Prof. Farida Patittingi Dinilai Figur Penyejuk, Tepat Kawal Transisi Kepemimpinan UNM

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Penunjukan Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum. sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas kampus di tengah masa transisi kepemimpinan.

Setelah sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Harian (Plh), kehadirannya dianggap mampu memastikan tata kelola perguruan tinggi tetap berjalan kondusif.

Pengamat pendidikan, Andi Hendra Dimansa, menilai perubahan status dari Plh menjadi Plt bukan sekadar formalitas administratif, melainkan penguatan mandat agar roda organisasi dan layanan akademik tetap terjaga.

Baca Juga ; Rektor yang Terlibat Dugaan Pelecehan Seksual Diminta Mundur Sementara oleh BEM FT UNM

“Dalam situasi kampus yang sensitif dan penuh dinamika, Prof. Farida mampu menjaga netralitas dan meredam potensi konflik internal. Itu menunjukkan kapasitasnya sebagai figur transisional yang menenangkan,” ujar Andi Hendra, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, selama memimpin sebagai Plh, Prof. Farida berhasil mengawal stabilitas institusi.

Aktivitas akademik tetap berjalan, pelayanan tidak mengalami hambatan berarti, serta hubungan kelembagaan dengan kementerian tetap terjaga secara fungsional.

Andi Hendra juga menyoroti latar belakang penunjukan Prof. Farida yang berasal dari internal daerah, bukan figur “drop” dari pusat.

Hal ini dinilai menjadi keunggulan tersendiri karena ia dinilai lebih memahami kultur akademik dan dinamika sosial di Sulawesi Selatan.

“Beliau memahami karakter kampus negeri besar di kawasan timur. Pendekatannya lebih kontekstual, komunikatif, dan membumi. Ini penting untuk menjaga harmonisasi internal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai pengangkatan sebagai Plt merupakan kelanjutan logis dari kinerja sebelumnya sebagai Plh. Status tersebut memberi kepastian otoritas dalam pengambilan kebijakan selama masa transisi menuju pimpinan definitif.

Di sisi lain, Andi Hendra mengingatkan agar dinamika demonstrasi mahasiswa dipahami secara proporsional. Kritik dan aspirasi mahasiswa, kata dia, merupakan bagian dari tradisi kebebasan akademik yang harus dihargai.

“Aspirasi mahasiswa adalah alarm sosial. Itu wajar dalam masa transisi. Yang dibutuhkan adalah dialog dan komunikasi terbuka, bukan pendekatan represif,” tegasnya.

Baca Juga : Hadiri Pengukuhan Guru Besar UGM, Prof Zainal Arifin Mockhtar, Jusuf Kalla: Kritik Merupakan Bagian dari Demokrasi

Ke depan, tantangan utama Prof. Farida adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas institusi dan keterbukaan terhadap kritik.

Ia diharapkan mampu memastikan kampus tetap menjadi ruang akademik yang sehat, bukan terjebak dalam polarisasi konflik internal.

“Peran beliau bukan sekadar mengisi jabatan, tetapi memastikan UNM tetap solid dan fokus pada penguatan pendidikan,” tutup Andi Hendra.

Dengan mandat sebagai Plt Rektor, Prof. Farida Patittingi kini memikul tanggung jawab strategis untuk menavigasi UNM melewati masa transisi secara stabil, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan tata kelola kampus. (*)