MAROS, KORANMAKASSAR.COM — Kalau kebanyakan masyarakat umum pengguna jalan melihat dan menilai ” Pa OGA ” atau pemuda pemuda yang biasa menyeberangkan pengendara atau pengemudi membuat macet , Iptu Kamal tidak menampik hal itu.
Namun hal itu justru tidak membuat Polisi Bugis itu diam, dia terus mengevaluasi wilayah kerjanya termasuk perlambatan bahkan kemacetan yang sering kali terjadi di wilayah Maros,
“Kita melihat sisi negatifnya saja, ayo kita lirik sisi manfaatnya,” ajak Iptu. Kamal, Sabtu (3/5/25).
“Mereka itu sebenarnya sangat membantu pengemudi yang akan memutar atau balik arah.di titik titik tertentu di saat petugas lalu lintas dan Dishub tidak sedang di jalur”, sambungnya.
Seperti lepas jam rawan yakni jam-jam kantor dan jam pulang kantor, yakni di siang hari dan malam hari di saat petugas lalu lintas dan dishub sedang tidak berada di jalan raya.
Namun hal itu wajib diawasi dan diberikan pemahaman dan pengetahuan prihal cara menyetop kendaraan dan cara mengarahkan kendaraan dengan Benar sehingga tidak macet
“Mereka saya berikan pembelajaran dan pemahaman tentang cara benar dan aman menyetop kendaraansehingga tidakmengabaikan keselamatannya, keamanan kendaraan yang akan menyeberang atau memutar, termasuk kami sarankan membuat papan ” STOP”, beber Iptu Kamal.
Serta kenakan rompi yang scootlight agar terlihat, dengan pemahaman cara menyetop dan menyeberangkan kendaraaan dengan benar insya Allah tidak akan menjadikan arus lalin jadi terhambat karena tertib.
Baca Juga : Atas Laporan Kasatlantas Polres Maros, Jalan Berlubang Poros Maros-Bone Langsung Dieksekusi Dinas PU
Iptu. Kamal menambahkan, mereka kami awasi dan mereka tidak bisa ada di jalan atau.di titik titik pemutaran pada saat jam jam padat atau jam kantor pada saat petugas lalu lintas dan Dishub sedang ada di jalan, dan mereka semua sepakat dan siap membantu menjaga tetap Lancarnya arus lalu lintas.
“Kami sekarang baru paham cara menyetop kendaraan dengan aman dan baik setelah di ajari oleh pa kamal,kami juga tidak capek mi menyeberangkan kendaraan, karena kami hanya 2 orang di setiap pemutaran”, ucap salah seorang Pa Oga bernama Gesti. (**/WS)

