“Semuanya itu jika kita tangkap dengan baik peluangnya, tentu akan sangat memperbaiki kualitas pertumbuhan
ekonomi bangsa kita,” ujarnya.
Dikatakanya, banyak riset menunjukkan, ekonomi digital Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat pada tahun 2030. Nilainya diprediksi mencapai 4.500-an triliun rupiah.
“Luar biasa besar, mengingat populasi bangsa kita yang juga besar, sehingga menjadikannnya sebagai pasar prospektif dari ekonomi digital,” tutur LaNyalla.
Namun, katanya, ada beberapa catatan penting yang harus dibenahi bila ingin memperkuat daya saing dalam menghadapi pesatnya perkembangan ekonomi digital. Pertama, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), karena kesiapan SDM adalah pilar dasar dalam ekosistem inovasi digital. Ditegaskan LaNyalla, digital hanyalah alat. Skemanya, inovasinya, terobosannya, peruntukannya, berdasarkan perencanaan dari manusia.
“Sehingga SDM kaum muda harus disiapkan sejak saat ini, tidak bisa ditunda-tunda lagi,” urai dia.
baca juga : Ketua DPD RI: SDM Sektor Pertanian Jadi PR Besar Pemerintah
Kedua, kesiapan infrastruktur. Saat ini, fasilitas infrastruktur telekomunikasi belum merata, terutama di kawasan timur Indonesia. Akibatnya, terjadi kesenjangan digital. Mayoritas pengguna internet di Indonesia hanya berpusat di Jawa, Sumatera dan Bali.
“Tanpa pemerataan infrastruktur telekomunikasi, tentu akan sulit untuk menciptakan kaum muda kreatif dengan sentuhan digital di pelosok-pelosok negeri,” papar dia.
Ketiga, kesiapan regulasi. Dipaparkan LaNyalla, dunia digital adalah dunia yang begitu dinamis. Hitungan perubahannya bukan tahun, tapi hari, bahkan jam. Maka, kata dia, pemerintah harus menyiapkan regulasi yang tidak kuno, yang mengakomodasi perkembangan zaman, namun tetap dalam koridor aturan yang baik dan memihak kepada kepentingan bangsa.
LaNyalla percaya GMKI melalui kegiatan seminar nasional ini pasti ingin memberi kontribusi positif bagi perjalanan bangsa ini ke depan. Salah satunya dalam menyambut bonus demografi pada usia 100 tahun Indonesia. Apalagi, GMKI memilki tokoh panutan, yaitu dokter J. Leimena, yang juga Pahlawan Nasional Indonesia, sekaligus penggagas cikal bakal lahirnya GMKI.
“Karena itu, ke depan, saya berharap para anggota GMKI bisa terus mengaktualisasikan diri, belajar dengan giat, berorganisasi dengan baik, beribadah dengan tekun dan mengabdi kepada rakyat tanpa mengenal lelah, sehingga lahir dokter J. Leimena yang lain di era saat ini,” harap LaNyalla. (*)

