Pelatihan Budidaya Cacing Sutra: Bisnis Baru Menggiurkan

“Cacing sutra selama ini diperoleh secara alami di saluran irigasi/persawahan warga sehingga ketersediaan tidak stabil bahkan kurang, terlebih di musim hujan. Keterbatasan itu bisa dipecahkan dengan budidaya cacing sutra. Dengan adanya adopsi dan percontohan untuk penyuluhan tentu saja sangat mendukung untuk penyediaan pakan alami di sentra-sentra perbenihan sehingga mengurangi ketergantungan terhadap cacing sutra alam dan mendukung perkembangan industri dalam rangka meningkatkan produksi perikanan budidaya,” tutur Mimid.

Sistem apartemen merupakan desain wadah budidaya cacing sutera yang tersusun secara vertikal dan menggunakan aliran air dengan sistem resirkulasi. Keuntungan budidaya sistem apartemen antara lain, efisiensi lahan; mengurangi penetrasi cahaya matahari secara langsung; lebih terkontrol; dan tidak tergantung musim.

Terkait percontohan ini, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati berharap agar transfer teknologi yang disampaikan dari para penyuluh kepada pelaku usaha di lapangan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kesejahteraannya. Ia meminta penyuluh untuk menuangkan penerapan teknologi dalam bentuk tulisan yang dapat digunakan oleh masyarakat sebagai pedoman.

“Para penyuluh harus selalu berpikir kritis dan berinovasi untuk menemukan teknologi yang tepat guna untuk menyelesaikan persoalan pelaku usaha atau pelaku utama di lapangan,” ucapnya.

Menurutnya, unit percontohan budidaya cacing sutra ini merupakan salah satu bukti capaian kegiatan percontohan penyuluhan. Ia berharap, penyuluh dapat mengembangkan percontohan penyuluhan lainnya yang tak kalah bermanfaat di daerah-daerah lainnya.

Kepala BPPP Tegal, Moch. Muchlisin, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa usaha budidaya cacing sutra memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Budidaya ini dapat dilakukan dengan bahan yang murah, sedangkan kebutuhan pasar masih tinggi untuk mencukupi kebutuhan pelaku usaha perbenihan ikan air tawar terutama ikan lele dan untuk ikan hias. Selain itu harganya masih cukup bagus yaitu Rp40.000 – Rp60.000 per liter di tingkat petani pembudidaya.

“Untuk saat ini hasil produksi dipasarkan di dalam kelompok pelaksana percontohan yaitu Pokdakan Mina Taruna untuk memenuhi kebutuhan budidaya perbenihan ikan lele yang dilakukan oleh anggota kelompok. Namun ke depan dengan semakin berkembangnya pembenihan lele (sebagai salah satu program Dinas KP Kulon Progo) dan sedang maraknya budidaya ikan hias, maka kebutuhan cacing sutra sebagai pakan alami akan meningkat dan pasar cacing sutra akan semakin terbuka. Untuk bulan ini kami sudah menerima pesanan dari pembudidaya ikan hias, namun untuk sementara baru dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pembenihan lele di sekitar lokasi percontohan,” jelas Muchlisin.

baca juga : Menteri Edhy: Lobster Bisa Dibudidaya, dari Telur hingga Dewasa

Untuk kelompok yang sudah dan akan melakukan kloning budidaya cacing sutra sistem apartemen ini adalah Kelompok Mina Bayu Lestari, yang beralamat di Pedukuhan Tonobakal, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo. Sedangkan kelompok yang akan melakukan kloning adalah Kelompok Fastamina yang berada di Pedukuhan Dukuh, Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo.

Sumarjoko, Ketua Pokdakan Mina Taruna, Banjarharjo, Kalibawang mengatakan, sebelum pengembangan percontohan budidaya cacing sutra sistem apartemen ini, kelompoknya mengalami kesulitan mendapatkan pasokan cacing sutra sebagai pakan pembenihan lele mereka. Usaha mereka bahkan sempat vakum karena kesulitan pakan tersebut. Mereka juga sempat harus mendatangkan cacing sutra dari Kecamatan Mertoyudan, Magelang. Namun, jumlah yang diperoleh juga terbatas.