APINDO: IEU-CEPA Tingkatkan Peluang Ekspor dan Investasi

Dengan IEU-CEPA, arah investasi diharapkan semakin fokus pada sektor prioritas nasional, seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, semikonduktor, farmasi, dan agrikultur berkelanjutan.

“Investasi yang kami harapkan bukan hanya modal, namun juga komitmen jangka panjang, yaitu investasi berkualitas yang membawa transfer pengetahuan, teknologi & inovasi baru, dan peningkatan keterampilan bagi tenaga kerja Indonesia.

Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan jauh melampaui hitungan finansial jangka pendek,” terang Shinta. Meski penuh peluang, APINDO menekankan pentingnya kesiapan nasional agar kerjasama IEU-CEPA dapat memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan pelaku usaha. Survei APINDO menyebutkan bahwa 79% pelaku usaha Indonesia belum pernah memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas atau CEPA.

“Fakta bahwa 79% pelaku usaha Indonesia belum pernah memanfaatkan FTA atau CEPA harus menjadi perhatian serius. Ini bukan karena mereka tidak berminat, melainkan karena keterbatasan informasi, kapasitas teknis, dan strategi nasional yang belum terintegrasi. Untuk itu, APINDO berkomitmen memastikan CEPA benar-benar memberikan dampak nyata bagi daya saing usaha dan memberikan akses bagi pekerja profesional.

APINDO menegaskan bahwa keberhasilan implementasi IEU-CEPA akan sangat ditentukan oleh inklusi, kolaborasi, dan eksekusi bersama semua pihak terkait.

“Jika salah satunya absen, seluruh potensi akan runtuh. APINDO siap bekerja bersama pemerintah, mitra Eropa, dan masyarakat sipil untuk memastikan CEPA menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif, hijau, dan berkelanjutan,” ujar Shinta.

Shinta mengungkapkan, terdapat tiga aspek penting yang menjadi harapan bagi dunia usaha Indonesia dalam perjanjian IEU-CEPA, yaitu 1) akses pasar yang kompetitif bagi mayoritas produk ekspor, terutama untuk menjaga daya saing dibandingkan negara lain seperti Vietnam yang sudah memiliki keunggulan di pasar Uni Eropa, 2) kerja sama dan fasilitasi terkait standar pasar, conformity assessments, serta bantuan dalam kepatuhan regulasi.

Baca Juga : Tekan Biaya Logistik, APINDO – PPLBI Perkuat Peran Pusat Logistik Berikat

Hal ini krusial karena standar Uni Eropa lebih ketat dan berbiaya tinggi dibandingkan pasar ekspor lainnya dan 3) pemberian leverage bagi pelaku usaha Indonesia, khususnya UMKM dan smallholders, dalam menghadapi aturan keberlanjutan baru Uni Eropa seperti CBAM, Deforestation Regulation, dan Green Deal. Tanpa perlakuan khusus, UMKM akan semakin sulit menembus pasar Uni Eropa dan manfaat perdagangan akan cenderung terkonsentrasi pada usaha besar.

Dengan selesainya perundingan IEU-CEPA, perjalanan baru bagi dunia usaha Indonesia dan Uni Eropa resmi dimulai. “Kesepakatan ini bukan sekadar soal perdagangan. IEU-CEPA adalah jembatan menuju masa depan, di mana perdagangan, investasi, dan transfer teknologi berjalan beriringan. APINDO siap mengawal implementasi CEPA agar benar-benar menjadi instrumen hidup bagi kesejahteraan bersama, bukan sekadar teks di atas kertas,” pungkas Shinta. (*)