Home / OPINI / Sebagai Lumbung Investasi dan Eksploitasi SDA, Sulawesi adalah Lahan Investasi yang Menggiurkan

Sebagai Lumbung Investasi dan Eksploitasi SDA, Sulawesi adalah Lahan Investasi yang Menggiurkan

Oleh : Indah Abd.Razak (Ketua Umum EN-LMND)
            Muhammad Asrul (Sekretaris Jendral EN-LMND)

JAKARTA, KORANMAKASSARNEWS.com — Bumi, air, udara yang tergantung di dalamnya dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya diperuntukan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah khususnya dalam sektor pertambangan baik mineral maupun batubara.

Sejak zaman kolonialisme sampai sekarang puluhan perusahaan pertambangan sudah berdiri di republik ini. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan mendapatkan keleluasaan dari pemerintah untuk terus menerus mengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini dengan mengabaikan dampak yang dihadapin oleh masyarakat. Perusahaan hari demi hari terus mengakumulasi keuntungan, namun rakyat secara perlahan-lahan merasakan efek panjang dari perubahan ekosistem di sekitar lingkungan pertambangan.

Sulawesi sejak ditetapkan sebagai lumbung investasi dan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) dalam program MP3EI menjadikan Sulawesi sebagai lahan investasi yang menggiurkan bagi perusahaan yang mendapatkan dukungan dari Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sebagai lumbung investasi Sulawesi menjadi koridor ekonomi dengan fokus pada kegiatan-kegiatan ekonomi utama pertanian pangan, kakao, perikanan, nikel serta minyak dan gas.

Dari data BKPM tahun 2015, Sulawesi menjadi lokasi dengan pertumbuhan realisasi penanaman modal asing (PMA) terbesar di Indonesia dengan kenaikan 107,5 % diikuti Bali dan NTB. Sementara pertumbuhan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Sulawesi menempati posisi kedua terbesar dengan kenaikan pertumbuhan realisasi 357,9 % di bawah Papua yang mengalami kenaikan sebesar 448,6%.

Selain itu di tahun yang sama pertumbuhan ekonomi di Sulawesi terus mengalami peningkatan dan pertambangan menjadi sektor penopang sekaligus memberi sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi. Misalnya di Sulawesi Tengah sumbangsih pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 26,71 % dan Sulawesi Tenggara sebesar 11,29 % yang tidak lepas dari masuknya investasi untuk pembangunan smelter nikel dan beberapa perusahaan pertambangan.

Secara geografis Pulau Wawoni yang merupakan pulau kecil dengan luas 867,58 km2 atau 2/86.758 ha atau 1.51. Jika kita tinjau berdasarkan UU Nomor 1/2014 tentang Perencanaan Wilayah Pesisir dimana Pulau 3,98 km (daratan Wawoni) yang sesungguhnya tidak diprioritaskan bagi pertambangan karena sebagai pulau kecil kurang dari 2.000 km dilarang kegiatan penambangan pasir dan mineral pada wilayah teknis, ekologis, sosial dan budaya yang akan menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan serta merugikan masyarakat.

Selain itu data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011 disebutkan bahwa 28 pulau kecil di Indonesia tenggelam dan 24 pulau kecil terancam tenggelam. Kemudian, kajian Indeks Dampak Perubahan Iklim oleh Maplecroft, memperkirakan, 1.500 pulau kecil di Indonesia tenggelam pada 2050. Salah satu penyebab dari tenggelamnya pulau-pulau kecil di indonesia karena adanya bentuk dari kegiatan pertambangan.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Tenggara No 2 Tahun 2014 pasal 39 bahwa Kabupaten Konawe Kepualuan tidak diperuntukkan untuk kawasan pertambangan melainkan hanya di peruntukkan kawasan pertanian dan perikanan dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe Kepulauan tahun 2018 bahwa wilayah Konawe Kepulauan sangat rawan bencana longsor dan banjir yang terjadi setiap tahunnya.

Dalam pemberian 13 IUP perusahaan baik berupa izin eksplorasi (kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan) dan izin operasi produksi (kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan).

Daerah yang masuk IUP pertambangan di 6 Kecamatan yakni Wawonii Barat, Wawonii tengah, Wawonii selatan, Wawonii Timur, Wawonii Utara, Wawonii tenggara. Total luas lahan izin IUP seluas 23.373 Hektar atau 32.08% dari total luas daratan Kepulauan Wawonii 73.992 Hektar.

(junaid ramadhan)

Check Also

Opini : Sampah Fashion

KORANMAKASSARNEWS.COM — Mendekati lebaran, hampir semua pusat perbelanjaan penuh sesak manusia. Entah di pasar atau …

Loading...