Home / OPINI / Opini : Sampah Fashion

Opini : Sampah Fashion

KORANMAKASSARNEWS.COM — Mendekati lebaran, hampir semua pusat perbelanjaan penuh sesak manusia. Entah di pasar atau mall. Semua ingin memberikan penampilan yang terbaik di lebaran nanti. Sebuah eksistensi manusia untuk menunjukkan bahwa telah sukses dalam kehidupannya.

Entah sejak kapan trend membeli pakaian baru ini dimulai. Pastinya sejak saya masih kanak-kanak, trend ini sudah berlaku. Beruntung saja orangtua saya seorang penjahit. Tak susah-susah untuk membeli dan berdesak-desakan di pasar.

Namun, beda dulu dan sekarang dalam hal membeli baju baru. Dulu mayoritas orang akan membeli baju baru hanya ketika akan lebaran saja. Kini, tidak hanya akan lebaran. Apalagi dengan adanya belanja daring memudahkan kita membeli dan membeli beragam pakaian tanpa perlu beranjak dari tempat.

Menurut UN Environment, masyarakat modern saat ini membeli 60% pakaian lebih banyak dibandingkan 15 tahun yang lalu. Hingga muncul istilah Fast Fashion.

Bukan lagi perkara butuh. Tapi mengikuti trend. Atau menjaga gengsi semata. Pakaian yang dibeli bisa jadi hanya dipakai sekali saja. Bahkan karena membelinya tidak secara langsung, tak jarang mengendap di lemari tanpa pernah dipakai sama sekali lantaran tidak cocok atau ukuran yang tidak sesuai.

Lantas setelah lemari penuh sesak. Maka dibuanglah pakaian-pakaian itu. Menjadi sampah. Yang membuat sedih adalah bahan-bahan pakaian saat ini sebagian besar berbahan sintetis seperti polyester, vinyl dan nilon. Tentu kain berbahan sintetis ini membutuhkan masa yang lama untuk terurai.

Faktanya hampir 2% dari air yang terbuang adalah produksi dari industri fashion dan menyumbang 10% dari total emisi karbon. (Source: UN Environment (dari IG Zerowaste.id_official)).

Hal lain yang sering dilupakan bahwa semua harta yang kita miliki, termasuk pakaian tentunya akan dihisab nanti. Dipertanyakan berasal darimana dan dipergunakan untuk apa juga berakhir dimana.

Lebaran sejatinya bukan perkara pakaian baru, tetapi lebih kepada pribadi yang baru yang lebih baik dari sebelumnya. Sebelum Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan ini adalah tempat menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Marilah mengakhiri amalan-amalan di Ramadhan ini dengan amalan yang terbaik. Karena amalan itu bergantung pada akhirnya.

Semoga amalan-amalan kita di Ramadhan ini diterima ALLAH Subhanahu wata’ala dan kita termasuk yang mendapatkan Lailatul Qadarnya.

Pakaian baru? Saya pakai yang lama saja ? kamu?

Penulis : Cak Oyong (Pemerhati Lingkungan dari Jember)

baca juga : Prilaku Warga Jadi Diskusi Komunitas Bank Sampah di Festival IWO Sulsel

 

Check Also

212, Kemukjizatan Al Quran Era Modern

KORANMAKASSARNEWS.COM — Awalnya dicuekin oleh penguasa atas tuntutan ummat Islam karena penistaan Al Qur’an oleh …