat ini mengalami kesakitan. Dahi dan pipi mereka mengalami pembengkakan. Belum lagi pada area-area tubuh yang lain. Selain itu kawan dari GRD, IMM Maktim dan GMNI menjadi sasaran kebrutalan ketika ditangkap,” beber Ary.

 

Menurutnya, sebenarnya grand issue yang diangkat dalam aliansi ini sangat objektif dan rasional serta merupakan solusi kebangsaan saat ini yaitu Ganti Haluan Ekonomi dan Stabilitaskan Negara serta Wujudkan Pendidikan yang Memanusiakan manusia.

 

Seharusnya ruang pemuda dalam berekspresi dibuka lebar-lebar karena kaum muda merupakan ujung tombak peradaban. Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa ditentukan oleh pemuda. Sejarah perkmbangan bangsa merupakan sejarah kaum muda.

 

“Dalam konteks bangsa Indonesia, terdapat pembuktian-pembuktian keterlibatan kaum muda dalam menulis sejarah. Pada Tahun 1928, 1945,1965 dan 1998 merupakan kejadian-kajadian sejarah besar untuk bangsa ini dan peristiwa besar tersebut tidak terlepas dari peran kaum muda,” jelasnya.

 

Ary juga mengutip ucapan Ir.Soekarno bahwa sejarah yang diwarisi ialah apinya bukan abunya. Peringatan Sumpah Pemuda ke 90 yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2018 merupakan momentum yang wajib diperingati, dalam bentuk apapun, selama hal tersebut sesuai dengan semangatnya, agar api sejarahnya tersebut terus hidup dalam pikiran dan sanubari pemuda-pemudi Indonesia.

 

Sebenarnya Ary berharap dalam momentum sumpah pemuda pada tahun 1928 itu, semua pemuda dari berbagia daerah di Hindia belanda sekarang Indonesia berkumpul dengan tujuan persatuan. Egosentrisme dihilangkan, sehingga menghasilkan ikrar satu tanah air, bahasa dan bangsa Indonesia serta momentum persatuan tersebut menjadi alat untuk menghancurkan Kolonialisme pada saat itu.

 

Ary melihat saat ini kita sedang mengadapi penjajahan gaya baru (Neo-kolonialisme) atau Neoliberalisme. Sistem Ekonomi kita selalu diterpa krisis 10 tahunan. Mulai dari 1998, 2008 dan 2018. Dampaknya ketimpangan sosial-ekonomi semakin menajam. Faktor-faktor seperti privatisasi terhadap kebutuhan dasar (Pendidikan, Kesehatan dll), pemotongan subsidi listrik, BBM, Gas Elpiji dan kenaikan harga serta penguasaan aset kepemilikan lahan, properti dan rekening yang terkosentrasi pada sebagian kecil orang saja. Apalagi negara tidak mempunyai bangunan industri nasional yang kokoh tentang pengolahan sumber daya alam hayati dan non hayati. Sehingga ekspor bahan mentah (ekstrivisme) dan watak dependensi terhadap negara lain terus dipertahankan seperti juga impor bahan baku, minyak-energi, pangan dll.

 

Belum lagi situasi politk negara yang sedang memanas. Terjadi polarisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjelang pemilu 2019. Sentimen Identitas (SARA) semakin menguat. Menjamurnya Hoax, ujaran kebencian tak terhindarkan. Sungguh fenomena yang sangat mengkhawatirkan. Bangunan Persatuan nasional kita sedang rapuh.

 

Disektor pendidikan yang seharusnya steril dari intervensi apapun dan menjadi tanggung jawab negara secara penuh sudah dikomersialkan. Pendidikan dianggap seperti barang dagangan (komoditas) yang bisa diperjual belikan. Sehingga terjadi disorientasi terhadap pendidikan.

 

“Pengetahuan dibangun tidak bertujuan untuk menyadarkan atau untuk menciptakan menusia yang memanusiakan manusia tetapi lebih kepada kepentingan profit dan pasar tenaga kerja,” tutupnya.

 

(junaid ramadhan)

Check Also

Opini : Mendukung Jokowi-Amin, Diantara Kepentingan Elektoral dan Membangun Kualitas Demokrasi

Oleh: Fajar Ahmad Huseini Ketua Umum Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulsel Ketua Umum Young …

Loading...