Momentum May Day dan Hardiknas, PERKARA Gelar Aksi Unjuk Rasa di Enrekang

ENREKANG, KORANMAKASSAR.COM — Pergerakan Koalisi Rakyat (PERKARA) menggelar aksi unjuk rasa di Kota Enrekang dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional, kamis (2/5/24). Aksi tersebut dihadiri oleh sejumlah pengurus LSM PERKARA yang membawa spanduk bertuliskan “Menyongsong Momentum May Day dan Hardiknas” serta membagikan selebaran kepada masyarakat yang melintas.

Menurut Jafar, selaku Jendral Lapangan, Hari Buruh Sedunia dan Hari Pendidikan Nasional merupakan peringatan penting bagi rakyat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa May Day dijadikan momentum untuk menuntut hak-hak yang terkekang. Sementara itu, mahasiswa juga menjadikan Hardiknas sebagai momentum untuk menyuarakan perlawanan pada praktek-praktek komersialisasi pendidikan yang terjadi secara masif.

“Dalam aksi ini, kami menganggap bahwa praktek komersialisasi pendidikan secara masif di perguruan tinggi, saat diberikan hak otonomi, berdampak pada biaya pendidikan yang mahal dan tidak dapat dijangkau oleh masyarakat menengah bawah,” ucap Jafar.

baca juga : Koalisi Advokasi Jurnalis Sulsel Gelar Aksi Damai depan PN Makassar

Selanjutnya, Yudha menyatakan bahwa terdapat sejumlah isu nasional yang kerap disuarakan oleh kaum buruh terkait dengan mempermasalahkan 11 klaster ketenagakerjaan dalam UU Cipta Kerja yang mendapatkan penolakan yang masif. Antara lain, persoalan upah murah, outsourcing seumur hidup, karyawan kontrak tanpa periode, pesangon rendah, proses PHK dan rekrutmen yang mudah, cuti panjang yang dihapuskan, cuti hamil dan cuti haid bagi karyawan perempuan, tenaga kerja asing yang merajalela, dan sanksi pidana yang banyak dihapuskan.

“Kami menganggap bahwa kedua sektor ini tidak terlepas dari praktek-praktek yang dilakukan oleh negara dalam slogan ‘pembangunan’ dan ‘industrialisasi’,” ungkap Yudha dengan lantang.

Dalam aksi tersebut, PERKARA juga menyuarakan isu turunan antara lain adalah menghapus UU Cipta Kerja, menghentikan komersialisasi pendidikan, menghentikan politisasi beasiswa pendidikan, mewujudkan industrialisasi nasional, mewujudkan reforma agraria sejati, dan mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas.(ZF)