KORANMAKASSAR.COM — Orang tua mana yang tidak cemas ketika melihat anaknya susah makan? Porsi yang sedikit, banyak makanan yang ditolak, hingga berat badan yang terasa sulit naik sering menjadi sumber kekhawatiran. Namun sebelum panik, penting untuk memahami bahwa nafsu makan anak bisa naik turun, dan ada banyak cara lembut yang bisa dilakukan orang tua di rumah.
Berikut beberapa tips menghadapi anak yang kurang makan dengan cara yang lebih tenang, sabar, dan tetap efektif.
1. Pastikan Dulu: Benar-Benar Kurang Makan, atau Hanya Pilih-Pilih?
Kadang anak terlihat “kurang makan” padahal sebenarnya ia hanya sedang:
- Lebih suka jenis makanan tertentu (misalnya hanya mau nasi dan telur).
- Makan sedikit tapi sering.
- Sedang dalam fase pertumbuhan yang melambat, sehingga kebutuhan makannya berkurang.
Orang tua bisa memperhatikan:
- Berat badan dan tinggi badan anak: apakah masih dalam batas normal sesuai usia?
- Aktivitas anak: masih lincah, ceria, dan tidak mudah lemas?
Jika pertumbuhan dan aktivitasnya masih baik, mungkin masalahnya bukan di jumlah makan, tetapi di variasi makanan.

2. Ciptakan Suasana Makan yang Nyaman dan Menyenangkan
Anak mudah terpengaruh suasana. Jika waktu makan penuh dengan omelan, paksaan, atau ancaman, anak bisa makin menolak makan.
Coba lakukan:
- Makan bersama keluarga tanpa TV atau gadget.
- Hindari membentak atau memarahi saat anak menolak makan.
- Jadikan waktu makan sebagai momen ngobrol santai, bukan “medan perang”.
Anak yang merasa nyaman cenderung lebih mudah menerima makanan.
3. Hindari Memaksa dan Mengejar-Ngejar Anak Saat Makan
Memaksa anak menghabiskan makanan justru bisa menimbulkan trauma makan. Anak bisa semakin menolak makan dan menjadikan jam makan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Lebih baik:
- Tawarkan makanan dalam porsi kecil dulu, jika habis boleh tambah.
- Beri waktu makan sekitar 20–30 menit. Jika tidak habis, jangan dipaksa, piring diangkat dengan tenang.
- Konsisten dengan jadwal makan dan cemilan, supaya anak belajar rasa lapar dan kenyang secara alami.
4. Atur Jadwal Makan dan Cemilan
Anak yang terlalu sering ngemil—apalagi makanan manis dan minuman manis—sering kali jadi kurang selera makan di jam utama.
Tips pengaturan jadwal:
- 3 kali makan utama (pagi, siang, malam).
- 1–2 kali cemilan sehat di antara jam makan (buah, roti, yoghurt, biskuit sehat).
- Hindari cemilan berat atau minuman manis mendekati jam makan.
Dengan begitu, anak datang ke meja makan dalam kondisi cukup lapar.
5. Sajikan Makanan dalam Bentuk yang Menarik
Anak-anak sering tertarik dulu dengan tampilan sebelum rasa. Orang tua bisa sedikit “berkreasi”:
- Bentuk nasi dengan cetakan lucu (bintang, hati, wajah).
- Potong sayur dan lauk dalam ukuran kecil dan mudah digigit.
- Kombinasikan warna (wortel oranye, brokoli hijau, telur kuning, nasi putih) agar tampak menarik di piring.
- Gunakan piring dan sendok bergambar karakter favorit anak.
Hal sederhana seperti ini bisa meningkatkan minat anak untuk mencoba.
Baca Juga : Wakil Walikota Makassar Tekankan Pentingnya Kolaborasi dalam Program Gizi Nasional
6. Libatkan Anak dalam Proses Menyiapkan Makanan
Anak yang merasa “punya andil” dalam membuat makanan biasanya lebih tertarik untuk mencicipinya.
Contoh yang bisa dilakukan:
- Ajak anak memilih menu (“Hari ini mau makan ayam atau ikan?”).
- Biarkan anak membantu tugas mudah, seperti mencuci sayur, menyusun buah, atau menata piring.
- Minta anak menghias roti, nasi bento, atau salad dengan cara yang ia suka.
Dari proses itu, anak akan merasa bangga dan lebih tertarik makan “karyanya sendiri”.
7. Beri Contoh, Bukan Hanya Perintah
Anak adalah peniru ulung. Sulit mengharapkan anak mau makan sayur jika orang tuanya sendiri tidak pernah menyentuh sayur.
Karena itu:
- Tunjukkan bahwa Ayah dan Ibu juga makan sayur, buah, dan makanan sehat lainnya.
- Jangan terlalu sering menunjukkan wajah “tidak suka” pada jenis makanan tertentu di depan anak.
- Biasakan makan bersama agar anak bisa melihat langsung contoh dari orang dewasa di rumah.

