Lanjut dia, tersedia rumah ibadah untuk semua agama, itu pertanda semua tokoh agama ada di situ. Termasuk kalangan pemuda lintas agama yang kita himpun untuk memberikan informasi perkembangan kerukunan di wilayahnya.
“Selama ini kita sering turun setelah terjadi konflik, padahal sudah sulit. Dengan Kelurahan Sadar Kerukunan, kita ingin mencegah sejak dini,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Jappa Jokka Cap Go Meh sekaligus pengurus FKUB, Suzanna, menambahkan bahwa pihaknya merasa bersyukur karena launching Kelurahan Sadar Kerukunan dibarengi dengan opening Cap Go Meh yang tahun ini beririsan dengan bulan Ramadan.
“Kami sangat senang karena launching ini dibarengkan dengan opening Jappa Jokka Cap Go Meh. Ini menandai harmonisasi, sesuai tema kami ‘Harmony in Life’,” katnaya.
Baca Juga : Sejalan Arahan Presiden Prabowo, Pemkot Makassar Canangkan Gerakan ASRI Tiap Selasa dan Jumat
“Tahun ini Cap Go Meh bersamaan dengan Ramadan, jadi ini menambah poin bahwa Makassar memang pantas menjadi kota yang toleran,” lanjut dia.
Ia menjelaskan, launching akan dirangkaian dengan sejumlah kegiatan, diawali dengan prosesi Cap Go Meh dari Istana Dewi Kwan Im di Jalan Diponegoro untuk mendoakan Kota Makassar, Tabligh Akbar bersama Das’ad Latif serta lomba patrol remaja masjid dan night run pada 1 Maret sebagai penutup acara.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kota Makassar, Fathur Rahim, menambahkan, melalui launching Kelurahan Sadar Kerukunan dan Jappa Jokka Cap Go Meh, kegiatan Ramadhan tahun ini tidak hanya dipenuhi keagamaan, tapi juga kebudayaan.
Ia menilai kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang berjalan berdampingan menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam merawat toleransi.
Baca Juga : Yayasan Buddha Tzu Chi Makassar Tebar 600 Takjil, Relawan Lintas Agama Berbagi di Bulan Ramadan
“Sehingga, kolaborasi antara Pemkot, Kemenag, dan FKUB menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan,” tuturnya.
Dengan hadirnya lima Kelurahan Sadar Kerukunan, Pemerintah Kota Makassar optimistis penguatan moderasi beragama dapat berjalan lebih sistematis sekaligus mempertegas posisi Makassar sebagai kota toleran dengan indeks kerukunan yang terus meningkat.
“Dengan apa yang kita lakukan ini, kiranya masyarakat melihat dan menjaga keharmonisan,” jelasnya.
“Jadi bukan cuma pemerintah, Departemen Agama, FKUB yang menjaga keharmonisasi, tetapi seluruh masyarakat kota ikut menjaga,” tambah dia.(*)

