Home / OPINI / Sumpah Pemuda, Bagaimana Gerakan Mahasiswa Harus Bersumpah?
Abdul Gafur R. Sarabiti, S.I.P

Sumpah Pemuda, Bagaimana Gerakan Mahasiswa Harus Bersumpah?

Abdul Gafur R. Sarabiti, S.I.P

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com — Dalam gelora Sumpah Pemuda yang jatuh pada Minggu 28 Oktober 2018 kemarin, lini masa akun-akun sosial media kita dibanjiri oleh semangat simbolik para pengguna sosial media. Perayaan-perayaan itu meletus bagai kembang api yang memecah gelapnya malam.

Aktivis Mahasiswa dan yang seolah-olah merasa aktivis bahkan mereka yang paling merasa aktivis menyusun rangkaian kata-kata dan kalimat yang seindah bahkan seheroik-heroiknya demi melegitimasi eksistensinya sebagai mahasiswa yang menurut banyak orang adalah agen pembawa sekaligus pejuang narasi perubahan.

Dalam heroisme itu banyak di antara kaum milineal yang telah bermahkotakan predikat Mahasiswa mempertontonkan reaksi heroiknya dengan nada-nada yang maha tinggi dari segi bahasa dan analisanya masing-masing tentang ketimpangan ekonomi yang sangat tinggi di Indonesia di bawah kendali rezim Jokowi-JK.

baca juga : Peringati 90 Tahun Sumpah Pemuda LMND Gelar Aksi Serentak di 30 Kabupaten Kota Se-Indonesia

“Saya sebenarnya tidak sedang merasa diri paling aktivis, atau merasa anti milenial yang narsistis, tapi sebagai mantan Mahasiswa yang sebenarnya masih merasa diri sebagai mahasiswa, mengganggap ada soal yang lain yang perlu dijawab oleh kaum mahasiswa milenial,” ungkap Abdul Gafur R.Sarabiti dalam rilis opininya, Senin (29/10/2018).

Beberapa hari yang lalu, lanjut Gafur, saya sempat mengikuti sebuah acara dialog publik yang di gelar oleh sebuah organisasi pergerakan di kota Makassar, mungkin adalah sebuah prakondisi sekaligus ekspresi heroik menuju hari sumpah pemuda. Dialog yang diadakan disebuah Warkop di daerah Perintis Kemerdekaan itu bertajuk potret gerakan mahasiswa milenial. Dalam dialog yang di helat oleh sebuah organisasi gerakan yang tidak saya beberkan namanya dalam tulisan ini, berkahir dengan kesimpulan tentang gerakan mahasiswa milenal.

Di tengah perubahan perilaku sosial budaya dan ekonomi politik akhir-akhir ini setelah gelombang teknologi informasi menghempas pola kehidupan rakyat Indonesia tak terkecuali mahasiswa milenial yang paling heroik dijalanan sekalipun, ternyata mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam banyak kelompok tukang teriak di jalan-jalan di Makassar nyatanya masih belum bisa berenang saat gelombang revolusi teknologi informasi atau sering disebut dengan revolusi industri 4.0 itu menghampirinya.

“Kelompok tukang teriak yang biasanya memacetkan jalan dengan bakar ban bagi-bagi selebaran serta orasi-orasi pembebasan itu justru tenggelam karena tak bisa berenang saat tsunami teknologi informasi itu menyapanya,” katanya.

Gafur pun mengatakan bahwa dirinya bukan seorang yang anti demonstrasi atau demokrasi jalanan yang memacetkan jalanan. Karena baginya perjuangan untuk kesejahteraan orang banyak memang selalu memenjarakan hak pendemo di satu sisi dan pengguna jalan di sisi yang lain. Sukarno saja rela mati untuk bangsanya, apalagi tukang teriak milenial yang suka selfie?.

Kendati demikian Gafur menambahkan bahwa dirinya hanya merujuk pada keadaan dan kebiasaan sepertiga rakyat Indonesia yang melienal itu. Yang tidak sabaran dan cepat bosan plus tidak suka menghadapi macet di jalan.

Kembali ke cerita tentang kesimpulan dialog tadi. Ternyata, dalam kesimpulan dialog yang mengundang elit-elit tukang teriak atau mungkin raja teriak se mahasiswa makassar itu, faktanya menurut pengakuan mereka, kelompok tukang teriak di Makassar menyadari belum mampu memanfaatkan secara optimal ruang-ruang digital dan internet sebagai spiker mereka dalam mengampanyekan gagasan, konsep dan cita-citanya yang maha tinggi itu melalui media sosial yang digandrungi oleh kaum milenial. Bahkan sebagai milenial, mereka merasa menjadi asing di Kampus-kampusnya lantaran sangat berbeda dalam banyak hal dengan mayoritas kaum milenial di dalam Kampus yang tidak bekerja sebagai tukang teriak di jalan.

Dalam dialog itu juga terungkap fakta bahwa, selebaran-selebaran yang berisikan pernyataan sikap serta mimpi besar mereka yang maha tinggi itu kurang diterima bahkan hanya menjadi sampah bagi pengguna jalan. Yah.. karena alih-alih dibaca, selebaran itu justru menjadi sasaran kekesalan pengguna jalan saat macet menemani mereka selama beberapa menit bahkan berjam-jam.

“Sebelum lanjut, saya mau pertegas lagi. Saya bukan anti tukang teriak, karena sebenarnya kalau mau dipikir-pikir saya juga sebenarnya adalah tukang teriak. Saya masih hakul yakin dengan gerakan mahasiswa dan people power. Karena sejarah perubahan selalu dari teriakan dan kemarahan banyak orang yang sadar dan terorganisir dalam menuntut haknya,” tegas Gafur.

“Lagi-lagi tapi, fakta dari hasil dialog dan banyak juga dari pangelaman saya di lapangan saat berteriak, ternyata metode dalam menyampaikan pandangan politik konvensional ini mesti kombinasikan atau mungkin didahului dengan agenda-agenda digitalisasi dan internetisasi gagasan dengan memanfaatkan sosial media. Dan,mungkin dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi mahasiswa milenial yang kelewat batas bapernya ini,” Gafur menyimpulkan.

Memang, lanjutnya, dari kesimpulan dialog itu, gerakan mahasiswa sekarang ini tengah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, seperti mulai menggunakan pamflet dan video pendek, bahkan gambar-gambar karikatur yang menarik dan mudah dicerna dalam setiap kampanyenya tentang persoalan-persoalan yang di hadapi oleh rakyat luas.

“Mohon maaf saya agak kurang paham atau lebih tepatnya gaptek dengan istilah-istilah seperti video pendek dan gambar bergerak itu. Tapi semoga bisa dipahami. Tapi,memang perlu di eksplorasi dan dioptimalkan lagi,” akunya.

Sebagai mantan mahasiswa yang sebenarnya sekarang masih suka teriak di jalan, dirinya punya mimpi besar kepada gerakan mahasiswa. Dari kesimpulan-kesimpulan dan dari pengalaman yang dihadapinya dalam gerakan, masih banyak yang perlu dibenahi agar konsep dan pandangan politik yang selama ini sering ketika lafaskan dalam orasi dan yang selalu dikatakan sebagai bahasa kebenaran itu mesti tersalurkan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, agar tidak ditertawai bahkan dicaci maki oleh kelompok berbedak tebal, berlipstik tebal dan yang tukang nongkrong di cafe dan warkop sepajang malam hanya untuk main game online, atau bahkan dianggap kurang kerjaan oleh mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) dan mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat).

“Untuk menjaga ritme perjuangan dan semangat sumpah pemuda, ucapan penyemangat untuk kita semua, Bangun persatuan nasional, Hentikan Imperialisme,” pesannya.

(junaid ramadhan)

 

Check Also

Liberalisasi di Sektor pendidikan adalah Bagian dari Liberalisasi Ekonomi, LMND : Kembali ke Pasal 33 UUD 1945

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Sesuai dengan amanah UUD 1945, bahwa Pendidikan adalah hak segala bangsa: mencerdaskan …

Loading...