KORANMAKASSAR.COM — Kerja rodi adalah kerja paksa yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda pada 1808-1811 di bawah kekuasaan Herman William Daendels kepada rakyat Indonesia untuk membangun infrastruktur jalan di pulau Jawa, Bali termasuk di pulau Lombok.
Penyiksaan fisik dan mental selama berabad-abad dialami rakyat Indonesia termasuk masyarakat suku Sasak, Lombok. Atas kekejaman penjajah Belanda selama kerja rodi, masyarakat Sasak menuntut agar stamina tubuh para pekerja rodi tetap sehat dan kuat.
Dalam kondisi buruk dan perlakuan tidak manusiawi dialami pekerja rodi membuat Cicit Gamang (Sasak: Baloq Gamang) salah satu nenek moyang masyarkat Desa Peresak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur menggugah semangatnya untuk menciptakan ramuan herbal tradisional dari bahan baku lemak Kuda dan sekarang terkenal dengan sebutan nama Minyak Jaran (Minyak Kuda).

Kepala Desa Peresak, Muhamad Tahnuji menuturkan budaya masyarakat suku Sasak dalam proses pembuatan obat tradisional tentu tidak sembarangan termasuk pembutannya.
“Minyak Jaran Peresak memiliki waktu istimewa. Minyak Jaran dalam proses ritualnya menggunakan bulan dan waktu khusus yaitu pada momen hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi’raj dan Maulid Nabi Muhammad Saw. Karena waktu-waktu tersebut diyakini membawa keberkahan dan dianggap sakral oleh masyarakat Sasak pada umumnya,” ujarnya, Jumat (31/7).
Muhammad Tahnuji melanjutkan bahwa di luar bulan istimewa tersebut Minyak Jaran Peresak tidak boleh diritualkan, itu telah menjad nasihat dari leluhur.
Yang berperan dalam proses pembuatan Minyak Jaran Peresak khusus dari garis keturunan Baloq Gamang adalah doa ritual termasuk proses pembuatan secara otomatis sudah dimiliki dan dikuasai turun-temurun.
“Kalau orang lain yang bikin Minyak Jaran mereka tidak bisa, karena memang tidak menguasai doa mantera dan proses pembuatannya,” tegas Tahnuji.
Ada pun bahan baku dari pembuatan obat herbal Minyak Jaran seperti lemak Kuda yang didapatkan dari daging leher Kuda bagian belakang, kulit kayu dari pohon tertentu, rempah-rempah tradisional termasuk jahe.
“Ciri-ciri Kuda pilihan yang dianggap berkualitas menjadi bahan dasar pembuatan Minyak Jaran adalah Kuda yang digunakan menarik Becak, itu paling bagus,” jelas Tahnuji.
Proses pembuatan Minyak Jaran harus menggunakan tungku tradisional (Sasak: Jangkih) tidak boleh menggunakan Kompor atau alat modern lainnya, proses pengolahannya butuh waktu tidak lama cukup dua puluh lima menit Minyak Jaran sudah jadi.
Tahnuji menjelaskan Minyak Jaran Peresak sering dimaknai oleh masyarkat sebagai obat kuat Pria dalam urusan ranjang tetapi sesungguhnya tidak itu saja, melainkan Minyak Jaran itu mengandung khasiat banyak sekali diantaranya dapat meningkatkan stamina tubuh, mencegah dan mengobati sakit pinggang, meningkatkan imun tubuh termasuk perkasa dalam hubungan pasangan suami istri.
“Dulu yang mengkonsumi Minyak Jaran hanya dari kalangan para pejabat pada masa itu, jarang dari kalangan pribumi, karena meraka tahu khasiatnya,” kisahnya mengutip cerita dari Kakeknya.
Sejak tahun 2000 Minyak Jaran Peresak mulai dikomersilakan di pasar lokal dengan harga terjangkau, takaran 60 milliliter dibandrol Rp 35 ribu dan ukuran 200 milliliter Rp 125 ribu.
baca juga : Kemenristek Uji Klinis Jahe Merah, Jambu Biji, Minyak Kelapa Hingga Pil Kina untuk COVID-19
Lanjut Tahnuji, sejarah leluhur kami Baloq Gamang dulu beliau anti penjajah mereka melawan pemerintah Hindia-Belanda karena tidak mau kerja rodi sehingga mereka dikenal sebagai pembangkang oleh pemerintah kolonial Belanda dan akhirnya Baloq Gamang dibuang ke Negri Sham, (Thailand). Di kampung kami di Desa Peresak, Saya (Tahnuji) sering di sebut-sebut mirip orang Sham Thailand.
Tahnuji mengakui bahwa salah satu keturunan dari Baloq Gamang generasi ke VIII (Delapan) Pembuatan Minyak Jaran sampe sekarang tetap dilakukan untuk mengenang warisan leluhur, demi melestarikan budaya Sasak.
Untuk mengunjungi tempat produksi Minyak Jaran Desa Presak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur dari Bandara Internasioanl Zainuddin Abdul Madjid butuh waktu tempuh 2 jam.
Untuk mengunjungi tempat produksi Minyak Jaran Desa Presak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur dari Bandara Internasioanl Zainuddin Abdul Madjid butuh waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan jasa pelayanan kendaraan online. (*)

