Home / OPINI / Opini : Mendukung Jokowi-Amin, Diantara Kepentingan Elektoral dan Membangun Kualitas Demokrasi

Opini : Mendukung Jokowi-Amin, Diantara Kepentingan Elektoral dan Membangun Kualitas Demokrasi

Oleh: Fajar Ahmad Huseini
Ketua Umum Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulsel
Ketua Umum Young Celebes JKW2P.

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.COM– Bagaimana seharusnya menentukan pilihan dalam ritual demokrasi kita setiap lima tahunan?, walaupun pertanyaannya singkat tapi tidak sederhana karena muatannya sangat kompleks untuk menjawabnya secara tepat, dan juga tentunya hal ini sangat prinsipil berkaitan nasib masa depan kita sebagai warga negara.

Diawal ini yang mau saya katakan adalah karena menjalankan hak dan kewajiban dalam ruang politik bukan sekedar “berpartisipasi” dari pengertian yang krisis nilai atau makna substantifnya, karena mungkin bisa saja yang terjadi karena memilih dianggap hanya “sekedar” menjalankan tuntutan konstitusional semata.

Pada konteks inilah biasanya sering muncul ketidakpedulian dan juga disaat yang sama akan menyentak nalar kritis sebagian dari kita. Problem meningkatnya atau menurunnya fenomena golput tentunya menjadi penting untuk menjadi subjek analisis terus- menerus sehubungan dengan praktek sistem perpolitikan kita tentunya.

Berkaitan dengan konteks ini ada yang sangat menarik, untuk mengomentari salah satu potongan argumentasi dalam acara sesi ILC, dengan tema Menjelang Debat Capres, Selasa malam, 15 Januari 2019.

Berkaitan kritik seorang narasumber yang tidak mewakili salah satu dari kedua kubu kandidat Capres-Cawapres, saya mau katakan bahwa itu adalah bentuk “sinisme” seorang peneliti/pengamat dari beberapa poin uraiannya, salah satunya contoh misalnya menyangkut soal-soal hukum dan ham, bahwa penilaiannya melakukan bentuk argumen yang “mendistorsi” atau “simpilfikasi persoalan” yang seharusnya dilihat secara konstruktif dan komprehensif/kompleks.

Misalnya salah satunya menyatakan “raport merah” proses legislasi nasional (Prolegnas) dengan pertimbangan minimnya produk undang-undang yang dihasilkan, dan kemudian dengan entengnya memberi konklusi justifikasi kepada kedua pasangan kandidat Capres-Cawapres yang makna konotasinya, bahwa keduanya sama saja yakni “tidak memiliki kapasitas kelayakan”.

Baca juga : Opini : “Dosa” Memenjarakan Narasi

Pada titik ini sangat jelas bisa dikatakan implikasinya akan berpotensi mengaburkan objektifitas dan ketidakadilan dalam membangun opini pada ruang publik kita. Muatan kritiknya memang secara spesifik cukup argumentatif, akan tetapi secara umum terjadi pengaburan dalam muatan kontekstualisasinya jika dilihat dari keseluruhan, menyangkut kapasitas dan bukti komitmen salah satu kandidat Capres yang ada.

Kritik di ruang sosial, hukum, dan ekonomi tentang kebijakan pemerintah kita ketika krisis itu terjadi, pastinya akan menjadi sangat tepat, akan tetapi kritik terhadap ketiga konteks realitas itu, ketika diarahkan kepada upaya pemerintah yang telah terbukti beranjak menuju perbaikan dan sekaligus ada beberapa sektor yang cukup signifikan perubahannya, atau dengan kata lain telah menciptakan prestasi yang luar biasa (yang sebelumnya belum pernah terjadi di republik ini), bisa jadi itu menjadi kekeliruan penilaian yang fatal.

Tentunya kita akan bertanya kembali pada mereka yang “dilabeli” para cendikiawan atau kaum intelektual, bahwa anda seharusnya objektif juga jangan sampai anda mengkhianati tanggung jawab moral intelektual itu sendiri.

Poin pesannya jangan terlalu asyik dengan menikmati konklusi kritik yang sifatnya parsial, karena jangan sampai kritik dan nyinyir sama muatan makna konotasinya walupun kosa kata itu berbeda denotasinya, kalau dilihat pada akhirnya pada perspektif utuh secara keseluruhan.

Kembali ke judul, pilihan untuk mendukung Jokowi-Amin mengharuskan kita disamping berfikir strategi penguatan elektoral, seharusnya para pendukung juga mampu menerjemahkan beberapa capaian dan prestasi pak Jokowi, disamping disaat yang sama mengklarifikasi berbagai serangan hoaks yang menyesatkan.

Misalnya, kriminalisasi ulama (anti Islam), soal tenaga kerja asing, divestasi Freeport, masalah hukum dan ham, dan yang lainnya. Yang terakhir yang sangat serius terindikasi bagaimana mengcounter adanya upaya membangun opini untuk mendelegitimasi penyelenggara pemilu dengan “menggaungkan isu adanya skenario kecurangan”.

Tentunya upaya ini bisa dimulai dari mana saja, baik pada ruang diskusi akademik yang serius hingga diskusi ringan warung kopi, diskusi ibu-ibu di pasar, diskusi santai segmen kaum millenial, atau apa saja dan di mana saja sesuai konteks tentunya.

Prestasi pak Jokowi sangat kasat mata, puja puji dari perspektif objektif datang dari mana saja, menyeruak dari dalam hingga luar negeri, akan tetapi disaat yang sama hoaks, nyinyir, dan sinisme juga pastinya ikut meramaikan. Inilah gambaran faktual suasana batin ruang demokrasi kita.

Kenapa memilih Jokowi-Amin?, karena Jokowi sudah terbukti sangat berprestasi walaupun ada beberapa catatan memang perlu pembenahan kembali, dan yang paling penting untuk kita ungkapkan juga, bahwa Pak Jokowi “bukan bagian dosa besar dari masa lalu”.

Selanjutnya di sini tidak perlu kita mengulangi kembali secara detail untuk menyebut satu persatu capaian itu, saking panjangnya deretan prestasi berdasarkan data yang disertai bentuk rasionalisasi yang sangat konstruktif dan mendalam, karena keterbatasan ruang dan tentunya keterbatasan kapasitas saya juga untuk mengulasnya semua di sini, apalagi misalnya soal-soal capaian prestasi catatan target ekonomi.

Dari uraian ini, poin pentingnya kita berkampanye dengan konsep dan gagasan cerdas, karena kekuatan berbasis data prestasi pasangan Capres kita. Modal kita sebenarnya sebagai relawan untuk berkontestasi dengan melihat fakta yang ada sangat luar biasa, ditambah lagi dengan optimisme ketika mengingat nalar kritis masyarakat kita. Saya pribadi sangat yakin bahwa masyarakat pastinya sudah semakin bijaksana, terbukti dari hasil fakta survey yang dirilis.

Selanjutnya berkaitan dengan proposisi narasi, bahwa pada konteks kepentingan penguatan elektoral di satu sisi dan tanggung jawab edukasi dalam membangun kualitas demokrasi di sisi lainnya pada akhirnya tidak terjadi dikotomi, inilah sekali lagi bentuk luar biasanya momentum starting point kita. Sejatinya kita patut untuk bersyukur karena berada dalam barisan pendukung Jokowi-Amin yang memang orang baik.

Karena kita berada dalam garis perjuangan politik kebhinnekaan yang makin tergerus karena praktek “politisasi agama” sejak pasca reformasi, yang berpotensi mengancam persatuan kita dikemudian hari. Dan pastinya bahwa timur Indonesia yang selama ini terbelakang dari segala aspeknya, akhirnya dapat bergandengan tangan sejajar dengan saudaranya di barat Indonesia dengan adil, sekali lagi yang sebelumnya tidak pernah terjadi di republik ini.
Akhirul kalam, mengutip ungkapan seorang pengamat Boni Hargens ketika membantah Rocky Gerung, ” SAYA TIDAK SUKA BERMAIN KATA SEPERTI ANDA, TAPI SAYA HARUS BICARA UNTUK MEMBANTAH ANDA, KARENA SAYA HARUS BICARA KEBENARAN”.

Check Also

Di Serang Berita Negatif, Caleg Bantaeng Ini Menempuh jalur Hukum

BANTAENG, KORANMAKASSARNEWS.com — Kabar negatif pada portal berita online Detik Kasus yang ditujukan kepada salah …

Loading...