Strategi Komunikasi Publik yang Efektif untuk Tingkatkan Pemahaman Masyarakat Terkait Covid-19

Peserta diharapkan dapat menyerap ilmu dari narasumber sehingga dapat diaplikasikan untuk diri sendiri, keluarga, komunitas, dan masyarakat secara luas. “Mahasiswa sebagai agen perubahan dan generasi solutif diharapkan dapat menjadi penggerak adaptasi kebiasaan baru di masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Consultant for Development (C4D) Specialist UNICEF Rizky Syafitri menyampaikan bahwa sebelum ditemukannya vaksin, satu-satunya cara untuk keluar dari krisis ini adalah dengan memastikan kita dan masyarakat patuh pada protokol kesehatan, dan menurutya hal ini bukan perkara yang mudah. Promosi kesehatan yang dilakukan oleh relawan saat ini akan sangat berdampak pada perubahan perilaku masyarakat.

Memberikan informasi saja belum cukup untuk mengubah perilaku masyarakat, Diperlukan alat dan juga teknik agar dapat dipahami oleh masyarakat. “Teknik yang akan disampaikan oleh Pak Risang akan sangat bermanfaat, baik dalam kegiatan kerelawanan, memberi promosi kesehatan, dan juga interaksi dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Rizky yang juga bergabung dalam Tim Komunikasi Publik GTPPC-19.

Sekretaris Jenderal ISMKI Nauval Fariz Damas menyampaikan bahwa program kerelawanan belum selesai. Webinar ini menurutnya sebagai sarana refreshment terutama dalam hal komunikasi.

“Selalu jaga semangat, terutama semangat kerelawanan. Mari kita berkonstribusi untuk negara dalam rangka penyelesaian Covid-19,” ungkap Nauval yang juga menjadi Tim Pengelola RECON.

Hadir sebagai pemateri, Konsultan C4D UNICEF Indonesia Risang Rimbatmaja. Menurutnya salah satu kesalahan umum yang dilakukan orang saat berkomunikasi adalah perbedaan persepsi terhadap topik yang sedang dibicarakan. “Dalam menjawab pertanyaan orang, harus tepat sesuai dengan hal yang ditanyakan oleh orang tersebut,” ungkapnya.

baca juga : Sekelumit Dinamika Komunikasi Publik Selama Dua Bulan Pandemi COVID-19

Risang menjelaskan bahwa Komunikasi bukan hanya masalah menyampaikan atau mendengarkan pendapat, tetapi juga masalah memahami pendapat orang lain. Setiap manusia pasti memiliki “pagar” yang terbentuk dari pemikiran mereka, namun sebagai edukator harus mampu meyakinkan mereka dan membuat mereka membuka “pagar” yang mereka bentuk. Sehingga dapat menyampaikan materi edukasi diinginkan. Dengan begitu konten edukasi yang diberikan dapat sesuai dan menjawab keresahan dari target edukasi.

Selanjutnya peserta seminar akan memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka sebagai bentuk implementasi dari materi yang telah didapatkan dalam seminar ini. Hal tersebut merupakan bukti nyata gotong royong masyarakat dalam menekan angka penyebaran Covid-19 diawali dari lingkungan sekitar mereka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. (AF/KV/AP/YH/DZI/FH/DH/NH)

Humas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Tim RECON
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Foto: Fiqi Aulia Ramadhan