Genjot Urban Farming, Wali Kota Munafri Targetkan Sampah Makassar Terkelola 95 Persen dan Warga Mandiri Pangan

MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menginstruksikan Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2) untuk mengoptimalkan program urban farming di seluruh wilayah sebagai solusi terpadu pengurangan sampah dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.

Kebijakan ini menempatkan urban farming sebagai program strategis berbasis lingkungan berkelanjutan, dengan mengintegrasikan pemanfaatan lahan sempit dan pengelolaan sampah rumah tangga.

Sampah organik diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian perkotaan, sehingga menciptakan siklus yang produktif dan ramah lingkungan.

“Urban farming diharapkan menjadi solusi ganda, mengurangi sampah sekaligus memperkuat kemandirian pangan warga,” ujar Appi, Minggu (12/4/2026).

Baca Juga : Lewat Syawalan, Wali Kota Makassar Perkuat Sinergi dengan Muhammadiyah: Fokus Pendidikan, Sampah, hingga Ekonomi Warga

Ia juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat, termasuk komunitas dan organisasi pemuda, hingga tingkat lorong.

Setiap kelompok bahkan diharapkan mampu membina minimal dua lorong sebagai percontohan lingkungan produktif.

Selain pertanian, konsep ini turut dikembangkan melalui peternakan skala kecil yang efisien dan ramah lingkungan, seperti budidaya ayam petelur di lahan terbatas.

Untuk mendukung program tersebut, DP2 diminta berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Dewan Lingkungan dan sektor swasta melalui program CSR, guna memastikan pendampingan dan pembiayaan berjalan optimal.

Baca Juga : Resmikan SIT Raffasya, Wali Kota Makassar Dorong Pendidikan Berbasis Iman dan Karakter di Tengah Krisis Etika Anak

Lebih jauh, Appi menargetkan sistem pengelolaan sampah di Makassar dapat mencapai minimal 95 persen. Saat ini, capaian tersebut dinilai masih di bawah 70 persen.

Ia pun menginstruksikan camat dan lurah agar lebih aktif turun langsung ke lapangan, memperkuat keterlibatan masyarakat, serta mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, produktif, dan berkelanjutan.

“Perubahan nyata dimulai dari keterlibatan langsung di wilayah dan kerja sama semua pihak,” tegasnya. (*)

Komentar