Pelatihan Budidaya Cacing Sutra: Bisnis Baru Menggiurkan

Hingga kemudian seorang penyuluh perikanan, Ibnu Budiono mengenalkan percontohan budidaya cacing sutra sistem apartemen ini. Dengan bantuan fasilitasi sarana prasarana dari Dinas Kelautan dan Perikanan dan DPRD setempat serta BPPP Tegal, usaha Pokdakan Mina Taruna dapat berkembang.

“Sekarang kami mau mengembangkan secara berkelanjutan. Mudah-mudahan dengan bantuan sarana prasarana tersebut kami bisa mengelola dan juga mengembangkan usaha kami,” kata Sumarjoko.

Ia pun berharap, keberhasilan kelompoknya mengelola percontohan penyuluhan ini dapat membantu berkembangnya usaha perikanan di Kab. Kulon Progo. “Mudah-mudahan kami juga bisa bermanfaat buat masyarakat, mengurangi pengangguran di masyarakat Banjarharjo, Kab. Kulon Progo karena ternyata di sini masih banyak yang muda, masih semangat untuk berwirausaha,” tandasnya.

Sementara, Penyuluh Perikanan Kulon Progo, Ibnu Budiono mengatakan, budidaya cacing sutra sistem apartemen ini adalah alternatif lain budidaya cacing sutra yang biasa dilakukan di area persawahan. Perbedaannya, budidaya cacing sutra sistem apartemen menggunakan wadah budidaya yang disusun secara bertingkat dilengkapi dengan resirkulasi air sehingga meminimalisir penggunaan lahan dan air.

baca juga : Terbang ke Australia, Menteri Edhy Serius Garap Budidaya Lobster

Adapun tahapan pembudidayaannya adalah penyiapan lahan dan pembuatan bak penampungan air; pembuatan rak budidaya dengan memakai kerangka besi baja ringan dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter, dan tinggi 2,2 meter; pembuatan wadah atau box budidaya dari kayu yang dilapisi dengan plastik UV dengan ukuran 1m x 2m x 0,2 m (tiap rak apartemen terdiri dari wadah atau box sejumlah 5 tingkat); dan pembuatan sirkulasi air menggunakan pipa paralon (air dari penampungan diresirkulasi menggunakan pompa air yang akan bekerja 24 jam); serta pengecekan kualitas air media secara berkala.

Berikutnya adalah tahap fermentasi selama 7 hari; peletakan media di rak-rak budidaya; penebaran benih sebanyak ½ liter per m2 (untuk media budidaya seluas 100 m2 dibutuhkan sebanyak 60 liter); dan pemberian pakan pakan cacing sutra hasil fermentasi secara anaerob selama 7 hari (pemberian pakan dilakukan setiap hari sekali dengan jumlah 100 hingga 200 ml per m2).

“Panen pertama dilakukan setelah budidaya selama 2 hingga 2,5 bulan. Kegiatan panen dilakukan pada pagi atau sore hari ketika cacing naik ke permukaan. Panen selanjutnya dapat dilakukan setiap 6 hari sekali,” paparnya.

Perlu diketahui, percontohan budidaya cacing sutra sistem apartemen juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo dalam pemenuhan kebutuhan pakan alami baik untuk perbenihan ikan maupun ikan hias. Bentuk dukungan tersebut berupa peminjaman alat untuk pengecekan kualitas air pada percontohan dan program pengembangan di kelompok lain. Selain itu, ada peran dari Lembaga Pengabdian Masyarakat Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) berupa pendampingan dari kelompok dosen baik pada usaha perbenihan ikan lele maupun budidaya cacing sutra di lahan persawahan.

HUMAS BRSDM