Home / OPINI / KOMPROMI PRAGMATISME ATAU STRATEGIS

KOMPROMI PRAGMATISME ATAU STRATEGIS

(Sebuah Perspektif Pembacaan Tulisan Eko Sulystio, Deputi Politik dan Desiminasi Informasi Kantor Presiden)

Oleh:

Fajar Ahmad Huseini
(Ketua DPD Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulsel)

“Sabar tunggu sebentar lagi…” inilah cuwitan (Twitter) orang nomor satu di republik ini presiden terpilih kedua kalinya Bapak Ir. Joko Widodo, pesan ini memberikan sinyal bahwa memang respon publik Indonesia begitu sangat antusias menunggu susunan kabinet Presiden RI periode 2019 – 2024. Satu sisi situasional ini menjelaskan pertanda adanya harapan besar atas hasil proses demokrasi kita, sebagaimana catatan partisipasi publik dalam prosesi Pilpres baru-baru ini. Disaat yang sama pada sisi lainnya jika menatap sederetan dari kejadian hari-hari menjelang pelantikan begitu banyak muncul kejutan-kejutan, yang telah memantik beragam asumsi serta hiruk-pikuk tafsiran mulai dari yang begitu optimis, sinis, dan bahkan yang nyinyir juga tidak ketinggalan. Dan sepertinya kejutan itu akan menggelembung membesar hingga menit-menit terakhir saat pelantikan nanti.

Dalam membaca beberapa kejadian konsekuensinya jelas telah mengundang tanda tanya besar berkaitan suguhan tontonan “kemesraan yang sangat” antara pak Jokowi dengan para tokoh yang menjadi rivalnya dalam kontestasi Pilpres baru-baru ini. Pastinya telah memunculkan respon beragam dari koalisi partai pendukung, koalisi partai penantang, para pimpinan beserta relawan-relawannya, pengamat, dan juga tentunya reaksi publik tak mau ketinggalan yang begitu antusias dan menghangatkan situasi diskusi hingga ke warung-warung kopi.

Terlihat jelas dari beberapa hal yang telah dipotret media (tentunya setiap media punya muatan tendensinya masing-masing), bahwa suasana kebatinan praktek politik kita hari ini mengambarkan, ada yang sekedar “cengengesan” soal permintaan jatah menteri, yang sinis, hingga yang protes samar-samar maupun dengan cara blak-blakan.

Jelas apapun itu pastinya kalau boleh saya katakan, bahwa konklusinya telah memunculkan spekulasi dan pertanyaan sangat serius, apakah pembentukan arah komposisi kabinet presiden itu nantinya sekedar memenuhi legitimasi dukungan (pragmatisme) atau itu memang benar-benar berangkat dari pertimbangan tujuan arah strategis yang lebih kepada penekanan fungsionalnya untuk menentukan arah pembangunan yang lebih baik, sebagaimana slogan kampanye “Menuju Indonesia Maju”. Sambil kita bisa melihat beberapa paparan info dari media bocoran komposisi kabinet yang akan terbentuk sekitar 55% dari unsur profesional dan 45% dari Partai (entah ini dari gabungan partai pendukung dan partai penantang).

Terlepas dari definisi kalkulasi timbangan politisnya mengenai perbicangan dan debatebel soal problema siapa yang menjadi oposisi, bahwa pada prinsipnya opisisi itu tetap akan selalu bisa “termaknai” sebagai sebuah instrumen dan dengan sendirinya justru akan makin menguat komposisinya sebagai sebuah ruang kritik atau koreksi. Ketika misalnya pemerintah nantinya abai (semoga saja tidak) berkaitan dengan beberapa hal yang masih menjadi PR besar, sehubungan dengan masalah yang masih belum tersentuh atau perlu perbaikan lebih lanjut.

Misalnya kita sebut saja, soal problem meningkatnya catatan tindak intoleransi dan teror berbungkus agama, soal penyelesaian kasus HAM masa lalu, soal masyarakat adat atas akses hutan, monopoli “agraria” yang masih ekstrim, hingga soal-soal beberapa problem catatan ketidakadilan lainnya yang masih menjerat di masyarakat dan sebagainya.

Walaupun optimisme itu ada kalau melihat catatan sederetan prestasi dari kinerja kepimpinan pak Jokowi sejak 2014 lalu, yang bahkan tidak dimiliki atau tidak dilakukan presiden-presiden sebelumnya tapi harapannya jangan sampai ruang koreksi itu nantinya akan melemah. Sejatinya diharuskan ada jaminan “rasionalisasi komunikatif” yang menjadi tuntutan profesional dan moral setiap penyelenggara negara sehubungan atmosfir sistem demokrasi kita hingga di penghujung akhir jabatan 2024 nantinya, dan disetiap saatnya dalam dua puluh empat jam harus terus berdenyut. Singkatnya, pada poin di atas yang menjadi catatan pentingnya tentunya tanpa hoaks dan nyinyir di antara kita yang merupakan penyakit kronis dalam sistem demokrasi manapun.

Kalau meminjam istilah teknis sosiolog legendaris asal Jerman Jurgen Habermas, bahwa “rasionalisasi komunikatif” harus menjadi pondasi utama dalam pergerakan denyut sistem penyelenggaran kekuasaan karena esensi capaian kekuasaan dalam ruang demokratis tuntutannya bukan pada sekedar memakai “mahkota legitimasi belaka”. Tapi lebih kepada muatan mandat publik sebagai sebuah amanah kekuasaan itu sendiri, yang keberhasilannya sangat ditentukan oleh “komunikasi rasional yang bebas sensor, tanpa reduksi dan manipulatif”.

Kalau melihat paparan bocoran Eko Sulistyo Deputi Komunikasi Politik dan Desiminasi Informasi Kantor Presiden, yang beliau share di sosial media soal kabinet hari Jumat kemarin, bahwa secara garis besarnya susunan komposisi kabinet memang begitu menjanjikan karena titik tekannya pada fungsional strategisnya. Tapi yang mau saya tambahkan begini bahwa itu sifatnya masih sekedar deskriptif dan normatif belaka, informasi tersebut tidak bisa “disimplifikasi” atau disimpulkan begitu saja, karena begitu jelas alasannya bahwa hanya pada prosesnyalah nantinya yang akan menjawabnya. Perlu juga kita tambahkan di sini bahwa sangat patut diapresiasi paparan pak Eko Sulystio, paling tidak itu begitu menjanjikan dan tentunya bahwa optimisme itu ada.

Akhir kata, sehubungan menjelang detik-detik terakhir susunan kabinet diumumkan, sekali lagi bahwa OPTIMISME itu tetap ada bung, sebagaimana ungkapan bapak presiden Joko Widodo, “begitu banyaknya bertebaran putra-putri terbaik negeri ini dari berbagai latar belakang, yang pasti sangat mampu memberikan kontribusi terbaiknya untuk negeri ini Menuju Indonesia Maju, (sedikit perubahan redaksi, saya tidak hafal karena cuma lihat sepintas di TV). Serentak kita pasti menjawabnya”, “siap pak presiden, bapak tidak sendiri kami pasti bersama bapak untuk Menuju Indonesia Maju hingga di penghujung 2024 insha Allah”.

Check Also

Addatuang Sidenreng XXIV H Andi Patiroi Pawiccangi Daeng Makkita Sandang Gelar Anumerta MallinrungE ri Allekkuang

  Oleh : Omar Syarif (Pemerhati Budaya Sulawesi Selayan) Innalillah Wa Inna Ilaihi Rajiun, telah …

Loading...