MAKASSAR, KORANMAKASSAR.com — Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI) menunjukkan kesiapsiagaan dan komitmen kemanusiaan dengan mengerahkan personel Tim Search and Rescue (SAR) untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport (IAT) jenis ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/01/2026).
Pengerahan Tim SAR tersebut merupakan tindak lanjut langsung atas perintah Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, yang menginstruksikan jajaran personel agar segera membentuk dan memberangkatkan tim SAR guna memperkuat operasi pencarian korban kecelakaan udara tersebut.
Berdasarkan informasi awal, pesawat ATR 42-500 dilaporkan membawa 10 orang yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Pesawat tersebut hilang kontak pada Sabtu (17/01/2026) sekitar pukul 13.17 WITA saat melayani rute penerbangan Yogyakarta–Bandara Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros.
Baca Juga : Meriahkan HUT Armada RI dan HUT Sulsel ke 356, Kodaeral VI Gelar OWS Navy Open Water Sport Competition 2025
Pesawat kemudian diketahui mengalami kecelakaan di sekitar Gunung Bulusaraung, tepatnya di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.
Tim SAR Kodaeral VI yang dipimpin oleh Letda Marinir M. Ridha segera bergerak menuju Pos Komando Taktis (Poskotis) SAR Gabungan yang berlokasi di Posko SAR Basarnas Desa Tompobulu.
Tim turut membawa perlengkapan dan sarana pendukung guna menghadapi medan operasi yang dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi.
“Kami melaksanakan operasi SAR dan sebagian personel standby di Posko SAR Gabungan. Apabila terdapat perkembangan terbaru, kami siap bergerak menuju lokasi jatuhnya pesawat sesuai informasi yang diterima,” ujar Letda Marinir M. Ridha.
Baca Juga : Solidaritas Media Parepare, Bantuan Korban Bencana Sumatra–Aceh Tiba di Markas TNI AL Makassar
Keterlibatan TNI Angkatan Laut melalui Kodaeral VI dalam operasi SAR ini semakin memperkuat sinergi lintas instansi dalam misi kemanusiaan.
Hal tersebut menegaskan peran TNI AL tidak hanya sebagai penjaga kedaulatan laut, tetapi juga sebagai kekuatan kemanusiaan yang sigap, tangguh, dan siap menghadapi medan berat demi keselamatan sesama. (*)

