MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM – Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini dikenal dengan lapak bercat kuning di kawasan Jalan Ujung Tinumbu, Kecamatan Bontoala, Makassar, akhirnya memilih membongkar lapak mereka secara mandiri setelah puluhan tahun berdiri di atas fasilitas umum.
Pembongkaran berlangsung sejak Jumat (17/4/2026) malam hingga Sabtu dini hari, mencakup area di belakang Pertamina Jalan Lamuru hingga sekitar SMK 4 Makassar.
Para pedagang tampak secara sukarela mengemas barang dagangan mereka tanpa adanya penolakan maupun gesekan di lapangan.
Langkah ini menjadi perhatian karena para PKL tidak terpengaruh isu provokasi dari pihak luar. Sebaliknya, mereka menunjukkan kesadaran kolektif untuk mendukung penataan kawasan agar lebih tertib dan nyaman.
Baca Juga : Penertiban Humanis di Tallo Berjalan Lancar, Sejumlah Lapak Dibongkar Mandiri Tanpa Konflik
Camat Bontoala, Pataullah, menjelaskan bahwa pembongkaran mandiri tersebut merupakan hasil pendekatan persuasif dan humanis yang dilakukan pemerintah kepada para pedagang.
“Sejak Jumat malam mereka sudah mulai bongkar sendiri. Insya Allah ditargetkan selesai sampai hari Selasa,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Ia mengungkapkan, dari sekitar 60 lapak yang ada, hanya sekitar 40 yang aktif digunakan. Sebagian bahkan telah berdiri hingga 30 tahun, meskipun ada juga yang baru beroperasi dalam beberapa tahun terakhir.
Selama ini, aktivitas perdagangan di lokasi tersebut berlangsung di atas trotoar dan saluran drainase.
Melalui edukasi dan komunikasi intensif, para pedagang akhirnya memahami bahwa penggunaan fasilitas umum tersebut tidak sesuai peruntukan dan dapat mengganggu ketertiban serta fungsi lingkungan.
Pataullah juga menegaskan bahwa isu penolakan yang sempat beredar tidak benar. Para pedagang justru bersikap kooperatif dan secara sukarela membongkar lapak mereka.
“Warga pemilik lapak membantah adanya penolakan. Mereka justru membongkar sendiri lapaknya. Alhamdulillah, sebagian besar sudah hampir selesai,” tambahnya.
Baca Juga : Penertiban 60 Lapak PKL di BTP Berjalan Kondusif, Pendekatan Humanis Buahkan Hasil
Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa penataan kota tidak selalu harus berujung konflik. Pendekatan humanis dan komunikasi yang baik mampu membangun kesadaran masyarakat untuk ikut berbenah.
Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, tetap berkomitmen mencarikan solusi tempat yang lebih layak bagi para PKL. Penertiban ini juga dinilai penting untuk menjaga kebersihan lingkungan, kerapian fasilitas umum, serta estetika kota.
Proses penertiban sendiri telah dilakukan sesuai prosedur, mulai dari pemberian Surat Peringatan (SP) hingga tahapan lanjutan. Namun, di lokasi ini para pedagang justru menunjukkan kepatuhan tanpa perlu tindakan tegas.
“Alhamdulillah, pedagang taat aturan. Ini hasil dari pendekatan persuasif dan komunikasi yang terus kami bangun,” tutupnya. (*)


Komentar