Home / OPINI / KOTAK KOSONG Bayang-bayang Tak Bertuan

KOTAK KOSONG Bayang-bayang Tak Bertuan

Oleh : Anshar Manrulu, SE, kordinator Relawan Kotak Kososng (REWAKO)

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com — Jika ada Pilkada serentak tahun 2018 yang paling menyita perhatian publik, itu Pilwali di Makassar. Bukan cuma prosesnya yang berliku penuh drama dan menguras energi, tapi juga hasilnya. Ya, hasil yang memenangkan KOTAK/KOLOM KOSONG, membuat banyak orang tersentak, kaget. Pertama kali dalam sejarah di negeri ini, yang kisahnya mirip sinetron di Indonesia, selalu bahagia di akhir cerita.

Setelah melalui proses panjang. Saling serang, saling lapor dan gugat menggugat, akhirnya pilkada Makassar hanya diikuti satu pasangan calon, yang artinya melawan kotak kosong, karena satu pasangan lainnya digugurkan.

berita terkait : REWAKO : Jangan Main-main dengan Suara Rakyat Makassar

Ini sangat berbeda dengan Pilwali Makassar sebelumnya, yang tak pernah sepi dan kekurangan figur. Setidaknya itu yang terlihat dalam 10 tahun terakhir. Di 2008, diikuti 7 pasangan calon. Tahun 2013, pesertanya naik menjadi 10 pasangan calon. Yang sama dari Pilkada ke Pilkada adalah jumlah partisipasi pemilih yang terus menurun. Jika ditahun 2008, partisipasi pemilih sekitar 60%. Tahun 2013 menurun jadi 59%, dan tahun 2018, Golput nyaris mencapai angka 50%, ada sekitar 43% dari DPT tidak menggunakan hak pilihnya. Angka ini menunjukkan, bahwa dalam 15 tahun terakhir, tidak ada Kepala Daerah di Makassar yang benar-benar memegang mandat mayoritas dari rakyat.

Angka golput yang terus naik, tentu bukan persoalan teknis semata. Sosialisasi pemilih yang kurang atau undangan pemilih yang tdk sampai. Mengapa? Karena makin ke sini syarat memilih makin dipermudah, sosialisasi calon pemilih juga makin banyak dan mudah diakses.

Hal tersebut dipaparkan Anshar Manrulu, kordinator Relawan Kotak Kososng (REWAKO).

“Saya justru melihat, ini pesan dari rakyat, bahwa ditengah lautan pragmatisme, rakyat Makassar tetap menggunakan logikanya sendiri untuk menentukan memilih/tidak memilih dan mungkin mereka belum benar-benar menemukan figur yang dipercaya untuk menitipkan harapannya,” katanya Anshar

Kembali ke Pilkada Makassar 2018, lanjutnya, banyak yang bertanya, siapa tokoh di balik kemenangan kotak kosong? Pertanyaan ini gampang-gampang sulit untuk dijawab. Akan gampang bila cukup di jawab; “rakyat”. Tapi menjadi sulit kalau dikejar pertanyaan lanjutan, siapa yg mengerakkan mereka?

Memang tidak ada aktor tunggal yang memimpin, mengkordinasikan, atau mengarahkan massa di lapangan untuk memenangkan KOTAK KOSONG. Sebaliknya, tidak sedikit yang bergerak, mengambil bagian kerja tanpa diarahkan. Singkatnya, di tengah kebingungan menghadapi drama Pilwali Makassar 2018 lalu, rakyat dipimpin dan digerakkan oleh perasaannya yang marah bercampur kecewa, kemudian bertanya, What is to be done?

Ini yg membuat calon tunggal yang ada seperti dikepung dari banyak sisi, dikepung oleh bayangan yang dia ciptakan sendiri. Perlawanan datang bergelombang seperti ombak yang bergerak tanpa putus. Darimana kesadaran itu datang? Jawabnya, ada perasaan yang sama. Marah, kecewa, dan merasa diabaikan. Perasaan itu menyatu dan menemukan momentumnya di Pilwali Makassar 2018.

Di satu kawasan pemukiman menengah di Makassar, dalam satu diskusi lepas tentang kolom kosong, saya mendengar sendiri kalimat seperti ini; “Sebelumnya dari Pemilu ke Pemilu atau Pilkada ke Pilkada saya GOLPUT, tapi saya berjanji kali ini akan menggunakan hak pilihku, dan itu untuk KOTAK KOSONG, karena itu simbol yg mewakili perasaanku”. Begitu ucapan salah seorang dosen di UNHAS.

Di lain waktu, saya pernah menerima telepon dari orang yang sebelumnya tidak begitu dekat, yang meminta atribut dan alat peraga agar bisa ikut mensosialisasikan KOTAK KOSONG. Saat kutanyakan, siapa yang mengarahkan kalian? Jawabnya “ini keinginan sendiri, kami tidak mau ada yang merasa terlalu berkuasa dan kami merasa bangga bisa ikut mendukung kotak kosong”. Pikirku, ini sudah seperti suporter bola, mau mengorbankan waktu, tenaga dan uang demi mendukung tim kebanggaan.

Ada lagi cerita salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Pulau Sangkarrang, letaknya terpisah laut dari pusat Kota Makassar, sehingga harus menggunakan alat transportasi laut. Dia rela mengeluarkan ongkos, tanpa meminta imbalan apa-apa, hanya untuk mendapatkan atribut KOTAK KOSONG.

Partisipasi politik aktif rakyat, is possible.

Pergerakan kotak kosong sudah seperti bayang-bayang yang mengikuti kemanapun pesaingnya bergerak. Semakin dikepung, jumlahnya makin berlipat ganda, karena dia mewakili perasaan rakyat Makassar, menjadi tempat mengekspresikan perlawanan di lapangan elektoral.

Check Also

KOMPROMI PRAGMATISME ATAU STRATEGIS

(Sebuah Perspektif Pembacaan Tulisan Eko Sulystio, Deputi Politik dan Desiminasi Informasi Kantor Presiden) Oleh: Fajar …

Loading...