MAROS, KORANMAKASSAR.com – Gunung Bulusaraung selama ini dikenal sebagai mahkota kawasan karst Maros–Pangkep sekaligus destinasi pendakian favorit di Sulawesi Selatan.
Namun, keindahan alam gunung yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) itu kini berbalut duka, menyusul tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak dan diduga jatuh di kawasan pegunungan Maros.
Gunung Bulusaraung dengan ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan titik tertinggi di kawasan karst Sulsel. Medannya yang curam, berbatu kapur, serta ditutupi hutan lebat menjadikan kawasan ini menantang, baik bagi pendaki maupun bagi tim pencarian dan penyelamatan.

Diduga kuat, pesawat ATR 42-500 yang mengalami hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) jatuh di kawasan pegunungan yang secara administratif berada di sekitar bentang alam Bulusaraung dan Leang-Leang, Kabupaten Maros. Sejak laporan awal diterima, kawasan yang biasanya sunyi oleh aktivitas wisata itu berubah menjadi pusat operasi kemanusiaan.
Medan Sulit Tantangan Tim SAR
Kondisi geografis Gunung Bulusaraung dikenal ekstrem. Jalur berbatu karst, tebing curam, lembah sempit, serta hutan rapat menjadi tantangan utama dalam proses pencarian. Cuaca yang kerap berubah cepat, disertai kabut tebal, turut memperlambat pergerakan tim SAR gabungan.
Sejumlah unsur dilibatkan dalam operasi pencarian, mulai dari Basarnas, TNI-Polri, relawan pecinta alam, hingga masyarakat setempat yang mengenal betul karakter medan Bulusaraung. Helikopter dan drone juga dikerahkan untuk memantau area yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Gunung Bulusaraung sendiri merupakan kawasan konservasi penting yang menyimpan keanekaragaman hayati Sulawesi. Hutan hujan tropis, flora endemik, serta satwa liar hidup di kawasan ini. Oleh sebab itu, setiap aktivitas pencarian tetap dilakukan dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung turut berperan aktif dalam memberikan pendampingan medan dan data kawasan kepada tim pencarian, mengingat wilayah tersebut memiliki banyak zona terjal dan area rawan longsor.
Bagi para pendaki, Bulusaraung adalah simbol petualangan dan keindahan alam. Namun kini, gunung tersebut menjadi saksi bisu salah satu tragedi penerbangan paling memilukan di Sulawesi Selatan.
Baca Juga : Wali Kota Munafri Kerahkan BPBD Makassar, Gabung Tim Perkuat Operasi SAR Cari Pesawat ATR 42-500 Hilang
Suasana duka menyelimuti kawasan yang sebelumnya dikenal dengan panorama menawan dan udara sejuk.
Masyarakat sekitar berharap proses pencarian dapat berjalan lancar dan seluruh korban dapat segera ditemukan. Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik keindahan alam Sulawesi Selatan, terdapat medan alam yang keras dan menuntut kewaspadaan tinggi.
Gunung Bulusaraung hari ini bukan hanya tentang pesona karst dan pendakian, tetapi juga tentang solidaritas kemanusiaan dan doa bagi para korban tragedi ATR 42-500. (*)

