KORANMAKASSAR.COM — Tiga tahun pengabdian Lutfi Hanafi di DPRD Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menghadirkan pendekatan politik yang berbeda—lebih dialogis, membumi, dan pragmatis.
Dilantik melalui mekanisme PAW pada 22 November 2023, kemudian kembali dipercaya untuk periode 2024–2029 pada Agustus 2024, Lutfi membawa bekal pengalaman sebagai pengusaha serta jejak politik sebelumnya sebagai calon wakil bupati 2020.
Latar belakang ini membentuk gaya representasi yang tidak berjarak dengan masyarakat.
Politik yang Turun ke Meja Kopi
Salah satu terobosan paling menonjol adalah inisiatif program “Ngopi Bareng” yang digelar awal 2024 di Warkop Dottoro Palampang, Kecamatan Pangkajene.
Forum santai ini bukan sekadar pertemuan simbolik, tetapi ruang dialog terbuka antara rakyat dan wakilnya. Aspirasi disampaikan langsung—mulai dari kelangkaan pupuk hingga persoalan air bersih.
Dalam forum tersebut, Lutfi tidak berhenti pada respons normatif. Ia langsung mendorong koordinasi dengan dinas terkait serta mengusulkan pengalihan anggaran ke sektor yang lebih mendesak seperti penyediaan air bersih.
Pendekatan ini menunjukkan politik yang berorientasi solusi, bukan sekadar retorika.
Fokus pada Masalah Nyata
Sebagai anggota Komisi II yang membidangi sektor vital seperti pertanian, kesehatan, perdagangan, hingga PDAM, Lutfi memposisikan diri sebagai jembatan antara kebijakan dan kebutuhan riil masyarakat.
Dalam isu air bersih, ia bahkan mendorong gagasan teknis seperti sistem token PDAM guna meningkatkan efisiensi layanan.
Sementara dalam persoalan pupuk, komitmennya untuk berkoordinasi dengan Dinas Pertanian mencerminkan perhatian pada sektor yang berkontribusi besar terhadap kesejahteraan masyarakat.
Kerja Legislatif yang Aktif
Selama menjalankan tugasnya, Lutfi aktif mengikuti berbagai agenda kelembagaan:
Rapat Paripurna
Rapat Komisi
Rapat Badan Musyawarah
Kunjungan kerja ke berbagai daerah
Kunjungan tersebut dilakukan ke sejumlah institusi untuk mencari praktik terbaik yang dapat diadaptasi di Pangkep.
Ia juga konsisten menerima aspirasi dari mahasiswa, pedagang, pekerja perbankan daerah, hingga warga dalam forum Musrenbang.
Tantangan dan Harapan
Meski sejumlah langkah awal dinilai positif, tantangan tetap ada.
Program seperti “Ngopi Bareng” memerlukan tindak lanjut konkret agar tidak berhenti sebagai simbol komunikasi politik.
Dengan mandat penuh hingga 2029, publik kini menanti konsistensi dan keberlanjutan dari pendekatan yang telah dibangun.
Penutup
Tiga tahun kiprah Lutfi Hanafi menunjukkan bahwa peran legislator tidak selalu harus ditandai proyek besar.
Kadang, representasi justru dimulai dari kesediaan duduk bersama masyarakat, mendengar keluhan, dan memperjuangkannya dalam kebijakan.
Jika konsistensi ini terjaga, pendekatan dialogis seperti “Ngopi Bareng” bisa menjadi model baru politik lokal—politik yang tidak berjarak, tetapi hadir di tengah rakyat. (*)
Penulis : Muhammad Askar (IKA KNPI Sulsel, Jurnalis)


Komentar