Sedangkan para pemuda dari asrama Prapatan 10 ditugaskan untuk membujuk para petinggi pemerintah untuk berpidato di peristiwa di lapangan Ikada tersebut. Ketahui juga mengenai sejarah berdirinya tugu Monas yang berlokasi dekat bekas Lapangan Ikada.
Kabar yang beredar dari mulut ke mulut itu berhasil mengumpulkan ratusan orang yang menghadiri peristiwa lapangan Ikada. Pada awalnya rapat direncanakan untuk berlangsung pada tanggal 17 September 1945, tepat sebulan setelah kemerdekaan. Adanya ancaman dari tentara Jepang dan Sekutu membuat rapat diundur menjadi dua hari kemudian. Walaupun tentara Jepang telah melarang rapat raksasa tersebut, rakyat tetap datang dengan bersemangat dari berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya.
Sebagian besar peserta rapat datang menggunakan kereta api di Stasiun Gambir, membawa poster – poster dan bendera merah putih. Tentara Jepang berseragam melakukan penjagaan ketat sehingga suasana tegang serta mencekam, namun rakyat tidak gentar. Sebagian rakyat bahkan membawa senjata tajam seperti batu, bambu runcing dan keris.
Rakyat sabar menunggu sejak pagi hari sampai menjelang sore sambil menyanyikan lagu – lagu, salah satu lagu berjudul ‘Darah Rakyat’. Mereka rela berada di bawah terik matahari Jakarta, tidak minum dan makan sambil menyanyi dan meneriakkan yel – yel penambah semangat. Ketika Soekarno dan para menterinya tidak kunjung datang, walikota Jakarta Soewirjo dan Ketua Komite Nasional Daerah Jakarta, Mr. Moh. Roem mengambil alih tanggung jawab terhadap lautan manusia yang memenuhi lapangan Ikada.
baca juga : 18 September 1948 : Peristiwa Madiun, Pemberontakan PKI Musso-Amir Sjarifuddin
Soekarno dan Hatta akhirnya memutuskan untuk datang ke Lapangan Ikada untuk menemui rakyat yang sudah menunggu selama berjam – jam. Pidato singkat Soekarno selama lima menit berisi ujaran yang meminta rakyat mempercayai pemerintah. Pidato tersebut berhasil menenangkan rakyat yang sudah berkumpul selama 10 jam. Walaupun sedikit kecewa karena Soekarno hanya berpidato singkat, mereka kemudian bubar dan pulang ke rumah masing – masing ketika hari menjelang gelap.
Tan Malaka dan Moeffreni
Dalam peristiwa lapangan Ikada, ada beberapa nama yang sangat berjasa namun luput dari catatan sejarah seperti Tan Malaka dan Moeffreni. Tan Malaka dikatakan sebagai penggagas rapat besar ini, ia dijadikan panutan dan dipuja oleh para pemimpin pemuda di Jakarta. Konon di dekat Bung Hatta tampak berjalan seorang laki – laki bertopi helm, ciri khas Tan Malaka yang tidak pernah dilepasnya. Laki – laki itu juga tampak berdiri di podium bersama Soekarno. Keterlibatan Tan Malaka baru terungkap pada masa reformasi lalu karena ia adalah seorang tokoh kontroversial pada masa pemerintahan Soekarno – Hatta. Sedangkan Letkol Moeffreni Moe’min adalah seorang pemuda kelahiran Rangkasbitung, orang kedua di BKR Jakarta setelah Kasman Singodimejo.
Ia adalah eks anggota Seinen Dojo atau Barisan Pemuda Tangerang, alumnus pendidikan perwira PETA Bogor. Moeffreni adalah pengawal Bung Karno selama peristiwa lapangan Ikada diselenggarakan. Ia menjadi tameng hidup sejak Bung Karno keluar dari mobil, berjalan ke podium hingga kembali lagi ke mobil, berpakaian sipil dan mengantongi empat granat nanas dan dua buah pistol yang siap digunakan jika tentara Jepang berulah.
Pada tahun 1976 di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin untuk pertama kalinya diadakan peringatan Hari Bersejarah Bagi Rakyat Jakarta untuk mengenang peristiwa di lapangan Ikada. Acara berlangsung di Balaikota dan dihadiri oleh Bung Hatta.
Rapat akbar di lapangan Ikada telah sukses mempertemukan para pemimpin RI dengan rakyatnya. Dengan penyelenggaraan rapat tersebut juga sekaligus melegitimasi pemerintahan RI yang sah termasuk lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, menunjukkan kewibawaan pemerintah RI di mata rakyatnya dan sukses meningkatkan kepercayaan rakyat akan kekuatan bangsa sendiri untuk mempertahankan kemerdekaan.
Peristiwa rapat raksasa di lapangan Ikada juga turut mengobarkan semangat juang rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dari pihak – pihak asing seperti sekutu dan NICA. Sedikit banyak peristiwa ini juga mengilhami adanya perjuangan yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia seperti sejarah peristiwa merah putih di Manado, sejarah peristiwa 10 November di Surabaya, dan banyak lagi hingga kemerdekaan Indonesia berdaulat dan diakui dunia internasional. (sumber : https://sejarahlengkap.com/)

