JAKARTA, KORANMAKASSAR.COM — Peta politik nasional kembali memanas setelah muncul isu bahwa Partai NasDem berpotensi “diakuisisi” oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Isu ini berkembang cepat di ruang publik dan memicu berbagai spekulasi terkait arah baru kekuatan politik nasional.
Kabar tersebut mencuat pasca pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum NasDem Surya Paloh. Pertemuan elite ini dinilai sebagai bagian dari komunikasi politik strategis yang membuka peluang konsolidasi kekuatan di tingkat nasional.
Namun demikian, sejumlah pengamat menilai istilah “akuisisi” tidak tepat digunakan dalam konteks politik Indonesia.
Dalam sistem demokrasi, partai politik tidak dapat diambil alih seperti perusahaan, melainkan hanya dapat menjalin koalisi atau melakukan penguatan pengaruh.
Baca Juga : Eks Petinggi Demokrat Tegaskan Dukung Prabowo-Gibran Sampai Tuntas
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Adi Prayitno, menyebut isu tersebut lebih tepat dimaknai sebagai upaya konsolidasi kekuasaan.
“Tidak ada istilah akuisisi dalam sistem kepartaian kita. Yang ada adalah penguatan koalisi atau upaya menarik partai ke dalam orbit kekuasaan,” ujarnya.
Senada, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai komunikasi intens antara elite politik merupakan hal wajar dalam menjaga stabilitas pemerintahan.
“Ini lebih pada realignment politik. Apalagi setelah pemilu, biasanya partai-partai akan menyesuaikan posisi untuk mendapatkan ruang dalam pemerintahan,” jelasnya.
Spekulasi juga menguat seiring wacana kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold), yang dinilai dapat memengaruhi posisi partai-partai menengah.
Dalam situasi tersebut, konsolidasi dinilai menjadi langkah rasional untuk memperkuat posisi politik.
Di sisi lain, hubungan antara NasDem dan pemerintahan Prabowo menunjukkan dinamika yang semakin cair.
Baca Juga : Darmizal: Presiden Prabowo Negarawan Sejati Ditengah Gejolak Dunia
Setelah sebelumnya berada di luar koalisi, NasDem kini mulai menunjukkan kedekatan politik dengan pemerintah.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak terkait isu “akuisisi” tersebut.
Banyak pihak menilai, narasi ini masih sebatas spekulasi politik yang berkembang di ruang publik.
Para pengamat pun mengingatkan agar publik tidak terjebak pada istilah yang menyesatkan, melainkan melihat substansi dari dinamika politik yang terjadi.
Dengan demikian, isu akuisisi NasDem oleh Prabowo lebih mencerminkan proses konsolidasi dan komunikasi politik antar-elite, yang berpotensi membentuk ulang peta kekuatan menuju kontestasi politik mendatang. (*)


Komentar