KRISIS COVID-19, Pengamat ; Indonesia Butuh Makan, Bukan Beton

“Saat ini kita ngotot dengan Vaksinasi itu bagus tapi membuat banyak kerumunan ini kan bahaya. Mereka saja yang dikarantina atau isolasi di rumah banyak yang meninggal apalagi ini. Takutnya muncul varian dan kluster baru lagi,” terang peneliti kebijakan publik di Amerika ini.

Nah! dia pun mempertanyakan PPKM darurat seperti apa urgensinya jika airport tetap dibuka maka sama saja jika OTG masuk dan membawa virus lagi?

“Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) pemerintah pada tahun 2020 mencapai Rp 234,7 triliun. Jumlah tersebut berasal dari selusih pembiayaan anggaran yang sebesar Rp 1.190,9 triliun dengan defisit anggaran sebesar Rp 956,3 triliun. Duit itu dan Kemenkes bisa di lockdown tapi tim Jokowi tak mampu. Saat pandemi covid-19 masyarakat butuh makan bukan beton,” tegas dia.

Seperti diketahui jelas Jerry, bahwa negara tetangga seperti Singapura telah membuat software untuk melacak penyebaran virus corona.

“Strategi 5 M sudah baik tapi kita lemahnya di langkah preventif dan antisipatif seperti Vietnam langsung melakukan strategi 3 T (testing, treatment and tracing) dan angka kematian mereka 0 dan mereka sangat berhasil.
Bahkan Singapura ada sejumlah indikator keberhasilan dalam mengatasi COVID-19 diantaranya : Para pejabat Pemerintahan tidak saling mengedepankan ego sektoral,” tutur dia.

baca juga : Berbahaya, DPN AKSI Minta LPJK PUPR Segera Tunda Akreditasi di Masa PPKM Darurat

“Selain itu, juga memberikan teladan yang nyata dalam mematuhi protokol kesehatan, dan tidak melakukan perjalanan dinas ke luar negeri”.

Sejak Februari 2020 kata Jerry, tak ada pejabat tinggi Singapura yang ke luar negeri, kecuali Menlu. Itu begitu kembali dia menjalani karantina 21 hari.

“Para pengelola restoran pun yang diketahui membiarkan terjadinya pelanggaran prokes akan dikenai denda hingga SG$ 1000. Atau restoran akan ditutup selama 1-2 pekan. Barangkali sebetulnya cara mudah atasi Covid-19 yakni 3 V (Vitamin, Vit dan Vaksin),” jelasnya.

“Saat ini yang paling menakutkan dan bahaya krisis oksigen dan krisis rumah sakit. Paling mengkhawatirkan adalah Indonesia berada di nomor 2 di dunia untuk covid-19.”

Hal tersebut jelas Jerry, diakibatkan oleh karena rakyat tidak disiplin dan Pemerintah yang gagal fokus serta tidak konsisten, lantaran semua bersuara dan tak paham crisis management, lebih banyak beremuk-berdiskusi ketimbang berpikir-bertindak, pungkas Jerry. (*)