MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Kelurahan Kapasa Raya, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, menunjukkan hasil positif dalam menurunkan keluhan nyeri punggung bawah (low back pain).
Program yang berlangsung sejak Maret hingga September 2025 ini menerapkan terapi infra-red dan stretching exercise kepada penderita low back pain dengan hasil yang menggembirakan.
Low back pain merupakan salah satu penyebab utama kecacatan di seluruh dunia dan banyak dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, serta sosial. Di Indonesia, penyakit sendi—termasuk low back pain—mempunyai prevalensi nasional 7,30%, sementara di Sulawesi Selatan sebesar 6,39%, dan di Kota Makassar 6,04% . Angka ini menunjukkan bahwa meskipun relatif lebih rendah dari tingkat nasional, beban kasus di masyarakat tetap signifikan.
Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan intervensi fisioterapi berupa terapi infra-red dan latihan peregangan otot (stretching) sebanyak dua hingga empat kali atau sampai kondisi nyeri membaik.

Selain itu, warga juga diberikan edukasi tentang terapi non-farmakologis serta pelatihan bagi kader kesehatan agar dapat melakukan pendampingan dan monitoring secara mandiri di masyarakat.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri yang signifikan berdasarkan skala VAS (Visual Analog Scale) serta peningkatan kemampuan aktivitas harian peserta.
Kombinasi infra-red dan stretching terbukti memberikan efek sinergis—infra-red membantu meningkatkan sirkulasi darah dan relaksasi otot, sementara latihan peregangan menjaga fleksibilitas dan mencegah kekakuan sendi.
“Setelah dua kali terapi saja, sebagian besar peserta melaporkan nyerinya berkurang dan bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman,” ungkap H. Muh. Thahir, S.Ft., Physio., M.Kes, Ketua Tim Pengabdi dari Poltekkes Kemenkes Makassar, sabtu (4/10/25).
Sementara itu, anggota tim pengabdi Hj. Hasbiah, S.Ft., M.Adm.Kes menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya fokus pada aspek terapi, tetapi juga pemberdayaan kader kesehatan.
“Kami ingin agar masyarakat bisa mandiri—tidak hanya bergantung pada obat atau pijat tradisional, tetapi memahami bahwa latihan peregangan sederhana dan panas infra-merah bisa membantu banyak,” ujarnya.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya postur tubuh dan latihan mandiri sebagai upaya pencegahan low back pain. Tim juga berencana menindaklanjuti kegiatan ini melalui kelompok latihan komunitas dan publikasi ilmiah nasional agar manfaatnya dapat diperluas ke wilayah lain di Makassar.
Program ini diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat berbasis fisioterapi yang promotif dan preventif, serta berkontribusi pada penurunan angka kejadian low back pain di Makassar dan sekitarnya. (*)

