Denny JA: Debat Capres dan Bias Pemilih

Temuan ini sekali lagi memperkuat aneka riset sebelumnya. Debat capres di televisi ini sudah berlangsung selama 63 tahun. Debat capres pertama di televisi di dunia terjadi antara Richard Nixon dan John F Kennedy di tahun 1960.

Sejak saat itu, sudah banyak sekali riset dibuat soal efek capres atas voting behavior, perilaku pemilih.

Temuan riset itu sama. Bahwa debat presiden ini tak terlalu banyak efeknya. Gallup Poll juga menyimpulkan. Sangat jarang sekali kasus “Debat Capres Menjadi Game Changer.”

Yaitu debat capres yang bisa membalikkan keadaan membuat capres yang elektabilitasnya nomor satu berubah menjadi nomor dua. Atau sebaliknya, capres yang tadinya hanya nomor dua dalam elektabilitas, lalu berubah menjadi nomor satu, akibat debat capres. Ini bukan hal yang umum.

LSI Denny JA juga pernah melakukan survei nasional soal efek debat capres di tahun 2019. Hasil risetnya sudah dimuat media. Debat Capres terhadap perubahan pilihan warga atas pasangan capres hanya 2,9% saja.

Pertanyaannya: WHY? Mengapa? Mengapa susah sekali mereka mengubah pilihannya walau sudah menonton debat capres secara lengkap?

Dalam FGD LSI Denny JA, sehari setelah debat capres perdana, 13 desember 2023, kami bisa mengeksplor sisi WHY?

Ini tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama sudah hadirnya ikatan emosional antara pemilih dengan capres pilihannya.

Pertalian emosional ini lebih kuat dibandingkan atraksi debat capres. Mereka yang sudah menentukan pilihannya, ikatan emosional itu sudah terbentuk.

Elemen emosi itu terlalu kuat untuk berubah hanya sekedar menonton debat calon presiden.

Kedua, di kalangan yang sudah menentukan pilihan cqpresnya juga hadir bias. Mereka cenderung akan melihat yang positif saja dari capres pilihannya.

baca juga : Denny JA: Siapa yang Menang Debat Capres Perdana?

Mereka juga cenderung melihat yang negatif dari capres lainnya. Subyektivitas dalam merespon cukup tinggi.

Ketiga, juga dari pemilih itu sendiri, yang sudah memilih capres sebelum menonton debat, sudah mengembangkan filter.

Mereka cukup punya dinding tinggi agar susah sekali dipengaruhi oleh informasi apapun di debat itu, yang membuat mereka mengubah pilihannya.

Hanya mereka yang belum menentukan pilihannya saja yang masih rentan berubah. Kini dua bulan menjelang hari pencoblosan capres 2023, jumlah undecided voters ini semakin, semakin, dan semakin sedikit. *