Home / OPINI / JOKOWI “MENGENTASKAN” POLITIK MISKIN GAGASAN

JOKOWI “MENGENTASKAN” POLITIK MISKIN GAGASAN

Oleh:
Fajar Ahmad Huseini
(Ketua Umum Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulsel / Ketua Umum
Young Celebes JKW2P)

Sebelumnya saya mau menyampaikan kenapa harus mengurai tema tulisan pendek ini. Pada malam acara setelah nobar debat kandidat Pemilihan Capres dan Cawapres (Kamis malam, 17/01/2019) di kota Makassar, saya melanjutkan diskusi santai soal-soal tema debat dengan kawan-kawan, karena luar biasanya suasananya dan kami menikmati betul malam itu hingga menjelang subuh.

Dalam diskusi santai (yang sebenarnya muatannya serius) kawan dan sekaligus sahabat saya Muhammad Fadli Noor ketua PSI Sulsel begitu memberikan inspirasi tentang pengalamannya semasa menjadi tenaga ahli mendampingi kepala daerah di Makassar. Kami saling men”trigger” pemikiran masing-masing pada diskusi kita malam itu mengenai “politik miskin gagasan”. Sehingga saya harus mengatakan kepada kawan-kawan sudah saatnya sistem demokrasi kita mengakomodir pemimpin muda seperti Fadli sahabat saya ini, yang punya idealisme, kecerdasan, dan terpenting punya pengalaman yang tahu persis persoalan krusial mengenai catatan timpangnya implementasi sistem kebijakan pemerintah kita, dan kemudian mampu memberikan solusi cerdas.

Menjadi wajib untuk berpolitik karena tanggung jawab pengetahuan dan moral dalam mengambil peran pada ruang kekuasaan, ketika itu dimungkinkan dan peluang itu ada. Jangan lagi kita sekedar jadi penonton atau pengamat, syukur-syukur kalau digaji besar sama kepala daerah seperti sahabat saya ini (hehehe).
Kembali ke topik, mengamati maraknya jualan klaim atas nama agama atau slogan populer lainnya, yang motifnya hanya untuk mendulang elektoral sebagai cara meraih kuasa, adalah persoalan krusial dalam proses demokrasi kita yang harus dikritisi secara serius.

Sebelumnya sekedar berbagi pengetahuan sejarah, dalam konteks historisnya secara etimologi dan artikulasi nilainya, bahwa istilah politik dalam peradaban demokrasi dibangun untuk menguji pembuktian cita-cita sampai di mana gagasan itu menjadi penentu tegaknya perbaikan sistem sosial dan hukum, kemudian bisa mengakomodir nilai keadilan, kesejahteraan, dan tonggak nilai kemanusiaan dalam realitas kemasyarakatan.

Relevan dengan itu mengutip ungkapkan salah seorang cendikiawan progresif Yudi Latif, bahwa kata “idiot” awalnya dalam masyarakat perdaban Yunani ketika tercetusnya istilah Demokrasi yang juga sinonim dengan makna kata Madani (Medinah) dalam peradaban Islam, ketika kosa kata itu pertama kalinya dimunculkan, bukan mengacu kepada orang yang terbelakang soal mental atau kecerdasan matematis, tetapi arti idiot sebenarnya dinisbahkan kepada orang-orang yang tidak mau perduli (baca: acuh tak acuh) dengan tanggung jawab sosial masyarakatnya dan hidup tanpa komitmen perjuangan untuk itu. Nanti setelah belakangan istilah idiot mengalami pergeseran arti secara umum seperti sekarang.

Berbicara soal “politik miskin gagasan” dalam membangun kualitas peradaban demokrasi, mungkin sah- sah saja kalau kita melihat istilah di atas, bisa jadi melebar maknanya meliputi para politisi yang tidak punya komitmen jelas, dalam bergelut di ruang sosio-politiknya. Karena konklusi sederhana yang bisa kita jabarkan, adalah bahwa mindset para politisi yang hanya terobsesi pada kekuasaan, pastinya tidak peduli apalagi berkomitmen untuk membangun perbaikan di masyarakatnya. Sehingga dapat dipastikan mereka akhirnya terlihat tidak punya konsep yang jelas dan terukur untuk bekerja sebagaimana tanggung jawab politik yang harus dipahaminya sebagai amanah untuk kerja, kerja, dan kerja (seperti kata Jokowi).

Dalam debat perdana Pilpres soal Hukum dan Ham kemarin masing-masing kandidat saling memberikan dasar argumentasinya, tapi tapi kemudian kita dipertontonkan hal yang sangat kontras dan terlihat jelas siapa kandidat yang tidak punya konsep konstruktif untuk visi misinya ketika berkuasa nantinya. Misalnya salah satu Capres pastinya akan “diperhadapkan” dengan kontradiksi realitas masalah lalu.
Menjadi penting untuk dilihat dan dicermati, karena salah satu kandidat atas dasar ini terbukti tidak memiliki komitmen atau dengan kata lain bahkan bagian yang punya andil kerusakan dari dosa masa lalu soal-soal Hukum dan HAM. Pastinya mustahil bagi kita untuk bisa memahami atau diyakinkan apakah kandidat itu bisa peduli dan berkomitmen untuk dua konteks tersebut?, satu kata yang bisa kita tegaskan mungkin yakni “idiot”.
Closing statement dengan mengacu kepada spirit landasan bukti periode pertamanya, dalam debat tersebut pak Jokowi akhirnya “mengentaskan” politik miskin gagasan yang selama ini menjerat negeri kita dari orde baru hingga pasca reformasi, karena budaya politik yang hanya terhenti pada soal perebutan “pundi-pundi” kekuasaan.

Jokowi berkata, kami tidak perlu banyak bicara, kami sudah paham persoalan bangsa dan tahu apa yang harus kami lakukan, kami tidak punya potongan diktator dan otoriter. Kami tidak punya rekam jejak pelanggaran HAM, kekerasan dan korupsi. Jokowi-Amin akan pertaruhkan jabatan dan menggunakan kewenangan yang kami miliki untuk memenangkan bangsa ini.
Sangat menarik uraian penutup pak Jokowi, seakan-akan menyentak semua pihak, bahwa tentang miskinnya komitmen dan porak-porandanya konstruksi mindset perpolitikan kita selama ini, dan tentunya konotasinya adalah berhentilah merusaknya. Karena substansi kerusakan itu adalah menghentikan bergulirnya roda “dosa masa lalu” di negeri ini. Kira-kira itulah yang saya tangkap maknanya dari statement penutup pak Jokowi tersebut.

Sebagai penutup pada uraian singkat ini ijinkan untuk mengutip ungkapan bijak Maula kami Imam Ali as yang mengatakan nasehatnya, “Pujilah orang yang pantas untuk mendapatkannya, karena kalau anda mendiamkannya itu pertanda hasut dan dengki, serta janganlah anda memuji orang yang tidak layak mendapatkannya, karena kalau anda memujinya itu pertanda anda adalah seorang penjilat”.

Check Also

Di Serang Berita Negatif, Caleg Bantaeng Ini Menempuh jalur Hukum

BANTAENG, KORANMAKASSARNEWS.com — Kabar negatif pada portal berita online Detik Kasus yang ditujukan kepada salah …

Loading...