KORANMAKASSAR.COM — Ada masa ketika musik rock bukan sekadar hiburan, melainkan sikap hidup. Di era itu, gitar berdistorsi, lirik penuh perlawanan, dan panggung yang berdebu menjadi bahasa generasi.
Di sanalah The Rolling Stones hadir—sebagai suara jalanan, simbol kebebasan, dan denyut zaman yang tak pernah benar-benar berlalu.
The Rolling Stones lahir di London, 1962. Saat dunia masih terbelah oleh perang dingin dan anak muda mencari identitas, Mick Jagger dan Keith Richards mempertemukan cinta mereka pada blues Amerika.
Dari Muddy Waters, Chuck Berry, hingga Howlin’ Wolf, mereka meramu suara mentah yang kemudian menjelma menjadi rock and roll paling berbahaya pada masanya.
Di radio-radio tua dan piringan hitam yang berputar pelan, lagu seperti Satisfaction terdengar seperti teriakan generasi yang muak pada kepalsuan.
Baca Juga : Chris Cornell: Suara Abadi Grunge yang Menjadi Legenda Dunia Rock
Paint It Black membawa nuansa gelap yang jujur, sementara Angie mengalun lirih di kamar-kamar sunyi, menemani patah hati yang tak terucap.
Tahun 1970-an adalah musim panas abadi bagi The Rolling Stones. Album Sticky Fingers dan Exile on Main St. bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan catatan perjalanan hidup—tentang cinta, dosa, pelarian, dan kebebasan. Musik mereka terasa kotor, penuh debu, namun jujur. Seperti jalan panjang yang dilalui tanpa peta.
Mick Jagger dengan gerakan panggungnya yang liar, Keith Richards dengan gitar yang seolah berbicara, Charlie Watts yang setia menjaga irama, dan Bill Wyman yang membumi—mereka bukan sekadar band, tetapi keluarga dengan segala luka dan pertengkarannya.
Waktu memang tak pernah berhenti. Brian Jones pergi terlalu cepat, Charlie Watts menyusul dalam keheningan, namun The Rolling Stones tetap berdiri.
Rambut memutih dan wajah berkerut tak pernah mampu memadamkan api rock and roll yang mereka nyalakan puluhan tahun silam.
Bagi generasi lama, The Rolling Stones adalah kenangan—tentang kaset pita yang kusut, konser yang hanya bisa dibayangkan lewat majalah musik, dan lagu yang diputar diam-diam saat malam kian larut.
Bagi generasi baru, mereka adalah pengingat bahwa musik pernah lahir dari kegelisahan, bukan sekadar algoritma.
The Rolling Stones mengajarkan satu hal sederhana: rock and roll bukan tentang usia, melainkan keberanian untuk tetap jujur pada diri sendiri.
Seperti lagu lama yang tak pernah basi, mereka terus bergulir—menemani kenangan, melawan lupa, dan menjaga jiwa musik agar tetap hidup.
Karena pada akhirnya, batu yang terus bergulir memang tak akan pernah ditumbuhi lumut. (*)

