Home / OPINI / LKBHMI Gowa Raya Anggap Razia Buku di Gramedia Makassar Tindakan Primitif dan Prematur
Fajar Heri Nurcahyo, aktivis,LKBHMI Cabang Gowa Raya

LKBHMI Gowa Raya Anggap Razia Buku di Gramedia Makassar Tindakan Primitif dan Prematur

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.com — Razia buku yang dilakukan oleh beberapa pemuda di salah satu toko buku Gramedia di Makassar, Sabtu (3/8) menuai kritikan dari kalangan para aktivis kota Makassar karena dianggap sebagai tindakan primitif dan prematur.

Pasalnya tindakan tersebut, merupakan tindakan yang dilakukan tanpa mengetahui apa sebenarnya yang ditolak dari keberadaan buku-buku yang dianggap oleh beberapa orang pemuda, menyesatkan masyarakat kota makassar.

Razia Buku ini menimbulkan berbagai macam reaksi dan tanggapan dalam masyarakat. Salah satunya ialah Pengurus LKBHMI Gowa Raya, Fajar Nur, Minggu (4/8/2019) mengatakan, saya tidak tahu persis apa yang menjadi dasar pemikirannya sehingga mereka yang terlibat itu menolak keberadaan buku-buku bacaan yang menambah wawasan kita.

berita terkait : Tak Berizin, BPPA Bubarkan Acara Silaturahmi Jamaah Achmadiyah di Palantikang Gowa

Lanjutnya, kalau razia buku tersebut dilakukan hanya dengan berasumsi bahwa buku-buku (Marxisme, Leninisme dan sebagainya) semacam itu menyebarkan paham radikalisme sehingga berdampak pada hilangnya keakraban antar warga negara atau tersesatnya warga negara karena mengkonsumsi buku bacaan tersebut.

“Artinya, Presiden kita yang pertama (Ir. Soekarno) dan keempat (Abdurrahman Wahid) termasuk yang menyebarkan paham paham radikalisme,” cetusnya.

Soekarno misalnya, menulis buku tentang di Bawah Bendera Revolusi yang pada intinya, “pandangan dan pemikiran Soekarno sangat terpengaruh oleh paham Marxisme, terdorong rasa keprihatinannya akan nasib sebagian besar rakyat Indonesia yang adalah kaum proletar dan buruh jajahan asing dan kaum kapitalis.

Sedangkan, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) justru Presiden yang dianggap paling kontroversial karena mengusulkan pencabutan TAP MPRS No. XXV/1966 mengenai pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pelarangan penyebaran ajaran Marxisme/Leninisme serta komunisme di Indonesia.

“Terakhir, Saya sependapat dengan pemikiran Roy Murtadho dalam akhir tulisanya tentang “Iqra: Perintah Membaca dan Phobia Komunisme”, harusnya kita sebagai warga negara melihat pemikiran apapun, demikian juga paham paham ataupun ideologi, sebagai hasil eksperimen pemikiran dan praktik politik. pertama-tama haruslah diletakkan secara objektif sebagai pengetahuan yang wajib dipelajari sebelum menerima atau menolaknya,” ungkap Fajar Nur.

“Yang mengecewakan adalah ketika ada anjuran untuk menjauhi pemikiran tertentu, bahkan memusuhi pemikiran tertentu, tanpa mereka tahu apa isi dan kandungan yang mereka musuhi. Tanpa aktivitas Ilmiah maka warga negara hanya sekedar kumpulan masyarakat impulsif dan hysteria,” tutup Fajar Nur. (jaja/jun)

Check Also

Catatan dari Kawan Seperjuangan Arkilaus Baho Yamakam untuk Papua

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Ormas-ormas sektarian berhasil bikin radikalisme subur, ormas rasis bangkitkan rasisme subur, Nasionalisme …

Loading...