Home / POLITIK / Diskusi IWO Sulsel : Ustaz Ije Berniat Maju Pilwali Makassar, Cicu Masih Pikir-pikir

Diskusi IWO Sulsel : Ustaz Ije Berniat Maju Pilwali Makassar, Cicu Masih Pikir-pikir

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.COM – Pemilihan Walikota atau Pilwali Makassar akan berlangsung 2020 atau kurang lebih sekitar setahun kedepan. Sejumlah tokoh politik pun mulai diwacanakan ke publik akan bertarung memperebutkan kursi kosong satu di kota Anging Mammiri ini.

HM Iqbal Djalil atau akrab disapa Ustaz Ije, Anggota DPRD Kota Makassar, adalah salah satu tokoh yang memastikan niatannya untuk bertarung dalam Pilwali Makassar nanti. Hal itu ia tegaskan saat menjadi narasumber dalam Diskusi Publik yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulawesi Selatan dalam rangkaian Festival Ramadhan 1440 Hijriah di Halaman Manggala Junction Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Minggu malam (26/5/2019).

Ustaz Ije menilai harus ada sosok baru yang muncul di Pilwali Makassar dan bisa memimpin dengan hati yang jernih disertai niat yang baik. Pendiri dan pemimpin Ponpes Darul Aman ini menilai dirinya bisa mewakili daerah Makassar Timur. Latar belakang sebagai santri juga menjadi modal utamanya dalam memimpin Makassar.

“Jangan lupa Makassar kan ini cermin Sulsel. Di Sulsel banyak potensi agama atau juga dikenal sebagai serambi Madinah. Nilai religius ini bisa kita jadikan ikon yang sejuk dan damai, jadi tak ada salahnya sosok santri dipercayakan memimpin Makassar,” ujar Ustaz Ije diikuti tepuk tangan peserta diskusi.

Legislator dua periode ini menolak wacana harus ada Rp 80 miliar untuk bertarung di Pilwali nanti. Justru yang harus ada adalah 80 moral. Karena baginya Makassar didiami mayoritas pemilih cerdas sehingga yang paling dibutuhkan adalah ide dan investasi sosial.

Diskusi yang mengangkat tema ‘Makassar Memperkuat Pembangunan Sulsel dan Nasional’ ini turut menghadirkan Legislator Sulsel terpilih dari Partai Nasdem Andi Rahmatika Dewi atau Cicu, Ketua Partai Berkarya sekaligus advokat Yusuf Gunco, dan Pengamat Politik Arqam Azikin. Adapun Sukriansyah S. Latif yang juga diundang panitia batal menghadiri diskusi.

Berbeda dengan Ije, Cicu mengaku masih mempertimbangkan untuk maju dalam Pilwali nanti. Ia memilih tetap melihat dinamika politik ke depannya. “Politik itu dinamis ji, semuanya bisa berubah. Kita lihat saja perkembangannya nanti,” ucap Cicu.

Tapi bagi Cicu, Makassar harus mempunyai pemimpin yang visioner kedepannya. Menurutnya, Makassar saat ini merupakan tempat persinggahan di Indonesia Timur. Sehingga kekurangan-kekurangan yang ada perlu disempurnakan seperti infrastruktur jalan, drainase, dan air bersih. Selain itu perekonomian yang saat ini, kata Cicu, di angka 7-8 persen perlu ditingkatkan lagi melalui pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Bertumbuhnya ekonomi bukan semata-mata karena pemerintah tapi juga ada andil masyarakat disitu. Sehingga pemerintah harus bisa memberikan perhatian kepada pelaku ekonomi kreatif,” tutur Cicu.

Yusuf Gunco fokus pada pentingnya pemerataan pembangunan di Makassar sesuai kebutuhan. Seperti di daerah Biringkanaya Tamalanrea masih perlu jalan, drainase, dan air bersih. Kemudian daerah Barombong lahan perumahan, serta beberapa daerah lain harus dibangun sesuai masterplan. “Kekurangan selama ini pembangunan tidak dijalankan sesuai masterplan,” kata Yugo.

Yugo menambahkan pemerintah kota juga harus mengaji kembali regulasi perizinan termasuk pajak untuk investor atau para pengembang lahan. “Barombong masih banyak lahan tapi pajak sangat tinggi jadi investor masih ragu kesana. Jadi kedepannya pengembang harus dibantu khususnya dalam perizinan dan perpajakan. Amanah saya juga siapapun nanti terpilih, hukum harus ditegakkan, kondisi sekarang hukum itu lebih di bawah dari politik,” jelas Yugo.

Adapun Arqam Azikin menilai kalau Makassar mau diperkuat maka harus dikroscek baik-baik calon pemimpin kedepan. Aturan birokrasi pemerintahan harus dijalankan dan tak boleh serampangan seperti mengurus perusahaan sendiri.

Dia mencontohkan pemerintahan Danny Pomanto yang dinilainya banyak blunder. Seperti halnya mutasi ASN di akhir jabatan dan pencopotan para camat. “Ini bisa jadi bola salju yang menggelinding dan dapat menghadang pak DP untuk terpilih kembali,” kata Arqam.

Dia juga mengkritik calon yang enggan berdialog dengan masyarakat dan hanya tampil lewat Baliho. “Kalau cuma pasang baliho tak cocok jadi pemimpin di Makassar. Kita juga mau tahu apa isi kepalanya. Jadi yang mau maju seriuslah, perbanyak dialog karena disitu ada masukan dan kritikan,” tutur Dosen Unismuh Makassar ini.

Arqam menyebut untuk Makassar ada tiga tokoh yang memiliki basis ril, yakni Ilham Arief Sirajuddin, Tamsil Linrung, dan klan Yasin Limpo. Basis selanjutnya masih diperebutkan calon pendatang baru.

Khusus Cicu, Arqam menyarankan untuk tidak usah maju dalam Pilwali. “Sayang kan kalau mau korbankan DPRD Sulsel hanya untuk Pilwali Makassar 2020. Itu merugikan etape politiknya di Sulsel. Kita ini butuh tokoh DPRD Sulsel seperti Cicu. Jadi kasitauki pimpinan Nasdem jangan mi kompai Cicu maju,” ujar Arqam diikuti tawa peserta diskusi.

Check Also

PP GPI Instruksikan Kadernya Diseluruh Indonesia Untuk Turun Jalan Mengawal Kedaulatan Rakyat

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.COM — Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (Sekjen PP GPI) Diko Nugraha …

Loading...