Menjemput Arah Baru Koperasi Maros: Refleksi Jelang Musda Dekopinda 2026–2030

MAROS, KORANMAKASSAR.COM — Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Maros masa bakti 2026–2030 yang digelar Februari ini dinilai menjadi momentum penting bagi arah gerakan koperasi ke depan.

Hal tersebut disampaikan Daeng Todjeng, pemerhati sekaligus pegiat koperasi Kabupaten Maros, dalam catatan reflektifnya, Kamis (12/02/2026).

Ia menilai, Musda kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan untuk memilih ketua dan menyusun kepengurusan baru, melainkan persimpangan strategis yang menentukan masa depan “rumah besar” koperasi di Maros.

“Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, koperasi tidak bisa lagi berjalan biasa-biasa saja. Kita membutuhkan Dekopinda yang lebih hadir, lebih terasa, dan mampu memberi solusi nyata bagi anggota,” ujarnya.

Baca Juga : IKA-PMII Maros Audiensi dengan Kapolres, Siapkan Pelantikan Ramadan dan Luncurkan Program “Sahabat Pangan”

Menurutnya, tanpa menafikan kerja keras para pengurus sebelumnya, masih terdapat ruang-ruang perbaikan yang perlu diisi bersama. Ia pun menawarkan sejumlah gagasan untuk memperkuat fondasi Dekopinda ke depan.

Gagasan pertama yang disorot adalah pentingnya postur anggaran yang benar-benar berpihak kepada anggota. Ia mengusulkan penerapan prinsip “Anggaran Berbasis Manfaat”, di mana sebagian besar dana yang dihimpun dari iuran dan pendidikan koperasi dikembalikan kepada gerakan dalam bentuk program nyata.

“Bukan sekadar laporan administratif, tetapi pelatihan (diklat) yang bermutu, sertifikasi kompetensi pengelola, hingga pendampingan hukum bagi koperasi yang sedang menghadapi persoalan,” jelasnya.

Menurutnya, pos operasional sebaiknya tetap proporsional, sementara anggaran pemberdayaan anggota perlu dimaksimalkan agar setiap rupiah iuran yang dibayarkan koperasi primer benar-benar dirasakan manfaatnya.

Ia juga menekankan pentingnya efisiensi dan ketepatan prioritas dalam penggunaan sumber daya organisasi. Partisipasi dalam agenda nasional seperti Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) tetap penting, namun perlu dilakukan secara efektif dan proporsional.

Baca Juga ; IWO Maros Desak APH Selidiki Dugaan Penyalahgunaan Dana ZIS Baznas, Soroti Transparansi dan Audit Keuangan

“Sumber daya yang terbatas sebaiknya lebih banyak diarahkan pada kegiatan substantif di daerah, yang menyentuh langsung ratusan pengurus koperasi di pelosok Maros, bukan habis untuk biaya perjalanan segelintir orang,” tegasnya.

Kepemimpinan Kolektif dan Super-Team
Selain itu, Daeng Todjeng menilai Dekopinda ke depan membutuhkan model kepemimpinan kolektif, bukan one-man show. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut kerja tim yang solid.

“Dekopinda masa depan memerlukan ‘Super-Team’, bukan ‘Superman’. Siapapun yang terpilih sebagai nahkoda, harus mampu mengoptimalkan peran bidang-bidang dan memberi ruang bagi para wakil ketua untuk berkreasi sesuai keahliannya,” ungkapnya.

Baca Juga ; IWO Maros Desak APH Usut Dugaan Penyelewengan Dana ZIS Baznas, Soroti Transparansi dan Program Tak Jelas

Ia menegaskan, esensi kolektif kolegial harus diwujudkan dalam praktik, bukan sekadar jargon organisasi.

Menutup refleksinya, ia berharap Musda 2026 menjadi momentum kebangkitan marwah koperasi sebagai soko guru perekonomian daerah.

“Jadikanlah Dekopinda sebagai organisasi yang melayani, bukan minta dilayani. Selamat bermusyawarah, insan koperasi Maros. Mari jadikan Musda ini sebagai tonggak harapan baru bagi koperasi kita,” pungkasnya.
Bravo Koperasi! (*)

Komentar