Denny JA: Juga Bertarung Megawati Versus Surya Paloh Versus Jokowi

Surya Paloh mengelola tiga partai: Nasdem, PKB dan PKS.

Dari sisi jumlah partai di parlemen yang dikendalikan, Jokowi juga lebih unggul.

Keempat, kita juga melihat pengalaman para tokoh itu bertarung dalam Pemilu Presiden dan Pilkada. Pengalaman bertarung sebagai kandidat itu penting.

Pengalaman itu memberikan mereka wawasan menyusun strategi, ketajaman mengelola insting. Juga terasah tata cara untuk mengambil the heart and the mind of the people.

Megawati pernah ikut Pilpres dua kali, di tahuh 2004 dan 2009. Tapi dua-duanya, Megawati kalah.

Sementara Jokowi, ia pernah menjadi kandidat di Pilkada Solo dua kali, Gubernur DKI sekali, dan Pilpres dua kali 2014 dan 2019.

Jokowi punya pengalaman bertarung lima kali, baik di perkada, ataupun pemilu presiden. Dan lima-limanya Jokowi menang.

Sementara, Surya Paloh tak pernah punya pengalaman bertarung sebagai calon pemimpin baik di Pilkada, ataupun di tingkat pemilu Presiden.

Dari empat indikator ini, kita melihat di tingkat pengenalan, tingkat kesukaan, jumlah partai yang dikendalikan, dan juga pengalaman bertarung, Jokowi lebih unggul dibandingkan Megawati. Apalagi, Jokowi lebih unggul dibandingkan Surya Paloh.

baca juga : Denny JA: Jokowi-Mengawati Memanas

Bisa kita katakan dari parameter ini, Efek Jokowi, efek elektoralnya, lebih powerful dibandingkan Efek Megawati. Apalagi, juga lebih powerful dibandingkan Efek Surya Paloh.

Dengan sendirinya, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, yang kali ini didukung oleh Jokowi, memiliki keuntungan elektoral yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, Jokowi lebih mampu, lebih kuat dalam membantu kemenangan pasangan yang didukungnya, dibandingkan Megawati terhadap calon yang dibantunya, dibandingkan Surya Paloh terhadap capres dan cawapresnya.

Singkat kata, efek Jokowi lebih bergema dibandingkan efek Megawati, apalagi dibandingkan dengan efek Surya Paloh. *