Juga yang terpenting adalah kurangnya kerjasama intelijen serta tidak adanya pelatihan memadai dalam membina satuan khusus anti-teror.
Setelah serangan Sarinah, pemerintah Indonesia meningkatkan upaya dalam penanggulangan terorisme, termasuk peningkatan kerjasama internasional, perbaikan undang-undang terorisme, dan peningkatan kemampuan intelijen dalam mencegah serangan teroris.
Kasus teror yang dipengaruhi oleh ideologi radikal juga terjadi di Australia. Salah satu contoh kasus terorisme yang terkait dengan ideologi Islam radikal di Australia adalah serangan di Bourke Street, Melbourne, pada tanggal 9 November 2018. Dalam serangan tersebut, seorang pria bernama Hassan Khalif Shire Ali menabrakkan mobilnya yang berisi tabung gas ke sebuah trotoar di dekat Bourke Street Mall dan kemudian menyerang pejalan kaki dengan pisau. Serangan tersebut mengakibatkan kematian satu orang dan melukai dua lainnya sebelum Shire Ali ditembak mati oleh polisi.
Shire Ali diketahui memiliki hubungan dengan ekstremis Islam dan telah dikenal oleh badan keamanan Australia karena jaringan teroris yang ia ikuti. Dia telah direkam oleh Australian Security Intelligence Organisation (ASIO) dan diperlakukan sebagai ancaman yang potensial. Meskipun tidak ada klaim tanggung jawab dari kelompok teroris tertentu, Shire Ali diyakini terinspirasi oleh ideologi Islam radikal dalam melakukan serangan tersebut.
Serangan di Bourke Street menunjukkan bahwa Australia tidak terhindar dari ancaman terorisme yang terkait dengan ideologi Islam radikal. Hal ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanggulangan terorisme di negara tersebut. Pemerintah Australia bekerja sama dengan lembaga keamanan, intelijen, dan masyarakat sipil untuk mengidentifikasi dan mengatasi ancaman terorisme guna menjaga keamanan dan keselamatan warga negara.

Adanya kerjasama antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kepolisian Federal Australia dalam pencegahan dan penanggulangan kejahatan lintas negara, dapat disimpulkan bahwa kerjasama ini sangat penting dalam upaya memperkuat kapasitas institusi kedua negara dalam mengatasi berbagai jenis kejahatan lintas negara. Melalui pertukaran anggota, program pelatihan, kemitraan, dukungan peralatan dan teknologi, serta dukungan operasional, kedua pihak dapat meningkatkan efektivitas dalam mencegah dan menanggulangi berbagai jenis kejahatan, termasuk terorisme, perdagangan narkotika, penyelundupan manusia, dan lain sebagainya.
Kerjasama ini juga mencakup pertukaran intelijen, operasi terkoordinir, pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, pelatihan, serta dukungan peralatan dan teknologi. Dengan adanya kesepakatan strategis, pertemuan perwira senior, dan kelompok kerja, kedua pihak dapat bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan pencegahan dan penanggulangan kejahatan lintas negara.
Terkait dengan hal tersebut, saya setuju bahwa kerja sama regional antara Indonesia dan Australia dalam penanganan terorisme sangat penting. Terorisme merupakan ancaman global yang memerlukan respons yang bersifat lintas negara. Dengan bekerja sama, kedua negara dapat saling mendukung dalam menghadapi ancaman terorisme dan melindungi warga negaranya.
Namun, dalam menjalankan kerja sama ini, penting bagi kedua negara untuk tetap menghormati kedaulatan masing-masing dan memperhatikan kepentingan bersama. Kerja sama yang dilakukan haruslah dilakukan dengan transparan dan saling menghormati, sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal dalam upaya penanganan terorisme.
Dengan demikian, saya meyakini bahwa kerja sama regional antara Indonesia dan Australia dalam penanganan terorisme memiliki peran yang sangat penting dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi kedua negara. Dengan terus memperkuat kerja sama ini, diharapkan kedua negara dapat lebih efektif dalam menjaga keamanan dan stabilitas regional dari ancaman terorisme. *)
Penulis: Ahmad Afiq Syamri (Mahasiswa, Universitas Hasanuddin Ilmu Sejarah S1)

