Home / SEJARAH / 8 November 1945 : Masyumi Mendeklarasikan Diri Menjadi Partai

8 November 1945 : Masyumi Mendeklarasikan Diri Menjadi Partai

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.COM– Dalam sejarah proses pembangunan politik di Indonesia, salah satu partai politiik yang berperan besar dalam proses pengukuhan identitas Islam di panggung politik Indonesia adalah partai Islam Masyumi. Selama kebearadaannya di Indonesia, Masyumi merupakan partai yang pernah terlibat dalam pemerintahan. karena kedudukan itu Masyumi turut menyertai asas politik Indonesia sekurang-kurangnya sampai tahun 1960.

Melalui Kongres yang pertamanya di Yogyakarta  pada 7-8 November 1945, Masyumi mendeklarasikan diri sebagai partai Politik dan bukan lagi organisasi yang menghimpun organisasi-organisasi Islam di Indonesia.  Partai ini dalam perkembangannya menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia. Partai yang dapat menyaingi partai besar lainnya  yang basis dasarnya berideologi Nasionalis (PNI), Komunis (PKI). Partai Masyumi dapat menghimpun berbagai organisasi Islam yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Organisasi-organisasi itu diantaranya turut bergabung juga NU (Nadhatul Ulama), Muhammadiyah, Perti, PSII dan lain sebagainya. berbagai organisasi Islam yang turut menggabungkan diri bersama masyumi maka semakin mewarnai percaturan politik yang ada di Indonesia

Masyumi memandang keterlibatannya secara langsung dalam kekuasaan negara sebagai suatu jalan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya. Melalui cara demikian-menurut Natsir sebagai salah satu tokoh Masyumi pada waktu itu, Islam bukan semata-mata religi, yaitu agama dalam pengertian ruhaniah saja. Islam mengatur hubungan antara manusia dan ALLAH, dan antara sesama manusia, Islam merupakan pedoman dan falsafah hidup yang tidak mengenal pemisahan antara agama dari politik. Oleh sebab itu, dalam masa revolusi umat Islam di Indonesia bukan saja dijiwai oleh aspirasi nasional, melainkan juga oleh aspirasi Islam.( Natsir.1951).

Baca juga : 7 November 1945 : Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) didirikan di Yogyakarta

Berdasarkan pandangan ini, Islam harus dijadikan asas dalam ideologi negara. Sayangnya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno menjelang Demokrasi Terpimpin dikukhkan, partai politik Islam seperti Masyumi dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang dapat menjadi ancaman dan harus dicurigai, karena alasan ini Presiden Soekarno selalu berusaha untuk melemahkan dan meminggirkan peranan Masyumi. Disamping Masyumi juga dianggap akan menghalangi proses pembangunan politik di Indonesia.

Dalam perjalanannya Masyumi sebagai partai politik banyak mengalami dinamika sampai bubarnya partai ini pada tahun 1960. Baik dari hubungan internal sendiri, maupun hubungan dengan partai lain dengan Presiden Soekarno. Hubungan Masyumi pernah mengalami hubungan yang harmonis dengan Presiden Soekarno, terutama pada masa revolusi. Namun lambat laun karena berbagai perbedaan dan tujuan arah dari kedua belah pihak, hubungan itu justru menimbulkan pergeseran hingga menjurus kepada konflik.

Di sisi lain, para pemimpin partai politik Islam Masyumi memandang negara dengan penuh curiga. Kecurigaan itu bersumber dari asas ideologi dan kerangka perlembagaan yang berbeda antara partai Islam dan negara yang memperjuangkan ideologi Pancasila. Dapatlah kita lihat disini ada sebuah persimpangan politik antara beberapa kelompok yang memperjuangkan Ideologi Pancasila dan beberapa kelompok yang menginginkan Ideologi Islam yang berlangsung disebuah negara yang sebahagian besar penduduknya beragam Islam.

Dari penjelasan yang telah dijelaskan diatas maka tulisan ini ingin megkatkan topik terkait persimpangan politik Partai Masyumi dalam pemerintahan di Indonesia dari tahun 1945-1960.

(sumber : http://mnabilkarim1.blogspot.co.id/2016/02/masyumi-dalam-persimpangan-politik-1945.html)

Check Also

13 Desember 1957 : Hari Nusantara (Deklarasi Djuanda)

KORANMAKASSARNEWS.COM — Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia …

Loading...