Marhaban Ya Ramadhan dan Akkinanreng

KORANMAKASSAR.COM — Akkinanreng dalam Bahasa Bugis adalah mata pencaharian (sumber mata pencaharian) masyarakat di tanah Bugis – Makassar.

Sumber mata pencaharian ini macam-macam cara mereka dalam mencari kehidupan mata pencaharian. Sejarah orang Bugis – Makassar selain pelaut, juga pedagang yang ulet yang gigih dalam mencari kehidupan demi harga diri dan mempertahankan hidup.

Budaya dan Tradisi orang Bugis – Makassar adalah petarung sejati dalam berusaha demi keluarganya. Ada yang menjadi nelayan dilaut, berdagang makanan seperti ikan bakar, coto Makassar, Sop Saudara, bahkan ada yang menjadi pedagang yang sukses dan lain-lain.

Intinya adalah bagaimana mereka bisa mempertahankan hidup mereka tanpa harus mengusik orang lain atau menjadi pengemis dan terkadang falsafah hidup ‘Akkinanrenga” adalah budaya malu bagi mereka jika tidak sukses dalam berdagang, bahkan hidup mereka adalah harga diri .

Orang Bugis-Makassar adalah tipe manusia yang ulet dan ulung dalam berdagang / berbisnis. Tidak sedikit dari mereka yang sukses menjadi pedagang, sehingga terbentuklah nama “Pertemuan Saudagar Bugis Makassar” yang diadakan setiap tahun.

Sederet nama-nama yang sudah sukses dalam bisnisnya adalah HM.Yusuf Kalla, HM Aksa Mahmud, Andi Amran Sulaeman, H.Rusdi Masse dan lain-lain, yang yang bisa mewakili kalangan pribumi, bahkan dari kalangan non pribumi ada Eka Cipta wijaya (Sinar Mas Grup) yang memulai usahanya dengan jualan minyak goreng di pasar.

Akan tetapi tidak sedikit dari kalangan masyarakat menengah ke bawah yang melakukan usaha kecil-kecilan seperti menjual coto Makasaar, Sop Saudara, Sop Ubi, aikan Bakar dan Warung Kopi Racikan dan lain lain.

Bahkan ada yang jualan di atas trotoar jalan. Seiring berjalannya waktu Kota Makassar yang menjadi dan nyaman, sehingga kondisi saat ini karena kebijakan penataan kota, sehingga mereka dianggap sudah tidak layak lagi untuk jualan di atas trotoar jalan.

Berangkali dari sini kita sebagai pemerhati dan pengamat sosial mungkin perlu memberi saran kepada pihak swasta dan pemerintah dalam bekerjasama membantu UMKM menengah ke bawah agar mereka bisa tumbuh dan berkembang seperti para pedagang menengah ke atas sehingga pertumbuhan ekonomi di daerah bisa merata.

Caranya adalah dengan sistem kerjasama antara pihak pemerintah dan swasta (yang sudah sukses) yaitu bagaimana pemerintah menyiapkan lahan bagi para pedagang kecil yang memiliki modal pas-pasan dan bagaimana pihak swasta menengah keatas yang tergabung dalam “Saudagar Bugis Makassar” membangun tempat jualan yang lahannya disiapkan pemerintah, karena di setiap kesusahan pasti Allah memberikan kemudahan” Fa inna ma’al usri yusra, inna ma’al usri yusra”

Jika ini bisa terwujud maka yakinlah tidak ada lagi para pedagang kecil yang merasa tergusur karena jualan di atas trotoar, sebab mereka merasa ada win win solution.

Tinggal tekhnisnya saja bagaimana kita bisa membantu pemerintah kota Makassar dalam menata lingkungan dengan cara dimediasi DPRD yang membidangi pemerintahan dan pihak swasta.

Di satu sisi kita harus mendukung program pemerintah dalam penataan kota dan di lain sisi kita hari mengupayakan solusinya dengan cara diatas, kerjasama antara swasta, Pemkot dan DPRD Kota Makassar.

Memasuki Bulan Ramadhan akan semakin semarak ga’de-ga’de (jualan makan dan minuman) di pinggir jalan namun tidak semua para pedagang ga’de-ga’de bisa mendapatkan tempat jualan di dalam halaman yang telah di sediakan oleh pengelola.

Akan tetapi secara moral pihak swasta yang sudah berkecukupan bisa membayar sewa tempat yang telah disedikan oleh swasta yang peruntukkan utk para pedagang kecil yang mencari “Akkinanreng” demi kelangsungan hidup keluarganya.

Selama ramadhan, inilah kesempatan kita semua untuk membantu ekonomi umat yang tengah terpuruk akibat krisis ekonomi saat ini. Keadaan ini membuat hidup semakin susah dan daya beli semakin rendah, akibatnya terjadi inflasi.

Sekarang saatnya masyarakat potensial secara ekonomi membantu umat dalam menghadapi bulan suci ramadhan agar mereka bisa berjualan di suatu tempat yang tersedia tanpa mereka harus membayar uang sewa selama satu bulan.

Inilah yang disebut menolong agama Allah “Intan Surulah Yansurkum” dengan cara sedeqah sewa tempat gratis buat para pagade gadde yang berada pada ekonomi pas-pasan.

Semoga tulisan ini bisa menjadi perenungan buat kita semua, baik pihak swasta maupun pemerintah, agar kota ini bisa hidup secara damai, aman, sejahtera dan tenteram.

Mungkin kelak diantara mereka akan lahir pedagang yang ulung dan sukses seperti para pendahulunya dan kelak akan masuk dalam daftar “Saudagar Bugis Makassar” yang sukses.

Siapa yang dengan niat yang tulus menolong agama Allah, maka kelak Allah pasti menolongnya. Memasuki ramadhan ini kita hidupkan budaya “Akkinanreng” demi harga diri kita semua.

Tulisan ini saya tutup dengan kalimat singkat dari Khutbah tersingkat Sultanul Auliya tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani “satu suap nasi yang engkau masukkan kedalam perut orang yang lapar, itu lebih baik dari membangum 1000 masjid jami’, karena ketika sesuap nasi masuk ke dalam orang yang lapar maka akan menjadi cahaya matahari yang terang benderang” dan Allah SWT sangat menyukai orang orang yang gemar mengeluarkan orang dari kesusahan dan salah satu penyebab kesusahan hidup karena sulit makan.

Kemiskinan akan medekati kekufuran, maka Islam memberi solusi bagi orang-orang yang mampu dengan bersedeqah secara istiqamah.
Bukankah potensi zakat di Kota Makassar pada tahun 2024-2025 mencapai 1,7 Trillun, sementara target zakat kita hanya 4 Milliar Rupiah, namun pencapaian oleh Baznas hanya 1,5 Milliar Rupiah itupun hanya melalui UPZ2 Mesjid.

Artinya data potensi zakat bagi orang orang sukses masih sangat rendah dari jumlah potensi zakat yang harus dia keluarkan, hal ini untuk mendorong orang-orang mampu dan wajib mengeluarkan zakatnya agar kemiskinan bisa kita entaskan.

Peran para muballiq juga dituntut untuk memberikan pencerahan Qalbu bagi orang yang tidak mengetahui pentingnya mengeluarkan zakat harta mereka.

Kalau zakat fitrah mungkin tidak ada masalah tapi zakat harta ini yang perlu pencerahan di mesjid-mesjid agar kita jangan sampai di cap oleh Allah dalam Surah At- Takatsur 1-8 sebagai orang orang yang bermegah-megah” atau “saling berlomba-lomba dalam kekayaan”. Surah ini surah ke 102, yang terdiri dari 8 ayat, juz ke 30.

Surah ini memperingatkan manusia agar tidak dilalaikan oleh keinginan memperbanyak harta, keturunan atau kemewahan dunia hingga maut menjemput.

Di ayat lain manusia diwajibkan mengeluarkan sedeqahnya bagi yang lapang (mampu) orang kaya (lapang) tapi juga orang orang yang sempit hidupnya sebagaimana al-qur’an memberikan informasi “Alladziina yunfikuna fissarai waddarrai” bersedekalah kalian di saat lapang dan sempit.

Selamat memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, semoga kita semua dipanggil oleh Allah dengan panggilan Marhaban Ya Ramadhan.

penulis : M.YAZID S.BUSTHAMI,SH,
(Ketua DMI Kec.
Ujung Pandang)