Home / OPINI / Opini : Sehari Bersama Sastrawan Muda Kota Makassar

Opini : Sehari Bersama Sastrawan Muda Kota Makassar

Oleh : Ruslan Ismail Mage

KORANMAKASSARNEWS.COM — Ungkapan klasik mengatakan “jika seorang penulis dibimbing, orator dibina, maka seorang penyair dilahirkan”. Maksudnya menjadi penyair itu harus ada tetesan darah penyair dari kedua atau salah satu dari orang tuanya.

Di Makassar, ada seorang dokter muda yang bermetamorfosis menjadi seorang penyair lewat karya-karya verbal dan non-verbalnya. Ia tidak hanya mampu memukau publik kampus atas prestasinya menjadi mahasiswa teladan tingkat nasional, dan membuat pengajarnya di Fakultas Kedokteran Unhas berdecak kagum atas prestasi akademiknya, tapi juga mampu menyihir publik luas lewat karya-karya buku puisinya yang mendayu-dayu, menyentuh, dan sesekali menggelitik atau mencubit kehidupan.

Kalau cinta adalah puisi, maka karya jiwanya adalah nada-nada kasih yang melagukan simponi kedamaian. Inilah barisan huruf mengawali bahasa batinku dalam mengapresiasi “launching” buku seorang dokter muda di salah satu sudut kota Makassar yang semakin padat jejak langkah manusia. Saya menyebutnya ia dokter muda nan cantik yang selalu cerdas “menjual dirinya” (kreativitasnya) di tengah geliat pasar intelektual yang semakin mengglobal.

Adalah Iin Fadhilah Utami Tammasse, putri sulung dari sepasang akademisi Unhas mentasbihkan dirinya berbeda dengan teman seprofesinya. Dari pagi ke pagi, malam ke malam, hidupnya bergelimang nuansa dunia kesehatan sebagai dokter muda. Namun, ia selalu berupaya menjadikan dirinya punya sudut makna yang lain daripada yang lain. Di slot memorinya, selalu saja ada disisakan ruang untuk kreativitas seni. Literasi menjadi bagian penting yang tak pernah disepelekan. Ia akan mengutuk waktunya, jika 24 jam berlalu tanpa melakukan pegembaraan dalam dunia literasi. Kelopak matanya tak mampu terpejamkan sebelum berdialog secara imajiner dengan satrawan idolanya Khairil Anwar, siburung merak WS. Rednra, dan Tauifik Ismail.

Dalam hitungan saya, sudah tiga bukunya telah di “launch”. Buku pertama (2014) “Merangkul Salju di Negeri Mimpi” ditulisnya ketika mengikuti “student exchange” selama setahun di Swiss, buku kedua (2018) “Mahasiswa Tanpa Batas” yang ditulisnya bersama teman Mahasiswa Berprestasi Unhas, dan buku ketiganya (2019) “Jarak yang Kau Rayakan : Sehimpun Puisi”, merupakan curhat batinnya terhadap arti hidup dan kehidupan di dunia fana ini.

Hari Sabtu 29 Juni 2019 menjadi sebuah hari bermakna bagiku. Betapa tidak, di sela-sela saya ikut menghadiri acara Syukuran Ulang Tahun Maestro Puisi Indonesia, Taufiq Ismail, saya bertemu sastrawan muda asal Kota Daeng ini.

Selamat buat ananda Iin yang saya nilai sebagai dokter langka yang dimiliki republik ini. Masih bisa dihitung jari seorang tenaga medis yang punya talenta di bidang literasi karya sastra. Semoga Iin sang dokter muda dapat mengikuti jejak langkah Tqufiq Ismail, seorang Dokter Hewan, sekaligus seorang Sastrawan hebat negeri ini.

(Penulis adalah pengarang buku Ayat-Ayat Api, seorang inspirator dan penggerak kehidupan)

baca juga : Opini : Sampah Fashion

Check Also

Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan, Solusi atau Masalah?

MAKASSAR, KORANMAKASSARNEWS.COM– Kementerian Keuangan mengusulkan kenaikan iuran kepesertaan BPJS Kesehatan. Rinciannya, Kelas 1 Naik 100 …

Loading...