MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) menggelar aksi unjuk rasa di sekitar Makodam XIV Hasanuddin, Rabu (8/4/2026).
Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas dan pengawalan terhadap kasus teror penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Dalam aksi itu, massa secara bergantian menyampaikan orasi serta membentangkan spanduk yang mendesak Pangdam Hasanuddin memberikan jaminan agar kasus serupa tidak terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sulselrabar).
Baca Juga : Komando Pusat GAM 2025–2027 Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Perjuangan dan Kemenangan Rakyat
Jenderal Lapangan aksi, Akmal, menegaskan bahwa sikap tegas dari Pangdam sangat dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan publik serta memastikan penegakan keadilan.
Menurutnya, jaminan keamanan menjadi krusial di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat.
Namun, aksi yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut diwarnai insiden yang diduga tindakan represif oleh orang tak dikenal (OTK).
Dalam kejadian itu, Panglima Besar GAM, Fajar Wasis, dilaporkan mengalami luka lebam di bagian bawah mata kiri.
Selain itu, beberapa peserta aksi lainnya juga mengalami luka di sejumlah bagian tubuh.
Baca Juga : Belum Dilantik, GAM Tancap Gas Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD
Bahkan, satu unit telepon genggam milik peserta aksi dilaporkan dirampas saat digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut.
Menanggapi insiden itu, pihak GAM mengecam keras tindakan yang terjadi. Mereka menilai aksi represif tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap ruang demokrasi serta hak asasi manusia.
“Kejadian ini tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun. Tindakan represif ini merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip demokrasi dan HAM,” tegas Fajar Wasis. (*)


Komentar