Hikmah Puasa dalam Ceramah Almarhum Buya Hamka: Menjernihkan Jiwa, Menguatkan Takwa

KORANMAKASSAR.COM — Bulan Ramadan selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperdalam makna ibadah, terutama puasa. Dalam berbagai ceramahnya, almarhum Buya Hamka—ulama, sastrawan, dan pemikir besar Indonesia—kerap menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan ruhani untuk membentuk manusia yang bertakwa.

Puasa sebagai Pendidikan Jiwa

Menurut Buya Hamka, puasa adalah madrasah kehidupan. Ia mendidik manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsu, menahan amarah, serta menjaga lisan dan perilaku.

Menahan diri dari makan dan minum hanyalah bagian lahiriah; yang lebih utama adalah menahan diri dari segala perbuatan yang merusak nilai ibadah.

Dalam pandangannya, puasa mengajarkan disiplin dan kesadaran diri. Seseorang yang berpuasa dilatih untuk taat pada aturan waktu—mulai dari imsak hingga berbuka—sekaligus taat pada perintah Allah SWT.

Baca Juga : Keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan: Raih Ampunan dan Limpahan Pahala

Disiplin ini, bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan melahirkan pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.

Mengasah Empati dan Kepedulian Sosial

Buya Hamka juga sering menekankan dimensi sosial puasa. Rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa menjadi sarana untuk memahami penderitaan kaum dhuafa.

Dari sanalah tumbuh empati, kasih sayang, dan dorongan untuk berbagi.

Puasa, dalam ceramahnya, bukan ibadah individual semata. Ia memiliki dampak sosial yang besar: mempererat ukhuwah, menumbuhkan solidaritas, dan menggerakkan umat untuk saling membantu.

Ramadan adalah bulan di mana kepekaan sosial harus semakin tajam.

Mencapai Derajat Takwa

Tujuan akhir puasa, sebagaimana sering dikutip Buya Hamka dari Al-Qur’an, adalah agar manusia mencapai derajat takwa.

Takwa bukan hanya rasa takut kepada Allah, tetapi kesadaran penuh untuk selalu berada dalam ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam tafsir dan ceramahnya, Buya Hamka menjelaskan bahwa orang yang berhasil dalam puasanya akan tampak dari perubahan sikapnya setelah Ramadan.

Jika setelah berpuasa seseorang menjadi lebih sabar, jujur, dan rendah hati, maka itulah tanda puasanya berbekas dalam jiwa.

Puasa dan Pembentukan Karakter Bangsa

Sebagai tokoh bangsa, Buya Hamka memandang puasa juga relevan dalam membangun karakter masyarakat.

Baca Juga : Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, dan Lentera Moral yang Tak Pernah Padam

Ia percaya bahwa bangsa yang warganya memiliki pengendalian diri, kejujuran, dan kepedulian sosial akan menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat.

Karena itu, puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Nilai-nilai yang ditanamkan selama Ramadan harus terus hidup sepanjang tahun.

Penutup

Ceramah-ceramah almarhum Buya Hamka tentang puasa mengingatkan bahwa Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri.

Puasa adalah latihan menundukkan ego, memperkuat iman, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Dengan meneladani pesan-pesan beliau, semoga ibadah puasa yang dijalani tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih bertakwa, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat. (*)

Komentar