MAKASSAR, KORANMAKASSAR.COM — Kepala Bidang Persampahan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas, Dinas Lingkungan hidup kota Makassar Dr. Bau Asseng menghadiri rapat dan konsultasi program Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar, yang dihelat di Pusat Dakwah Muhammadiyah Kota Makassar di jalan Gunung Lompobattang, sabtu (18/1/25).
“Pengelolaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat termasuk organisasi dakwah dan sosial terbesar di dunia yakni Muhammadiyah”, tegas Dr. Bau Asseng yang juga Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup.
Bau Asseng juga menekankan pentingnya sinergisitas seluruh elemen masyarakat untuk mengatasi persampahan di kota Makassar.
“Saat ini ada 696 bank sampah aktif di kota Makassar dari 1.000 bank yang pernah dibentuk oleh pemerintah kota bersama masyarakat, nah dalam pengelolaan sampah ini aspek perputaran ekonomi yang menarik dan harus segera direspon oleh komunitas yang tergabung dalam organisasi Muhammadiyah”, jelasnya.

Menurut Bau Asseng Muhammadiyah adalah organisasi modern yang punya infrastruktur organisasi dan anggota yang komplit, ada perguruan tingginya, ada sekolah PAUD, SD, SMP, SMA nya, ada mesjid, panti asuhan dan amal usaha lainnya yang dapat digunakan untuk mengelola sampah secara baik dan professional.
Bau Asseng mencontohkan di Perumahan Bukit Baruga sudah dimulai pengelolaan sampah mandiri dengan skema kemitraan yang mengelola sampah secara baik dan profesional dengan metode 3R , Reduce , Reuse dan Recycle.
Sampah dipilah dan pilih untuk kemudian kelompok mana sampah yang berhasil guna atau memiliki ekonomis dan mana yang bisa di kelola menjadi bahan baku pupuk dan lainnya.
“Metode itu efektif menekan 60% jumlah sampah yang masuk ke TPA yang berarti juga mereduksi biaya pengeluaran warga masyarakat secara efektif dan pengelolanya juga mendapatkan profit”, tambahnya Asseng.
Saat ini yang menjadi trend terbaru dari DLH adalah membentuk kelompok kelompok komunitas untuk mengumpulkan minyak jelantah atau minyak bekas gorengan.
Minyak jelantah tidak dibolehkan dikonsumsi ulang karena mengandung zat yang berbahaya, menjadi penyebab berbagai penyakit jantung, kanker dan obesitas, selain itu jika minyak ini terbuang ke drainasie maka menjadi sumber pencemar yang menyebabkan pipa drainase tersumbat dan berbau.
“Minyak ini bisa bernilai ekonomis karena nantinya dapat dipabrikasi menjadi bahan bakar organik, biodiesel dan kami sudah punya mitra off taker yang siap membeli minyak jelantah tersebut, tujuan program ini untuk menghindarkan masyarakat dari zat berbahaya memastikan masyarakat aman dan jika dikumpulkan oleh warga itu bisa bernilai ekonomis dan jaring ekonominya jalan”, tuturnya.
Ibu rumah tangga bisa mendapat profit, pengelola program atau komunitas juga akan untung karena selisih harga yang berjenjang dari pengumpul ke pengelola sampai kepada pengusaha yang membeli minyak jelantah.
“Hal ini termasuk program baru untuk itu saya menantang pengurus MPM untuk bisa ambil bagian dari program ini”, ucap Bau Asseng.
berita terkait : Sudah Parkir Semrawut, Tumpukan Sampah Didepan Pasar Baeng-Baeng Jadi Sorotan
Ditempat yang sama Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar Amran Nafie , ST menyambut baik peluang program dari DLH tersebut.
“Perlu tindak lanjut dari pertemuan konsultasi program ini , dan Insya Allah kami buat planning kegiatan untuk satu tahun program di 2025 ini , dan akan kami mulai pada hari Sabtu 8 Februari 2025 mendatang”, ucap Amran.
Kegiatan diskusi dan konsultasi yang dikemas santai tapi serius ini dihadiri hampir seluruh pengurus MPM PDM Kota Makassar diantaranya Ikhwan Muin selaku sekretaris, Ust. Ali Akbar wakil sekretaris, Andi Muhammad Ilham, Muhammad Askar, Rifqah selaku bendahara dan Ahsanul Qail selaku anggota. (*)

