Diduga Keracunan Menu MBG, Delapan Santri Pesantren Al-Mustafa Pinrang Dilarikan ke Puskesmas

PINRANG, KORANMAKASSAR.COM – Delapan siswa Pesantren Al-Mustafa Kanipang, Desa Sabbang Paru, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Para santri tersebut terpaksa menjalani perawatan medis di Puskesmas Tuppu setelah mengeluhkan pusing, mual, dan lemas. Gejala muncul pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 10.00 WITA, sehari setelah mereka menyantap menu MBG yang disajikan pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, makanan yang dikonsumsi diduga dalam kondisi kurang layak, khususnya lauk ayam kuah kuning yang disebut belum matang dan berbau basi.

Baca Juga : Gugatan Anggaran MBG di MK jangan Hambat Transformasi Human Capital Indonesia

Menu MBG saat itu terdiri dari nasi putih, ayam kuah kuning, tempe goreng kecap, pisang, timun, dan tomat.

Kepala Puskesmas Tuppu, dr. Syamsul Hanar, membenarkan adanya delapan pasien dari pesantren tersebut yang diduga mengalami keracunan makanan.

“Sebanyak delapan siswa diduga keracunan setelah mengonsumsi MBG. Mereka sudah mendapat penanganan medis dan saat ini telah dipulangkan ke rumah masing-masing,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan, sesuai arahan pimpinan, seluruh informasi lanjutan terkait kasus ini akan disampaikan secara terpusat melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang guna menghindari simpang siur informasi.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mustafa Kanipang, H. Mustapa Tangali, mengatakan para santri sempat dirawat selama 24 jam sebelum akhirnya diperbolehkan kembali ke asrama.

“Alhamdulillah kondisinya sudah membaik. Sejak Jumat mereka sudah kembali beraktivitas dan masuk sekolah seperti biasa,” tuturnya saat dihubungi via telepon, Sabtu (31/1/2026).

Baca Juga : Diduga Terganggu Bau Limbah Dapur MBG, Warga Pinrang Protes SPPG Watang Sawitto 2

Menurut Mustapa, hasil koordinasi dengan tim kesehatan dan pembina pondok menunjukkan bahwa persoalan diduga bukan pada bahan baku makanan, melainkan kondisi dapur pengolahan yang kurang memiliki sirkulasi udara memadai.

“Dapur cukup pengap sehingga makanan cepat basi. Itu yang diduga menjadi penyebab,” jelasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola dapur MBG maupun Kepala SPPG Binanga Karaeng belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan. (*)