Fakta dan Peluang Paling Menarik KEK Batam Aero Technic (BAT) Terluas ke-2 di Dunia dan Menyerap Tenaga Kerja 10.000 Orang

  1. BAT dapat menyerap tenaga kerja berkisar 10.000 orang pada 2030 (proyeksi daya serap 800 – 1.000 orang setiap tahunnya).
  • Membutuhkan tenaga kerja terampil: teknisi pesawat terbang, insinyur/ teknisi pesawat terbang dan pekerja (profesi) MRO lainnya. Seiring berkembangnya industri aviasi di Indonesia, permintaan tenaga kerja terampil di BAT semakin meningkat.
  • Memperluas lapangan kerja: BAT berkembang di Indonesia, terdapat peluang memperoleh lapangan kerja, terutama bagi lulusan pendidikan vokasi dan teknik unggul di aviasi. Nantinya, dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.
  • Memperkuat industri aviasi dalam negeri: maskapai di Indonesia dapat memperoleh layanan perawatan dan perbaikan pesawat di BAT dengan biaya lebih terjangkau. Berdampak kontributif permintaan tenaga kerja terampil di bidang ini.
  • Mendorong pengembangan sumber daya manusia: kesempatan mengembangkan sumber daya manusia di transportasi udara, seperti melalui pelatihan dan program magang. Tujuan utama ialah meningkatkan kualitas tenaga kerja dan daya saing industri MRO Indonesia – BAT secara global.
Site Visit KEK Batam Aero Technic (1)
  1. Pengembangan BAT dapat menghemat devisa 30%-35% dari kebutuhan MRO maskapai penerbangan nasional senilai Rp 26 triliun per tahun yang selama ini mengalir ke luar negeri.
  • Mengurangi biaya operasional maskapai penerbangan: maskapai dalam negeri dapat mendapatkan layanan perawatan dan perbaikan pesawat dengan biaya lebih terjangkau daripada harus mengirimkan pesawat mereka ke luar negeri. Keuntugannya, dapat menekan biaya operasional airlines dan membantu menjadi lebih kompetitif.
  • Mengurangi biaya impor: Sebelum adanya industri MRO berkembang di Indonesia, maskapai Indonesia harus mengimpor suku cadang dan peralatan dari luar negeri untuk tahapan perawatan dan perbaikan pesawat. Layanan MRO BAT ada nilai lebih yaitu impor suku cadang dan peralatan dapat dikurangi, sehingga menghemat devisa yang sebelumnya keluar dari Indonesia.
  • Meningkatkan pendapatan devisa: BAT terus berkembang di Indonesia, negara dapat menarik maskapai dari luar negeri untuk merawat pesawat di BAT. Langkah ini turut menambah pendapatan devisa bagi Indonesia, karena maskapai asing harus membayar biaya dari penggunaan fasilitas BAT – MRO di Indonesia.

baca juga : Dukung Pemulihan dan Pengembangan Industri Penerbangan, Batam Aero Technic Terus Mengembangkan Kapabilitas sebagai KEK

  1. Kemampuan dan kapabilitas BAT jangka menengah serta mendatang diharapkan mendukung dan memenuhi pasar Asia Pasifik yang tumbuh, diprediksi rata-rata (kisaran) 12.000 unit pesawat udara dengan nilai bisnis berkisar US$ 100 miliar pada 2025.
  2. Batam Aero Technic saat ini mampu perawatan kecil, sedang dan besar (A Check, C Check), mingguan, layanan tertentu dan transit pada jenis pesawat: · Airbus 320 series, · Boeing 737 series, · Airbus 330 series, · Hawker 800/ 900 XP, · ATR 72 500/ 600, dan · tipe pesawat lainnya.
  3. Telah memperoleh sertifikat resmi MRO dari · Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia (Directorate General of Civil Aviation (DGCA)); · The Civil Aviation Authority of Thailand (CAAT); · The Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM); · The United States Department of Transportation (USDOT or DOT) Director of Civil Aviation – Amerika Serikat, Director of Civil Aviation Bailiwick of Guernsey (Eropa) dan · The Federal Aviation Administration US – Amerika Serikat. Sertifikasi dari lembaga lainnya sedang proses.

BAT menyampaikan rasa terima kasih atas terbentuknya sebagai KEK di Batam, terkonsentrasi menjalankan perluasan usaha dengan tujuan sinergi positif sektor transportasi udara. Iklim usaha yang diciptakan oleh pemerintah sangat mendukung pertumbuhan dan pengembangan di Indonesia. Menegaskan, pelaku usaha dibidang industri penerbangan khususnya jasa angkutan udara sangat merasakan bantuan dan dukungan dari pemerintah dalam rangka pengembangan dan pertumbuhan bidang usaha industri penerbangan. (*)