Home / INSPIRASI/BIOGRAFI / Daeng Lau : Penjara adalah Hakikat di Balik Ujian dari Kesulitan
Muchtar Daeng Lau

Daeng Lau : Penjara adalah Hakikat di Balik Ujian dari Kesulitan

Muchtar Daeng Lau

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com — Tak sedikit orang yang diuji dengan kesulitan dan kemalangan sebagai sebuah derita yang boleh jadi ujian dan kemalangan itu sebagai sebuah derita yang boleh jadi ujian dan kemalangan itu menjadi nikmat baginya.

Mengapa? Karena ketika dia bersabar atas ujian dan kemalangan yang dialaminya, maka dia mendapatkan pahala atasnya, bahkan boleh jadi penghalang baginya untuk tidak melakukan dosa dan dia mampu bermuhasabah, mengingat masalahnya yang suram dan menyedihkan.

Demikian diungkapkan seorang aktivis dakwah Sulsel, Muchtar Daeng Lau, menjawab pertanyaan berbagai kalangan yang ingin tahu apa yang mendorongnya menjadi penulis, saat launching buku keduanya yang berjudul Dari Penjara ke Dakwah, di Warkop Dottoro Jl. Boulevard Makassar, Kamis (27/12/2018).

Lebih lanjut Daeng Lau mengatakan bahwa, sebaliknya banyak orang diberi nikmat berupa kesenangan tetapi ternyata menjadi sebuah malapetaka baginya karena tak pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

baca juga : Dari Penjara ke Dakwah, Sebuah Pembuktian Cinta Muchtar Daeng Lau

Untuk itu Daeng Lau meminta dalam menghadapi kesusahan dan ujian hendaknya kita bersabar.

“Karena itulah, hendaknya kita bersabar dalam menghadapi kesusahan dan ujian karena bisa menjadi penyebab turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT. dan hendaklah bersyukur agar kita mendapatkan nikmat Allah. Kuncinya kita harus bersyukur,” katanya.

Sebaliknya, lanjut Daeng Lau, jika kita diuji dengan cobaan dan tantangan, maka kita pun harus banyak bersabar.

Menurut Dai yang murah senuyum ini, stigma buruk dan dinginnya ruang sel penjara yang telah dihuninya sekitar 5 tahun lantaran dirinya dikait-kaitkan dengan peristiwa Bom Makassar 2002, bukanlah sesuatu yang menjadikan dirinya kemudian tidak berbuat apa-apa yang bermanfaat.

“Bagi orang awam, penjara merupakan stigma buruk terhadap mantan Napi yang sebagian orang menilai sebagai sesuatu yang buruk dan kelam. Mereka berkeyakinan bahwa orang yang dipenjara itu, merupakan pelaku tindak kejahatan,” jelas Ketua Forim Umat Islam Bersatu (FUIB) Sulsel ini.

Menjawab pertanyaan tentang bagaimana pandangannya mengenai para Napi dan resedivis dikaitkan dengan prespektif hukum Negara, Dai yang juga piawai meracik bumbu untuk masakan yang berbahan baku daging hewan ini balik bertanya; “Apakah benar para Napi atau resedivis adalah penjahat dan rusak moralnya? Jawabnya, tentu saja tidak, karena tak semua orang masuk penjara karena dia adalah penjahat.

Lalu, apakah ketika mantan Napi keluar dari penjara dan menghirup udara bebas tak bisa menjadi baik dan bermanfaat lagi, karena sigma buruk yang telah dilekatkan padanya kemudian ia dikucilkan dari masyarakat?

Menurutnya, tak sedikit orang yang telah dipenjara bisa menjadi besar karena diantara mereka ada pejuang kebenaran.

Penjara baginya adalah sebuah inspirasi tentang ide-ide cemerlang, di mana dia mulai menulis buku pertamanya Sekelumit Hikmah Bom Makassar. Penjara tak selamanya menjadikan harga diri seseorang rendah di mata manusia. Penjara adalah sebuah pesantren ruhaniyah yang memiliki pengaruh amat besar bagi perkembangan dirinya.

Penjara sesungguhnya bukanlah sesuatu yang harus dihindari ataupun lari dari padanya. Penjara adalah takdir manusia sebagai bagian dari pergulatan hidup seseorang.

(junaid ramadhan)

Check Also

Mengenal Lebih Dekat Sekretaris Daerah Sulsel Abdul Hayat Gani

*Pribadi Disiplin dan Bicara Terus Terang MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.COM — Diiringi lagu daerah Toraja berjudul “Marendeng …

Loading...